Kata Siapa Ziarah Makam itu Bid’ah

Penulis: Muhammad Hamdi, S.Sy*

Aktivitas ziarah makam Nabi Muhammad SAW dibid’ahkan oleh sebagian kelompok. Dalam banyak literaturnya, mereka sering sekali mengembalikan alasan bid’ah tersebut pada status dalil yang melatarbelakanginya. Mereka mengklaim tidak ada hadits yang kuat untuk melegitimasi sunnahnya ziarah makam nabi. Pada artikel ini, akan disebutkan komentar para pakar tentang hadits-hadits tersebut. Benarkah semuanya dhoif? Akankah tidak ada peluang sama sekali terangkat menjadi hasan atau shohih? Benarkah tidak ada satupun al-Hafidz yang menilainya positif?

Hadits Pertama;

 مَنْ زَارَنِيْ وَ زَارَ أبِيْ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ عَامٍ وَاحِدٍ ضَمَنْتُ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang menziarahiku dan ayahku (yakni Ibrahim) dalam tahun yang satu, maka aku menjamin baginya surga”.

Menurut pernyataan Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam Zarkasyi dan Syaikh Sulaiman al-Jamal hadits tersebut statusnya adalah maudhu’ (palsu). Namun bukan berarti mereka mengingkari kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah SAW. Berikut pernyataan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzzab hal 277 juz 8 setelah beliau mengomentari hadits tersebut:.

مِمَّا شَاعَ عِنْدَ الْعَامَّةِ فِي الشَّامِ فِيْ هذِهِ الْأَزْمَانِ الْمُتَأَخِّرَةِ مَا يَزْعَمُهُ بَعْضُهُمْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (مَنْ زَارَنِيْ وَزَارَ أَبِيْ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ عَامٍ وَاحِدٍ ضَمَنْتُ لَهُ الْجَنَّةَ) وَهذَا بَاطِلٌ لَيْسَ هُوَ مَرْوِيًّا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ يُعْرَفُ فِيْ كِتَابٍ صَحِيْحٍ وَلاَ ضَعِيْفٍ بَلْ وَضَعَهُ بَعْضُ الْفَجَرَةِ وَزِيَارَةُ الْخَلِيْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضِيْلَةٌ لاَ تُنْكَرُ إِنَّمَا الْمُنْكَرُ مَا رَوَوْهُ وَاعْتَقَدُوْهُ وَلاَ تُعَلَّقُ لِزِيَارَةِ الْخَلِيْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَجِّ بَلْ هِيَ قُرْبَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ وَاللهُ أَعْلَمُ

Diantara kabar populer dikalangan orang awam Syam pada zaman akhir ini adalah apa yang diasumsikan oleh sebagian orang bahwasannya Rasulullah SAW telah bersabda “barang siapa berziarah kepadaku dan kepada bapakku Ibrahim dalam tahun yang sama maka saya menanggung baginya surga” ini adalah bathil, ini tidak diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW dan tidak dikenal dalam kitab shohih atau dho’if bahkan sebagian al-Fajaroh memaudhu’kannya. Adapun ziyaroh Nabi SAW al-Kholil merupakan sebuah keutamaan yang tidak boleh di ingkari. Adapun yang wajib diingkari hanyalah apa yang mereka riwayatkan dan mereka yakini (tentang hadits tersebut). Ziyaroh makam Nabi SAW tidak di gantungkan dengan haji melainkan ibadah tersendiri, wallaahua’lam’’

(baca juga: Puasa Tetap Sah, Pahalah Hangus)

Bahkan pada kitab yang sama tetapi halaman yang berbeda ( 272 juz 8 ) beliau berkata :

(وَيُسْتَحَبُّ زِيَارَةُ قَبْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ) (وَاعْلَمْ) أنَّ زِيَارَةَ قَبْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أهَمِّ الْقُرُبَاتِ وَأنْجَحِ الْمَسَاعِيْ فَإذَا انْصَرَفَ الْحُجَّاجُ وَالْمُعْتَمِرُوْنَ مِنْ مَكَّةَ أُسْتُحِبَّ لَهُمْ إِسْتِحْبَابًا مُتَأكِّدًا أنْ يَتَوَجَّهُوْا إِلَى الْمَدِيْنَةِ لِزِيَارَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَنْوِي الزَّائِرُ مَعَ الزِّيَارَةِ التَّقَرُّبَ وَشَدَّ الرَّحْلِ إِلَيْهِ وَالصَّلاَةَ فِيْهِ

“Disunnahkan ziyaroh ke makam Rasulullah SAW karena hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda “barang siapa yang berziyaroh ke makamku maka wajib baginya syafa’atku”. Ketahuilah bahwa ziyaroh makam Rasulullah SAW merupakan paling pentingnya cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan paling suksesnya perjalanan. Maka jika orang-orang yang berhaji dan umroh telah beranjak dari Makkah, sangat disunnahkan bagi mereka menuju Madinah untuk ziyaroh ke makam Rasulullah SAW. Selain berniat ziyaroh, bagi mereka dianjurkan juga berniat taqorrub, berniat melakukan perjalanan ke sana (syaddurrihal) dan sholat disana”.

