Eksperimen

Eksperimen

Oleh: Mausulur Rohman*

“Papa nggak mau ke kantor, udah siang lho !!”  Teriak Nadia istriku, seraya meniti tangga pergi ke kamar untuk membangunkanku.

“Aduh… Papa, udah siang nih!! Seru Nadia sembari menggoyang-goyangkan badanku.

“Ih, Mama ganggu  papa aja, lagi asyik ni mimpinya.”

“Tapi udah jam 7 Pa… sana cepet mandi! Nanti keburu dingin lo sarapannya,” bujuk istriku sehingga membuatku menurutinya.

****

(Baca juga: Perjuangan Santri)

Mobil silver melaju dengan tenang mengikuti hukum gerak lurus beraturan, terpacu oleh gaya gravitasi bumi yang berhubungan dengan hipotesis Newton sekian tahun silam. Cahaya merambat lurus menembus kaca mobilku sehingga permukaan kulit leherku dibuat panas olehnya. Udara yang terkolaborasi oleh gas-gas CO2, yang dihasilkan dari knalpot-knalpot metropolis, menyelinap masuk melalui sela-sela kaca mobilku. Akhirnya gas-gas itu ternetralkan dengan Air Conditioner mobilku.

“Pagi Pak!! Tumben agak siang?” Sapa Chika (bawahanku).

“Biasalah, kota metropolitan, padat transportasi, gimana Chika ada client gak sekarang?”

“Sepi Pak.”

“Tapi, proyek yang di Jawa Timur sudah kan?”

“Masih 70 % pak, tapi saya usahakan bulan ini bisa selesai,” tutur Chika meyakinkan.

Rindu ruang-ruang kerja setelah ditinggal pergi ke luar kota untuk keperluan bisnis di sana. Kursi putar itu seolah mengajakku bermain setelah lama tak pernah kududuki. Ketika merapikan meja kerjaku, foto kenangan itu membuat detak nadiku terbawa oleh alur melodi ketenangan. Wajah itu membuat otakku berotasi, memutar memori-memori lama. Sehingga muncul mozaik hitam putih di dunia imajinasiku. Ya, kisah di mana kumerajut perjuangan  bersama sosok istimewa itu.

Waktu kusarapan di ruang makan, mama menghampiriku dengan senyum sumbingnya. Perasaanku mulai tak nyaman. Instingku mulai mengada-ngada, pasti dia akan memberitahuku soal hasil rapat dengan ayahku tadi malam. Aku tahu mama dulu pernah menjadi santri, santri dari salah satu pesantren di Jawa Barat. Aku sadar mana ada seorang ibu yang ingin anaknya masuk ke lingkaran setan, berdiam diri di lubang kegelapan. Menurutmu?

Tapi pikiranku sudah terisi oleh paham-paham modernisasi tentang pesimisme dunia pesantren, yang telah jauh sebelumnya kudiskusikan dengan teman-temanku. Menurut mereka pesantren itu jadul, ketinggalan zaman, tempat yang membosankan, tidak bisa ke mall, tidak bisa malam mingguan sama teman-teman, dan banyak lagi yang segaris dengannya. Tapi menurutku itu realistis dan dapat kuterima, karena ketika kubayangkan, 50% pernyataan temanku tentang dunia pesantren itu benar.

 

Saat-saat ini membuatku bosan, bujukan dan rayuan orang tuaku bertubi-tubi di lontarkan padaku. Entah sudah berapa kali mereka membujukku agar aku meneruskan perjuangan mereka. Mamaku adalah seorang yang teguh pendirian, sesekali dia mengatakan A, selamanya dia akan berkata A. Mama tetap optimis untuk memindahku ke salah satu pesantren di Jawa Barat. Hidup di sana tanpa mereka, meninggalkan handphone kesayangan, dan banyak lagi kebiasaanku yang berubah 360 derajat. Tak ada lampu kota, tak ada mall, tak ada RnB, tak ada gitar, dan semua itu harus kutinggalkan. Entah bujukan yang ke berapa, mama datang padaku dan berkata,

 

“Andi, hidup itu tidak selamanya lurus, pasti ada belok-belok jalan yang akan menguji kita. Coba kamu bayangkan jika sirkuit balapan itu lurus, mama yakin balapan itu takkan bertahan sampai sekarang. Karena tak ada tantangan, tidak ada sesuatu yang membuat adrenalin mereka tertantang. Kau harus coba hidup barumu, Kau harus coba tantangan yang telah menunggu di depanmu, karena ketika Kau mampu melewatinya, kenikmatan dunia akan Kaurasakan, karena keberhasilan itu Kau hasilkan dari jerih payahmu sendiri.”

