Mama sayang tidak sama Sora ?

Oleh :  Lia khoiriyah

Gertakan petir yang menyambar kembali menggegerkan bumi ini, langit kelam itu tampak sangat hitam terselubungi pekatnya awan, air hujan turun tak terhitung jumlahnya, dinginnya malam begitu menyengat tubuh Yunita membuatnya semakin menggigil, bibirnya yang merah merekah berubah menjadi biru pucat akibat dingin yang menyerangnya, air hujan terus mengguyur tubuhnya besama kekasih tercintanya “Rico”, saking dinginnya, akhirnya keduanya pun memutuskan untuk berteduh di rumah penduduk sekitar atapun gubuk, tapi hasilnya nihil! karna telah larut malam tak ada satu pun  rumah warga yang masih terlihat terang, tak ada pilihan lain, Rico pun terpaksa mendaratkan motor besarnya pada rumah kosong yang terletak agak jauh dari rumah penduduk yang lain, awalnya Yunita ragu akan keputusan itu, tapi Rico memberikannnya sebuah kepastian untuk selalu menjaganya dan akhirnya Yunita pun menuruti nya.

Setelah memasuki rumah itu, keduanya terduduk termenung di atas sofa ruang tamu sembari melihat keadaan rumah itu, perabotnya masih sangat layak dipakai, tapi kenapa rumah itu ditinggalkan begitu saja? pertanyaan itu terus menggelayut di benak Yunita yang masih kedinginan. Hanya ada mereka berdua di dalam sana, mereka adalah sepasang kekasih yang di landa cinta penuh ambara, ini termasuk peluang besar bagi syetan untuk menggoda iman mereka, bujukan demi bujukan yang syetan lakukan dengan memakai jurus mautnya, akhirnya syetan berhasil menghasut fikiran Rico yang semula tak tersirat sedikit pun rasa untuk melakukan hal yang sangat tidak wajar itu, tiba-tiba nafsu birahi Rico membutakan hati dan fikirannya, dengan rayuan gombalnya ia berhasil mengelabuhi Yunita yang masih saja kedinginan itu, keduanya terjerumus dalam jeratan gelapnya jurang. Perbuatan haram itu telah di lakukan oleh mereka tanpa memikirkan akibat di hari esok, janji Rico adalah akan bertanggung jawab atas janin yang akan tumbuh di dalam rahim Yunita, tapi ternyata………

“Fitnah!! itu bukan anak gue, gue nggak mungkin ngelakuin hal keji itu, gue nggak akan bertanggung jawab!” gertak Rico geram mengelak kenyataan yang ada. Yunita tersedak mendengar hal itu, tak di sangka pria idamannya akan menghianati cinta nya yang sampai-sampai ia rela memberikan kehormatannya demi membuktikan cinta tulusnya. Yunita terus mendesak Rico berharap ia mau bertanggung jawab atas perbuatannya dan mau menikahinya, tapi takdir berkata lain, Rico tetap dalam pendiriannya, setelah kejadian itu Rico pergi jauh dari kehidupan Yunita untuk selamanya dan tak pernah muncul lagi di hadapan Yunita yang batinnya masih tersiksa. Yunita sangat menyesali perbuatannya di malam itu, dan ia sangat terpukul menerima kenyataan pahit yang di deritanya.

“Aku akan menjadi ayah dari anak itu” ucap Aldo pria yang telah lama mencintainya itu mengejutkan hatinya, ya dialah Aldo seorang anak bangsawan yang berparas sendu dan cakep itu sanggup menikahinya meskipun Yunita telah hilang keperawanannya, tak ada jalan lain, Yunita pun akhirnya mau menikah dengan nya.

Hari demi hari telah dilaluinya bersama Aldo suka maupun duka, rasa sayangnya telah tumbuh untuk Aldo seorang, hingga suatu ketika……..

