Melukis dan Bahasa Jadi Jalan Fathia Adina Ayafira Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat

Fathia dan Perjalanan Menjadi Penerjemah Berbasis Nilai Pesantren

Pesantren Nuris — Dalam dunia yang terus bergerak cepat, kisah-kisah pribadi tentang ketekunan, kecintaan pada ilmu, dan impian besar selalu menjadi bahan bakar inspirasi. Salah satunya adalah kisah dari Fathia Adina Syafira, alumni MA Unggulan Nurul Islam (Nuris) Jember tahun 2025, yang kini tengah melanjutkan pendidikan di UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UINKHAS) Jember, pada program studi Tadris Bahasa Inggris.

Lahir di Banyuwangi pada tahun 2007, dan besar di kawasan Genteng, Fathia adalah santri yang membawa pesona lembut dalam kesehariannya, namun menyimpan semangat besar dalam dirinya. Ia dikenal sebagai pribadi yang mencintai seni, khususnya melukis, namun juga memiliki kecenderungan kuat dalam dunia akademik—terutama di bidang bahasa asing.

Meski tidak pernah aktif dalam organisasi selama masa belajar di Nuris dan belum pernah mencetak prestasi formal dalam perlombaan, bukan berarti Fathia tidak berprestasi. Justru di balik kesederhanaannya, tersimpan semangat belajar dan tekad kuat untuk menjadi orang sukses, baik di dunia maupun di akhirat.

Momen diterima di perguruan tinggi negeri adalah salah satu tonggak penting dalam hidup seorang pelajar. Bagi Fathia, lolos ke UINKHAS Jember merupakan buah manis dari usaha, doa, dan kesabaran.

(Baca juga : Balqis Rameyza Alya Lutfia, Santri Hafidzah Alumni MA Unggulan Nuris yang Menguasai Bahasa Inggris dan Menyemai Cita-cita Besar)

“Alhamdulillah, saya sangat bangga. Ini bukan hanya soal diterima di kampus, tapi juga tentang pencapaian yang memberi harapan baru untuk masa depan saya,” ungkapnya penuh syukur.

Kebanggaan itu tak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tapi juga oleh keluarga, guru-guru, dan teman-teman yang selama ini menyaksikan perjuangannya. Tidak semua orang tahu bahwa di balik senyum dan kesahajaannya, Fathia telah menyimpan impian besar dan perlahan-lahan mulai mewujudkannya.

Fathia memilih jurusan Tadris Bahasa Inggris karena ia merasa punya ketertarikan mendalam terhadap bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Baginya, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga jembatan budaya, ilmu, dan pemahaman antarbangsa.

“Saya ingin menjadi seorang translator dan guru. Dengan bahasa, saya bisa membuka jendela dunia. Saya ingin memahami dunia luar, sekaligus membawa nilai-nilai kebaikan dari dalam,” ujarnya.

Pilihan ini juga sangat relevan dengan kondisi global saat ini, di mana kemampuan berbahasa asing menjadi nilai lebih dalam dunia kerja maupun pengabdian masyarakat. Dengan menekuni bidang ini, Fathia tidak hanya mengejar gelar sarjana, tetapi juga menyiapkan dirinya untuk menjadi pribadi yang bisa menjembatani banyak hal: ilmu, nilai, dan budaya.

Saat ini, Fathia memang belum mendaftarkan diri dalam organisasi di kampus. Namun, bukan berarti ia tidak akan aktif. Justru ia sedang mempersiapkan diri untuk memilih kegiatan yang benar-benar sesuai dengan passion dan tujuannya. Ia adalah tipe pembelajar yang tidak terburu-buru, tapi penuh perhitungan.

Fathia yakin bahwa organisasi penting, namun pengembangan diri juga bisa dilakukan melalui cara-cara lain—seperti membaca, melukis, berdiskusi, atau bahkan hanya dengan memperhatikan dan menyerap ilmu dari sekeliling.

Bagi Fathia, melukis adalah cara lain untuk mengekspresikan diri. Saat kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan perasaan, lukisan bisa berbicara. Dunia seni menjadi ruang personal yang memberinya ketenangan dan inspirasi. Ia mengaku sering menggunakan waktu senggangnya untuk menggambar atau melukis sesuatu yang menggambarkan suasana hati atau impiannya.

Hobi ini bukan sekadar aktivitas santai, tapi terapi jiwa dan cara menjaga semangat. Dalam setiap goresan kuas, Fathia menyimpan harapan, doa, dan mimpi yang terus ia rajut pelan-pelan.

Saat ditanya tentang kesan terhadap Nuris, mata Fathia langsung berbinar. Baginya, Nuris adalah tempat luar biasa. Sebuah lembaga yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menanamkan nilai kehidupan, karakter, dan spiritualitas.

“Tempat yang begitu luar biasa dengan pengasuh dan guru-guru hebat, yang bisa mengantarkan saya sampai di titik saat ini. Tanpa mereka, saya tidak akan menjadi seperti sekarang,” tuturnya penuh haru.

Fathia juga menyampaikan pesannya untuk Nuris: “Semoga Nuris ke depannya lebih sukses dalam segala hal, dan tetap menjadi tempat terbaik untuk mencetak generasi unggul, beriman, dan bermanfaat.”

Fathia tidak hanya memikirkan masa depannya sendiri. Ia juga menyimpan harapan besar untuk teman-teman seperjuangannya. Ia berdoa agar kelak mereka semua bisa menjadi orang sukses di dunia dan di akhirat.

“Semoga saya dan teman-teman di luar sana kelak menjadi orang sukses di dunia dan di akhirat,” ujarnya, menunjukkan betapa ia punya empati dan harapan yang luas untuk orang lain.

Bagi Fathia, kesuksesan bukan hanya tentang karier atau kekayaan, tetapi tentang kebermanfaatan dan bagaimana hidup bisa memberi arti bagi orang lain.

Fathia Adina Syafira adalah kisah tentang kesabaran, ketekunan, dan semangat belajar yang tak terlihat di permukaan tapi mendalam di hati. Ia mungkin belum pernah naik panggung untuk menerima piala. Ia mungkin tidak tercatat sebagai ketua organisasi. Tapi ia punya impian yang besar dan keteguhan hati untuk mencapainya.

Ia adalah potret santri masa kini yang mampu menggabungkan nilai-nilai pesantren dengan semangat zaman modern. Dengan bekal iman, ilmu, dan cinta bahasa, Fathia melangkah ke dunia kampus dengan penuh percaya diri. [LA.Red]

 

Nama                  : Fathia Adina Syafira

Alamat                : Genteng, Banyuwangi

Hobi                    : Melukis

Cita2                   : Translator/Guru

Lembaga            : MA Unggulan Nuris 2025

Kuliah                 : Program studi Tadris Bahasa Inggris, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UINKHAS) Jember

Related Post