Ketika kulihat wajah itu, ku merasa iba, lebih-lebih mendengar kata bujukan itu, ku merasa terseret arus kesedihannya. Ketika mama beranjak pergi, hatiku memaksa untuk merespon bujukan itu. Sehingga kuberteriak,” Biar kupertimbangkan dulu, Andi sayang mama!”.

Senyum itu kini kulihat lagi, membawaku ke telaga air Surga.

****

Tekadku kini bulat, keras sekeras baja. Bujukan ibu itu menurutku sesuatu yang masih belum jelas kebenarannya, sehingga kujadikan eksperimen dalam hidupku. Dan sekarang, eksperimen itu menjadi tantangan, tantangan untuk menjadikannya kenyataan. Tantangan untuk membuktikan pada teman-temanku bahwa gagasan mereka tentang dunia pesantren tidak semuanya segaris vertikal dengan realitanya.

“Andi sudah siap? cepetan ke mobil!!” Teriak mama.

 

Senang, sedih, khawatir tercampur aduk menjadi satu. Senang karena melihat wajah kedua orang tuaku kembali merona. Sedih karena gitar itu akan kutinggalkan, musik RnB tak akan pernah aku dengarkan, dan lebih parahnya lagi, kedua insan mulia itu akan jauh denganku. Tapi apalah daya, jika ini bisa membuat mereka tersenyum, dan juga membuat eksperimenku selesai di tengah-tengah aliran keringat payahku. Kulihat rumah biru dari belakang kaca belakang mobil ayah, seiring jalannya waktu rumah itu hilang dari pandangan. Dan Kota Yogyakarta  kini tinggal tinggal kenangan, dan akhirnya kuterlelap hilang masuk dunia alam bawah sadar.

“Kak Andi, bangun! Udah hampir nyampek ni,” seru Nabila adikku.

“Udah nyampek mana Bil?” Tanyaku sembari menggosok-gosokkan kedua mataku.

“Katanya mama, Cirebon. Ntar lagi udah nyampek kok!”

Aneh diriku melihat sekelompok anak yang memakai sarung dan peci putih, dan memegang kitab kuning di dadanya. Ketika kubayangkan, kumerasa tak bisa lewatkan ini semua, ku tak bisa hidup di lingkaran seperti ini. Tapi ketika kumelihat wajah itu, wajah seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya, bayangan itu kubuang jauh-jauh. Bayangan itu kini berubah menjadi tekad, tekad untuk mewujudkan eksperimen itu menjadi realita dalam mozaik hidupku. Lampu kota kini redup, jauh dari pandangan. Duniaku kini berevolusi, bertolak belakang dari sebelumnya. Yang sebelumnya “terbuka” kini “tertutup”. Sehingga kusimpan baik-baik lembaran lama itu, kuganti lembaran-lembaran putih yang akan kuisi dengan hidupku yang baru saat ini.

****

Sang surya tersenyum melihatku memakai kopiah hitam di kepalaku. Inilah hari pertamaku mengadu nasib di Pondok Pesantren Buntet. Hari pertama kumenyiapkan berbagai hal yang akan mewujudkan eksperimenku menjadi realistis. Hanya butuh semangat, usaha, dan doa, hanya 3 komponen itu yang akan aku butuhkan.

Please, introduce your self to your new friends now! Please with english language!” Suruh Pak Yusuf dengan senyumnya.

Pertama masuk kelas aku disambut oleh studi English conversation, sehingga Pak Yusuf menyuruhku untuk memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Inggris. Awalnya malu, tapi ketika wajah mama tervisualisasikan di diafragma mataku, semangat itu menyelinap datang, dan ku mulai bicara. Selama masih di Yogyakarta aku memang sering kali belajar bahasa inggris, baik grammar maupun conversationnya, sehingga kemampuanku dalam bidang itu, ya bisa dikatakan di atas rata-rata. Malam itu kini tba, malam pertama kutidur tanpa alunan melodi yang biasa membawaku ke alam mimpi, dan kasur empuk yang kini berubah menjadi karpet lusuh. Suasana malam yang baru kurasakan, dan wajah indah itu bertubi-tubi datang menghantuiku, sehingga ku tak bisa terlelap dalam tidurku.

“Mama! Benarkah Kau sayang padaku? Tapi kenapa kau menempatkanku di sini, apakah engkau sudah bosan merawatku?” Di tengah lamunanku pertanyaan itu menyelinap datang dari sela-sela jendela. Dan tak sadar air mata itu terurai bersama gelapnya malam.

