Emosi Campur Aduk, Aldian Tetap Gaspol Raih Prestasi Bahasa Arab
Pesantren Nuris — Muhammad Aldian Faizun Irsyad, siswa kelas XII A MA Unggulan Nuris Jember yang akrab disapa Aldian, kembali menunjukkan kualitasnya sebagai pelajar berprestasi setelah berhasil meraih Juara Harapan 1 dalam ajang Olimpiade Bahasa Arab “Olimpiade Bahasa Arab Kategori 6” tingkat Kabupaten yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Arab Indonesia. Prestasi ini bukan hanya menjadi bukti bahwa kemampuan Aldian dalam bidang Bahasa Arab terus berkembang pesat, tetapi juga menjadi cerminan bahwa dukungan guru-guru di MA Unggulan Nuris yang melihat potensi besar dalam dirinya tidaklah salah. Aldian dikenal sebagai siswa yang memiliki kegemaran membaca sejak kecil, sebuah kebiasaan yang secara tidak langsung membentuk cara berpikirnya, memperkaya wawasannya, serta menambah sensitivitas bahasanya. Di balik itu semua, ia menyimpan sebuah cita-cita yang luhur, yaitu menjadi seorang penulis, sebuah profesi yang menurutnya mampu menggerakkan pikiran dan memberi dampak luas kepada banyak orang.
Keputusan Aldian untuk mengikuti kompetisi ini bukan muncul begitu saja. Ia menuturkan bahwa dorongan kuat dari guru-gurunya menjadi salah satu alasan terbesar yang membuatnya yakin untuk melangkah. Para guru melihat bahwa dirinya memiliki minat, potensi, dan bakat yang cukup menonjol dalam bidang Bahasa Arab, sehingga mereka memberikan motivasi agar Aldian berani menguji kemampuan di tingkat yang lebih tinggi. Berbekal kepercayaan guru dan semangat diri yang besar, Aldian memutuskan untuk mencoba, meski ia tahu bahwa bertanding dalam sebuah olimpiade bukanlah hal yang mudah. Namun justru tantangan itulah yang membuatnya semakin bersemangat. Ia ingin membuktikan bahwa setiap potensi yang dimiliki seseorang akan bersinar ketika diberi kesempatan dan keberanian untuk maju.
Motivasi terdalam Aldian untuk mengikuti olimpiade ini sangat sederhana namun kuat: ia ingin membanggakan kedua orang tua dan orang-orang terdekat yang selama ini selalu mendukungnya. Baginya, prestasi adalah salah satu bentuk baktinya kepada keluarga, sebuah cara untuk membalas kasih sayang dan kepercayaan mereka. Ia menyadari bahwa hidupnya tidak pernah berjalan sendiri, dan di balik setiap langkahnya terdapat harapan dari orang-orang yang mencintainya. Karena itulah, setiap usaha, latihan, dan persiapan ia jalani dengan sungguh-sungguh, meski ia harus menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan.
(Baca juga : Lulus Sarjana 3,5 Tahun dengan IPK Cum Laude, Alumni MA Unggulan Nuris ini Membanggakan)
Dalam proses mengikuti lomba, Aldian mengakui bahwa salah satu kesulitan terbesar yang ia hadapi adalah minimnya jam terbang. Ia merasa bahwa dirinya belum memiliki pengalaman yang cukup luas dalam mengikuti kompetisi-kompetisi besar sebelumnya, sehingga ada beberapa momen di mana ia merasa kurang maksimal. Namun alih-alih menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berhenti atau berkecil hati, Aldian justru memandangnya sebagai bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik di masa mendatang. Baginya, setiap kekurangan bukanlah titik akhir, melainkan pijakan untuk melompat lebih jauh. Ia mulai memahami bahwa pengalaman adalah guru terbaik, dan setiap perlombaan membawa pelajaran yang tidak bisa ditemukan di bangku kelas.
Persiapan yang dilakukan Aldian menjelang kompetisi pun cukup intensif. Ia mengikuti pembelajaran tambahan di jam ekstrakurikuler sepulang sekolah, di mana para guru memberikan materi secara mendalam, latihan soal, serta pembahasan mendetail yang membantunya memahami pola soal olimpiade. Latihan-latihan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan akademiknya, tetapi juga membangun kedisiplinan dan manajemen waktu yang baik. Di sela kesibukannya mengikuti ekstrakurikuler PMR dan kitab kuning, Aldian tetap menyempatkan diri belajar agar dapat tampil dengan percaya diri saat olimpiade berlangsung. Baginya, proses adalah bagian paling berharga dari sebuah pencapaian.
Ketika ditanya mengenai perasaannya selama mengikuti perlombaan hingga pengumuman hasil, Aldian menjawab bahwa perasaan itu sangat beragam: ada bahagia, ada kecewa, ada harapan, dan ada rasa syukur yang menyelimuti perjalanan itu. Campuran perasaan tersebut justru menjadi warna tersendiri dalam hidupnya. Ia merasa setiap emosi memiliki peran penting dalam membentuk kedewasaan diri. Sukanya membuatnya lebih percaya diri, dukanya membuatnya lebih kuat, bahagianya memberi semangat, dan rasa kecewanya justru memberi pelajaran moral yang begitu berarti. Semua itu menjadi bagian dari proses pendewasaan yang tidak bisa digantikan oleh teori apa pun.
Melihat perjalanannya yang panjang, Aldian memiliki harapan besar untuk masa depan. Ia berharap bisa terus bertumbuh, belajar, dan memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Baginya, tidak ada yang tahu seindah apa rencana Tuhan untuk hidup seseorang, sehingga tugas manusia hanyalah berusaha sebaik mungkin sambil menyerahkan hasil akhir kepada-Nya. Prestasi ini ia anggap sebagai awal dari banyak hal baik yang mungkin telah menunggunya. Dengan semangat belajar yang tinggi, hobi membaca yang terus dipupuk, serta cita-cita menjadi penulis yang selalu ia genggam erat, banyak orang percaya bahwa Aldian berada pada jalur yang tepat untuk mencapai masa depan gemilang yang ia impikan. [LA.Red]
Nama : Muhammad Aldian Faizun Irsyad
Hobi : Membaca
Cita2 : Penulis
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember (XIIA)
Prestasi : Juara Harapan 1 Olimpiade Bahasa Arab “Olimpiade Bahasa Arab Kategori 6” tingkat Kabupaten diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Arab Indonesia