Begitu pula dengan Imam as-Syaukani, walaupun beliau setuju akan kemaudhu’an hadits tersebut, namun beliau memberi pernyataan tentang hadits-hadits lain tentang ziyarah makam Rasulullah SAW bahwa antara satu hadits dengan yang lain saling menguatkan. Berikut komentar beliau dalam al Fawa’idul Majmu’ah fi al Ahadits al Maudhu’ah hal 117 juz 1: 

حَدِيْثُ منْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ قَالَ فِي الْمَقَاصِدِ إِنَّ ابْنَ خُزَيْمَةَ أشَارَ إِلَى تَضْعِيْفِهِ وَرَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِلَفْظِ كَمَنْ زَارَنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ وَضَعَّفَهُ وَقَالَ إِنَّ طُرُقَهُ كُلَّهَا لَيِّنَةٌ لَكِنْ يُقَوِّيْ بَعْضُهَا بَعْضًا

“Hadits مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ dikomentari dalam kitab al-Maqoshid bahwasannya Ibnu Khuzaimah berisyaroh akan kedhoifannya. Imam al-Baihaqi meriwayatkanya dengan lafadz كَمَنْ زَارَنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ dan beliau mendhoifkannya. Beliau (al-Baihaqi) berkata : “sesungguhnya semua jalan periwayatan hadits tersebut lemah tetapi sebagian hadits menguatkan sebagian yang lain”.

Hadits Kedua;

 مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ

“Barang siapa menziarahi kuburku, maka wajib baginya syafa’atku”

Dalam Faidhul Qodir hal 181 juz 6, Imam al-Munawi mengutip pernyataan Imam ad-Dzahabi, Ibnu Hajar al-Asqollani dan ulama’ lainnya tentang status hadits diatas. Menurut Imam ad-Dzahabi, jalan periwayatan hadits tersebut lemah namun saling dikuatkan oleh hadits yang lain. Sedangkan menurut Ibnu Hajar al-Asqollani, hadits tersebut adalah hadits ghorib yang disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya. Bahkan pada akhir pembahasannya ditegaskan kalau penilaian maudhu’ dari Ibnu Taimiyyah tidak bisa dibenarkan. Dalam kitab al-Badrul Munir hal 296 dijelaskan demikian :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوْعًا : «مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ» وَهَذَا إِسْنَادٌ جَيِّدٌ ، لَكِنَّ مُوْسَى هذَا قَالَ أَبُوْ حَاتِمٍ الرَّازِيّ بَعْدَ أَن ذَكَرَ أَنَّ جَمَاعَةً رَوَوْا عَنْهُ : هُوَ مَجْهُوْلٌ .

“Diriwayatkan Ibnu Umar secara marfu’ “barang siapa berziarah ke makamku maka wajib baginya syafaatku“. Hadits ini sanadnya jayyid (bagus), tetapi perowi yang bernama Musa ini menurut Abu Hatim (setelah menyebutkan segolongan ulama yang meriwayatkan darinya) statusnya majhul (tidak diketahui)”.

Berikut pernyataan Imam Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Talkhishul Habir hal 569 juz 2 :

وَأَمَّا الثَّانِي فَرَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ مُوسَى بْنِ هِلَالٍ الْعَبْدِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ بِلَفْظِ “مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي” وَمُوسَى قَالَ أَبُو حَاتِمٍ مَجْهُولٌ أي الْعَدَالَةِ [وَبَقِيَّةُ الْإِسْنَادِ ثِقَاتٌ] وَرَوَاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيْحِهِ مِنْ طَرِيْقِهِ

“Adapun hadits yang kedua juga diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari haditsnya Musa bin Hilal al-Abdi dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar dengan lafadz مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي . Abu Hatim berkata : Musa statusnya tidak diketahui keadilannya (adapun sanad yang lain semuanya dipercaya) dan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya dari jalan Musa“.

Menurut Abu Hatim perowi yang bernama Musa bin Hilal al-Abdi tidak diketahui keadilannya, namun hal ini bisa dijawab dengan penjelasan Syaikh Muhammad Abdul Hayyi al-Laknawi al-Hindi dalam kitabnya ar- Rof’u wattakmil fil Jarhi watta’dil hal 229 juz 1 berikut :

لَمْ يُقْبَلْ قَوْلُ أبِيْ حَاتِمٍ فِيْ حَقِّ مُوْسَى بْنِ هِلاَلٍ الْعَبْدِي أحَدُ رُوَاةِ حدَيْثِ مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ إِنَّهُ مَجْهُوْلٌ لِثُبُوْتِ رِوَايَاتِ الثِّقَاتِ عَنْهُ

“Pernyataan Abi Hatim pada diri Musa bin Hilal al Abdi – salah satu perowi-perowi hadits مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهْ شَفَاعَتِيْ – bahwasannya dia majhul, tidak bisa diterima sebab banyak perowi-perowi terpercaya yang meriwayatkan darinya”.

Dari uraian di atas bisa disimpulkan:

pertama, Menurut para pakar hadits, seperti Imam Nawawi, ziarah makam nabi hukumnya adalah sunnah, sebab termasuk dalam ritual ibadah yang sangat penting.

kedua, Sebagian hadits tentang ziarah nabi memang statusnya maudhu’ (pulsa), namun ternyata ada hadits lain yang sanadnya bagus.

Wallaahu ‘a’lam bisshowab.

*Penulis adalah Staff Pengajar BMK MA Unggulan Nuris

Related Post