“Oek oek oek…..”terdengar suara tangis bayi membuat lega di hati keluarga Yunita dan Aldo, Aldo senang bukan kepalang, di gendongnya putri pertamanya itu dengan penuh kasih sayang, Aldo memberikannya sebuah nama yang sangat cantik sesuai dengan paras putrinya “Sora”, Aldo menyayangi Sora dengan tulus meskipun itu bukan anak kandunganya sendiri. Tahun demi tahun Sora telah tumbuh menjadi anak yang sangat cantik dan cerdas, keanehan yang terjadi pada Yunita baru terkuak ketika Sora menginjak umur 6 tahun, ketika itu Sora meminta Yunita untuk menemaninya tidur untuk satu kali ini saja karena memang Yunita selalu menolak ajakan Sora. Sora menangis atas penolakan Yunita, dia iri pada teman sebayanya yang mendapatkan kasih sayang yang lebih dari seorang mama dan hal itu tidak pernah didapatkannya, padahal Sora sangat menyayangi Yunita melebihi dirinya sendiri, Sora berjanji akan menjadi anak yang baik demi mendapatkan kasih sayang yang selama ini didambakannya.

“mama, kenapa mama tidak mau tidur bersama Sora ? apa Sora anak yang nakal ?” tanyanya polos, Yunita semakin kesal mendengar hal itu semua,,

“udah tidur sendiri aja, mama lagi nggak mood untuk tidur sama kamu!” tegas Yunita yang kemudian meninggalkan Sora yang masih berdiri depannya, Sora melihat kepergian Yunita sampai tak terlihat lagi di matanya dengan raut wajahnya yang melas, dalam hatinya ia berdo’a: ”Ya Allah… kenapa mama tidak mau tidur sama Sora Ya Allah… apa mama membenci Sora? Ya Allah semoga mama sayang Sora, amin….” Sora sangat ingin permintaannya itu segera terwujud tapi entah kapan itu semua akan di raihnya.

Pagi yang cerah secerah raut wajah Sora yang begitu menggemaskan, dengan langkahnya yang semangat Sora berjalan menuju mobil Aldo yang tengah menunggunya untuk segera berangkat menuju sekolah TK nya, Aldo tersenyum bangga ketika melihat putrinya itu telah rapi, apalagi  Sora melakukannya dengan sendiri tanpa bantuan Yunita,,

“Papa,,,Sora siap” sapa Sora dengan logat kekanak-kanakannya yang masih khas, Aldo tersenyum melihat Sora yang rambutnya diikat dua itu,,

“Mama, Sora berangkat dulu ya,,,?” ucap Sora sembari menyodorkan tangan mungilnya berharap Yunita mau membalasnya, karna tempo hari Yunita selalu menolak untuk bersalaman dengan nya,,

“tangan mama kotor, udah cepet berngkat sana!” ketusnya yang kemudian masuk kedalam rumah, melihat hal itu Aldo kecewa berat, Yunita tidak mau mengasihi Sora sedikit pun, padahal anak kecil seusia Sora itu masih sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang mama, apalagi Sora masih TK dimana lumrahnya para ibu menemani anaknya di sekolah tapi hal ini tidak di dapat oleh Sora, begitu kuatnya hati Sora itu. Mobil Aldo melaju menuju sekolah Sora yang terletak agak jauh dari rumahnya, tak lama kemudian keduanya pun tiba di sekolah itu.

“Pa,,, enak ya teman-teman Sora ditemani mamanya, Sora ingin seperti mereka Pa, tapi kapan ya,,,?” pertanyaan itu membuat hati Aldo terenyuh, Aldo berusaha menghiburnya agar Sora tidak bersedih, dan….berhasil, setelah mengantarkan Sora Aldo pun bergegas menuju kantornya yang bisnisnya lagi berkembang pesat dan sangat tenar. Di sisi lain Yunita sedang menangis tersedu-sedu di blangkon rumahnya sambil memandang foto mungil Sora,,

“Sora… maafin mama yang selalu membentak mu nak…. sebenarnya mama juga tidak tega terus-terusan begini, dan mama juga tidak membencimu, tapi mama selalu ingat bayangan Rico ketika mama melihat wajahmu nak,,, maafin mama nak…” isak Yunita menyesali perbuatannya.