Hari kedua yang menyenangkan. Mungkin karena kemampuan bahasa Inggrisku, sehingga mereka ingin mengenalku. Terutama Fikri yang antusias berkenalan denganku, logat jawanya yang kental walaupun berbicara bahasa Indonesia, membuatku geli mendengarnya.

“Bang,,kok bisa pintar bahasa Inggris sih?” Tanya Fikri padaku.

“Ya belajarlah Fik!”

“Tapi, saya belajar bahasa inggris, gak pinter-pinter tuh”

“Sing sabar, hahahaha”

Dari sini ku sudah menemukan hasil positif. Walaupun kita berbeda ras, suku, maupun adat, seyogyanya kita tetap saling mengenal, karena keindahan dan ketentraman itu selalu mengiringi suatu kebersamaan.

****

 

”Diberitahukan kepada seluruh santri yang namanya tertulis di mading pondok, harap berkumpul di pos utama,” terdengar speaker tua di Pesantren Buntet. Berbondong-bondong santri melihat mading di depan Kamar Hanbali, di tengah-tengah deretan nama, terdapat nama “Andika Dwi Pratama”, yang mana ketika kumelihatnya kubertanya-tanya,” Apa sih yang pernah kulanggar?”

Saat ini baru kusadari, pesantern itu layaknya penjara, penjara yang memenjarakan seseorang yang sebelumnya tidak baik, ketika keluar menjadi seseorang yang baik. Sehingga banyak orang mengatakan pesantren itu penjara suci. Tapi anggapan itu tentang sebutan “penjara” kepada pesantren kupaksa tidak menerimanya. Tapi kuganti sebagai tempat perbaikan diri seseorang, dengan upaya agar ku tak beranggapan bahwa orang tuaku tega memasukkanku ke “penjara”, tapi anggapanku sekarang karena mereka menyayangiku sehingga kuditempatkan di blok perbaikan diri ini.

Coba kau bayangkan!

Seseorang yang sebelumnya tidak pernahdan tidak terbiasa untuk membersihkan sendiri sebuah bak mandi sepanjang 4 meter,lantas tiba-tiba dipaksa untuk melakukannya karena hal sepele,yaitu tidak melakukan jama’ah pasti merasakan kejengkelan,merasakan murka,dan sebagainya.Aku yakin begitu.

Bagaimana menurutmu?

Tapi hal itu harus ku lakukan,karena konsekuensi ketika ku mengabaikannya sangatlah besar.Kedua orang tuaku akan di panggil ke pesantren dan kedua orang itu akan keluar dari  kantor dengan wajah penuh malu dan penyesalan.Ku tak mau hal itu terjadi karenaku.Pikiranku kini kacau,ambisi untuk menyelesaikan eksperimen itu serasa terkikis sedikit demi sedikit,serupa dengan tumpukan tanah yang menggunung,yang mengalami erosi.Tanah itu ambisiku,sedangkan erosi itu cobaan yang kini menghantamku.Ku ingin meminjam handpone Ustad Tamam dan menelpon orang tuaku,setelah itu mengatakan,”Mama aku tak kuat disini,aku ingin pulang!”

Tapi ku tak bisa,ku merasakan kasih sayang yang sangat dahsyat dari seorang ibu,ku ta ingin membuat senyum bibirnya berbalik menjadi sebuah kesedihan.Tapi, apa yang harus aku lakukan Tuhan?.Perang batin ini kini menimpaku.

***

Desir angin yang membawa ketentraman bagi setiap makhluk Nya menemani lamunanku tentang tumpukan masalah di batin ini.Angin itu serasa berbisik padaku,

“Andi, bersabarlah atas semua ini,ujian itu pertanda kalau kau di sayang oleh Nya.Ketika kau mampu melewati ujian ini dengan penuh keikhlasan,aku bersumpah atas penciptaan Tuhan padaku,kebahagiaan abadi akan menimpamu”.

Di tengah lamunanku, Fikri menujuku dengan membawa kitab kuning di dadanya.

“Bang Andi ngapain disini, lagi mikirin rumah?,” Mengangguk ku membalas pertanyaannya.

“Biasalah bang, mana ada orang yang jauh dengan orang tuanya, gak kangen”

“Ada”, jawabku singkat

“Siapa?”

“Sameanlah Fik”

“Sebenarnya kangen bang,tapi cari-cari cara biar gak kangen”

“Gimana caranya?”

“Ikut aku yuk bang!”

