Sajak Kopi Kongsi

Sajak Kopi Kongsi

Karya: Achmad Faizal*

Pagi yang sepi berkabut embun. Di lorong Kongsi, antara lereng Gunung Lemongan dan Gambir yang masih pulas. Sedang bau melati menyeruak menyapa relung hati yang lupa ingatan. Ini bekas tanah jajahan yang dipuja karena biji kopinya yang melegenda. Bukan. Karena kebijakan kerja rodi para menir, kita terpaksa melewati sejarah kelam. Tentang setapak makadam dan ribuan pekebun yang hilang tanpa nama. Sampai Dewi Rengganis menepi dan moksa di tepian Andungsari. Terhampar relief tentang perjalanan terakhir yang lepas.

(baca juga: Sumpah Pemuda Milenial)

Aku melihat bunga kopi yang memutih, memancarkan Desember yang hujan. Dan perlahan memulihkan ingatan soal tanah yang pernah dilewati Sakera. Dari Madura hingga setapal kuda, membela harga diri bangsa yang pedih. Dan sapi-sapinya tertambat kaku di pertigaan Kota Probolinggo.

(baca juga: Terimakasih Rohana Kuddus, Selamat Ki Hajar Dewantara)

Aku masih sangsi, tentang Kongsi yang kesepian pada lembah perjumpaan. Tanahnya hampir tak ada jalan selain ranum-ranum bunga serupa melati. Aku menggigil di antara prihatin dan takjub atas kuasa Tuhan di tanah ini. Di sisi kelam rodi yang menyiksa, ada mereka yang bahagia memanen hangat secangkir kopinya.

*Penulis adalah staff pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di MA Unggulan Nuris

 

Related Post