Pelajaran Sora di hari itu adalah menceritakan kepribadian dari seorang mama, kebetulan Sora mendapatkan urutan no 10, ia mendengarkan dengan betul cerita dari teman-temannya yang lain, sesekali ia berdo’a agar ia juga sama seperti yang dialami teman-temannya entah itu kapan, tak lama kemudian gilirannya lah untuk menceritakan sosok mamanya, dengan santai Sora pun maju kedepan kelasnya,,,

“mama Sora…..” tiba-tiba Sora terdiam sejenak, bayangan wajah Yunita terlintas di benaknya, lalu Sora pun melanjutkan ceritanya yang sempat terputus sesaat,,

“mama Sora orangnya sangat baik dan sanga menyayangi Sora, Sora setiap hari juga di suapin sama mama”terangnya yang kemudian duduk di bangkunya kembali,,,

“kok mama Sora tidak pernah menemani Sora di sekolah?” celetuk teman sebangku Sora mengagetkannya,,

“Ooh,, mama Sora lagi sibuk, jadi mama Sora tidak sempat menemani Sora” jawabnya berbohong demi menjaga nama baik Yunita agar tidak tercoreng.

Sepulang sekolah Sora langsung merebahkan tubuh mungil nya di kasur empuknya, seluruh kamar Sora terdominasi warna pink yang bercorak anak kecil, di kasurnya terdapat banyak sekali boneka-boneka lucu yang sengaja di belikan oleh Aldo sebagai teman bermain, belajar dan tidur nya. Kira-kira sekitar jam 4 sore, Sora terbangun dari tidur siangnya, ia berjalan menuju luar kamarnya dengan  heran karena melihat keadaan sekeliling rumahnya begitu sepi, Aldo langsung kembali ke kantornya setelah menjemput Sora seperti biasa, sedangkan Yunita entah dimana ia sekarang  berada, Sora mencoba ke kamar Aldo dan Yunita untuk memastikan mamanya berada disana, dan ternyata benar, dilihatnya Yunita sedang terbaring lemah dengan selimut tebal yang membalutnya, Sora mendekati Yunita yang pucat itu, dengan tanggap Sora langsung memijat Yunita dengan lembut, Sora khawatir akan kondisi Yunita saat ini, lalu Sora pun memberanikan diri untuk menanyakan hal itu pada Yunita,,

“mama sakit ya..? biar Sora pijitin ya ma.. biar cepet sembuh,,” ucapnya dengan terus memijit Yunita,,

“udah kamu keluar sana, mama mau istirahat, katannya pingin mama cepat sembuh” ucap ketus Yunita bermaksud mengusir Sora, demi kesembuhan Yunita, Sora pun menuruti keinginan Yunita untuk segera keluar dari kamarnya.

Sora menunaikan sholat ‘ashar di kamarnya, setelah menunaikan sholatnya Sora pun bermunajat kepada Allah.,”Ya Allah,,, lindungilah dan kasihanilah papa Aldo dan juga mama Yunita ya Allah, soalnya Sora sangat menyayangi mereka semua Ya Allah, Ya Allah sembuhkanlah mama dari sakit yang menimpanya agar Sora bisa melihat senyum mama walaupun dari jauh, biarkan Sora saja yang menggantikan mama sakit Ya Allah, asalkan mama sembuh, Ya Allah semoga mama sayang Sora,, amin..”. Do’a pada kalimat terakhir itulah yang selalu diselipkannya setiap kali ia sholat. Di malam hari Sora kembali menjenguk Yunita yang telah terlelap di sisi Aldo, Sora mencium kening mamanya secara perlahan agar Yunita tidak terbangun,,

“yee aku udah nyium mama, ini yang pertama kalinya, terimakasih Ya Allah…” girang Sora dari lubuk hatinya yang paling dalam, setelah mencium kening Yunita, Sora pun mencium kening Aldo juga secara perlahan dengan penuh kasih sayang,,

“papa,,, Sora sayang papa, terimakasih papa telah mau berkorban banyak demi Sora,,”

Setelah keluar dari kamar orangtuanya Sora langsung melesat di kamarnya, tiba-tiba batuk dahsyat menyerangnya membuat langkahnya terhenti sejenak, tapi Sora mengabaikannya, ia menganggap batuk itu akan segera reda.