Kuikuti petak jalan yang di buat oleh Fikri.Fikri memang selalu membuatku penasaran.Pernah dia bercerita padaku tentang seorang santriwati yang katanya diam-diam menyukaiku.Tapi sampai sekarang rasa penasaran itu aku simpan baik-baik di kotak hatiku,karena sampai saat ini,dia tidak membuka mulutnya tentang dimana wanita itu sekarang.Alasannya waktu yang tepat akan memberitauku.Entah apa yang sekarang dia beritau padaku,apakah pemandangan indah di sekitar pesantren ini yanga akan bisa membuatku lupa akan rumah disana,atau apakah wanita itu yang akan membuatku akan semakin ingin tetap disini,tapi aku harap hal itu bisa meredakan kobaran rindu di batinku.Rasa penasaran ini semakin meluap ketika Fikri mengajakku di masjid yang berada di kawasan Blok D,tapi aku hanya diam ketika datang seoarang ustad yang berbadan tegap,idak terlalu tinggi,dan kelihatannya otaknya di penuhi pengetahuan yang mendalam tentang dunia islam.Ku duduk di tengah-tengah puluhan santri yang sedang memaknai kitab yang sama dengan kitab Fikri,tapi diriku hanya bermodalkan kedua telinga untuk mendengar penjelasan dari ustad itu,menurut Fikri ustad itu bernama Ustad Khozin.Kalimat demi kalimat dimaknai olehny,diiringi perjalanan dengan bukti konkrit di sekitar kehidupan manusia,sehinga membuatku semakin antusias untuk memerhatikannya.Semangatku serasa terbakar,hati ini seperi menjerit senang,dan kobaran rindu batin ini seketika reda ketika mendengar penjelasan dari Ustad Khozin dengan nada suara yang lantang,bak pidato Bung Tomo ketika memotivasi rakyat Surabaya pada abad-abad sebelumnya.

“Bukankah pemuda sejati yang berkata,”ini bapakku!”,tapi ,pemuda sejati yang mengangkat kedua tangannya dan berkata inilah aku”

Tekad itu kini kembali lagi,berlipat ganda dari satu menjadi dua. Keyakinan akan terwujudnya eksperimen itu,kini semakin bulat tanpa celah.

Setelah mendapatkan hidayah Ilahi melalui perantara Fikri,hari-hariku dipenuhi berbagai kesibukan,salah satunya organisasi PMR yang sangat ku tekuni saat ini.Pernah ku mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat dalam ajang HUT Jawa Barat yang ke-56,karena memperoleh  podium sebagai juara umum lomba PMR tingkat SMA sederajat.Selang beberapa bulan ,SMA Buntet mendapat undangan dari salah satu sekolah di Jepang,untuk studi banding tentang organisasi PMR disana.Mungkin karena kemampuan berbahasa inggrisku di atas santri-santri yang lain ,sehingga kepala sekolah memilihku untuk berangkatke Jepang,dengan harapan semerbak nama “Indonesia” tetap terjaga.Perasaan yang tidak bisa ku visualisasikan dengan ekspresi tubuhku.Ku merasakan gembira yang sangat dan amat besar,ku merasa menjadi produk terbaik buatan Indonesia yang akan di uji di negara tetangga,yang mana ketika produk itu dinilai bagus disana,maka Bumi Kartini akan mendapatkan nilai A di mata negara asing.

Cuaca yang cerah dan hembusan angin yang menyejukkan permukaan kulitku,sangatlah mendukung keberangkatanku beranjak ke negara yang terkenal dengan tekhnologi mutakhirnya itu.Presiden Indonesia,Gubernur Jawa Barat,dan kedua orang tuaku menyaksikan bagaimana akhir penyelesaian eksperimenku yang telah aku lakukan selama dua tahun ini.Tepuk tangan meriah mengiringi tapak kakiku menuju pesawat di Bandara Soekarno-Hatta.Tapi ketika ku berjalan menuju ke tangga pesawat,Fikri membisikkan lima kata di daun telingaku,”waktu ini sangatlah tepat,di belakangmu”.Ku putar balik pandanganku,wanita dengan senyuman yang kali pertama aku melihatnya,dan aura wajahnya memancarkan air surga yang membuat alunan melodi ketenangan di hatiku.Ketika ku membayangkan betapa indahnya senyuman itu,tepukan keras terdengar di gendang telingaku.

“Daaar!!!,,ngelamun terus!!

Senyuman itu kini bisa ku raba,ku nikmati bukan sekedar angan-angan tapi memang dunia nyata.

***

13310404_1017871634969053_1576764511373094944_n

Related Post