Hari demi hari telah di lalui Sora dengan mengibarkan bendera semangat di jiwanya, tapi anehnya batuk itu tak kunjung pergi dari Sora, rasanya batuk itu selalu ingin bersama Sora menemaninya dalam situasi apapun, Sora tak pernah menceritakan hal ini pada Aldo dan Yunita, karena takut mereka akan mencemaskan keadaannya. Rasa sakit pada dadanya kian merenggutnya di iringi batuk yang terus menyiksa dirinya, wajahnya berubah pucat pasi , sesekali ia menyeka air mata bening yang keluar dari matanya yang indah karna sakit yang di embannya begitu luar biasa, pernah suatu ketika ia mencoba menceritakan hal ini semua pada Yunita tapi tak mendapat respon apapun darinya. Tubuh Sora semakin kurus, batuk dan sakit pada dadanya semakin menggebunya, Sora semakin tak tahan untuk terus-terusan begini, ia pun menceritakan hal ini pada Aldo, mendengar keluhan Sora, Aldo pun panik bukan main, ia langsung membawa Sora ke rumah sakit untuk segera di rongsen, beberapa hari setelah Sora di rongsen, Aldo kembali ke rumah sakit untuk mengetahui hasilnya,,

“setelah kami teliti, ternyata paru-paru anak bapak telah rusak dan banyak celah akibat virus batuk yang sangat bahaya dan parahnya virus itu telah menyebar ke seluruh paru-paru anak bapak, ini semua akan menyebabkan kematian pada putri bapak secara cepat, bapak telat membawa anak bapak untuk segera di periksa, dan dengan sangat menyesal kami mohon maaf tidak bisa membantu dengan maksimal pada putri bapak” terang doktor Tiaf menyesal,. CETARR!!! bagai tersambar petir disiang bolong hati Aldo ketika mendengan hal itu semua, ia tersentak seketika, tak di sangka putri semata wayangnya yang begitu di cintainya harus berperang dengan penyakit ganas seperti itu, Aldo keluar dari ruangan doktor Tiaf dengan langkahnya yang benyai, ia terduduk lesu sembari bermujat:

Ya Allah, kenapa harus Sora yang menderita itu semua, padahal umurnya masih sangat belia, kenapa tidak hamba saja Ya Allah yang menanggung itu semua,,,

Aldo menggendong Sora pulang kerumahnya, Sora heran melihat wajah Aldo yang seperti itu, dengan polos ia pun mencoba bertanya pada Aldo,,

“papa kenapa? emangnya Sora sakit apa ?”

“nggak,, Sora nggak sakit apa-apa kok,,, Cuma batuk biasa, entar juga sembuh sendiri” jawab Aldo terpaksa berbohong,,

Sesampainya di rumah Aldo langsung menceritakan hal itu semua pada Yunita, entah kemasukan jin apa hatinya langsung terenyuh tersirami segarnya air hujan yang terhias pelangi setelahnya, Yunita menangis tersedu-sedu mendengar itu semua, ia menyesali perbuatannya selama ini pada Sora, ia berjanji akan merubah semua sifat-sifat buruknya dan akan memberikan kasih sayang yang selama ini di rindukan oleh Sora sebelum semuanya telah terlambat, Yunita sangat menyesal karena tempo lalu telah mengabaikan Sora ketika ia merintih kesakitan. Malam itu Yunita bermaksud tidur bersama Sora, Sora kegirangan mendengar hal itu semua, dengan lembut Yunita membelai rambut Sora sambil menyanyikan sebuah lagu “nina bobok” berharap Sora cepat terlelap.

Matahari telah terbit dari ufuk timur menyinari bumi ini yang semalaman suntuk telah gelap, Sora terbangun dari tidurnya dan langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kumel, setelah selesai dari mandi Sora langsung memakai seragam sekolahnya dan merias wajahnya, ketika Sora menyisir rambutnya tiba-tiba Yunita masuk dan langsung meraih sisir itu berniat menyisiri rambut Sora, Sora semakin bingung akan tingkah Yunita yang akhir- akhir ini terlihat agak aneh,,

“mama kok berubah?,,”pertanyaan itu membuat matanya berkaca-kaca

“masak nggak boleh sih sayang ?,,” jawab lembut Yunita sembari merapikan rambut Sora

“boleh kok ma,,,malahan Sora jadi seneng,,,banget,,”

Setelah siap, Yunita menemani Sora ke sekolah, waw,,!! suatu keberuntungan yang sangat bagi Sora, Aldo juga sangat bangga melihat perubahan drastis yang terjadi pada diri istrinya, meskipun ada rasa sedikit kecewa di hatinya karena kenapa Yunita berubah ketika detik-detik ajal Sora? kenapa bukan di hari-hari kemarin?

Setiba di sekolah Sora menggandeng mamanya dengan erat seolah tidak mau  terpisah dari mamanya, sepertinya ia telah merasakan akan ajal itu semakin dekat di depan matanya, kebetulan pelajaran Sora di hari itu adalah menceritakan sebuah cita-cita, Sora menempati urutan yang pertama, dengan percaya diri ia langsung menceritakan cita-citanya, kontan Yunita langsung terbangun dari duduknya untuk melihat Sora meskipun hanya lewat di kaca,,,

“Sora ingin menjadi dokter, biar Sora bisa mengobati mama dan papa Sora, pokoknya mama dan papa Sora harus selalu sehat, karena kalau papa dan mama Sora sakit,,, Sora jadi sedih,, ”terangnya membuat Yunita kembali terenyuh,,

andaikan kamu bisa meraih itu semua nak,, mama dan papa pasti sangat bangga pada mu Ya Allah jangan Kau ambil nyawa anakku saat ini, biarkan dia mengarungi indahnya dunia dahulu Ya Allah,, biarkan hamba menebus kesalahan hamba dahulu,, Ya Allah,,kuatkanlah hati hamba dan mas Aldo untuk menerima semua kenyataan ini dan juga kuatkanlah Sora untuk berperang melawan penyakit kronis itu,,tabahkanlah hati nya Ya Allah,,,” bisik hati Yunita yang berkecamuk rasa penyesalan yang amat dalam, tapi mau gimana lagi nasi telah menjadi bubur, roda dunia selalu berputar, ia tidak bisa memutar kembali waktunya demi Sora.

 

3 hari kemudian batuk dan rasa sakit itu kian mencengkeramnya membuatnya semakin tak berdaya. ”Uhuk uhuk uhuk” suara batuk itu menggegerkan Aldo dan Yunita, kontan mereka sangat panik ketika melihat Sora yang terkulai di lantai sambil memegangi dadanya yang sangat sakit. Aldo menggendong Sora dan di rebahkannya badan kecil Sora diatas sofa ruang tamu.

“mama papa maafin Sora ya,,,terimakasih atas semuanya” ucap  Sora membuat Aldo dan Yunita semakin panik bukan kepalang, Yunita menangis histeris melihat Sora yang merintih kesakitan,,

“Sora yang kuat ya nak,,Sora pasti sembuh kok,,”ucao Aldo berusaha menguatkannya,,

“maafin mama nak maafin mama,,” ucap Yunita yang kemudian mendekap tubuh Sora.

“ma..ma..pa..paa..Sora Sayang..ka..liaa..nn, ma..a..ppa ma..ma sa..yang..Sora..??” tanya Sora yang terbata-bata di detik –detik ajal menjemputnya, Yunita semakin histeris

“iya nak mama sayang Sora sayang,,”

“ma,,pa…, Sora..u.dah..ti..dak..kuat la..gi…, Sora…ud..ahh …ngant..uk..So..ra mau…ti..dur ajja..pa…ma…” nafas Sora semakin terengah-tengah, tangannya masih saja mendekap dadanya,,,

“ma….pa..” panggil Sora menghembuskan nafas terakhirnya, tangannya terlepas dari genggamannya matanya yang lebar semakin tertutup rapat terpejam meninggalkan dunia untuk selamanya, Aldo dan Yunita semakin histeris melihat Sora telah pergi meninggalkan mereka untuk selamaya,,

“Sora Sora bangun nak ,,, bangun,,ini mama,,” teriak Yunita tak karuan, tapi Sora telah pergi dengan tenang meninggalkan mereka dengan membawa kasih sayang yang sangat ia rindu semasa hidupnya dan itu semua telah ia dapat, Sora sangat bahagia mendapatkan itu semua yang merupakan hal terpenting di kehidupannya. Kini hanya ada Aldo dan Yunita di rumah itu tanpa ada kehadiran si cantik Sora yang sangat mandiri di tengah-tengah kehidupan mereka.

THE END

Related Post