Santai Tapi Berprestasi, Cahya Boyong Medali Perunggu Puspres
Pesantren Nuris — Cahyaning Baqiatus Sholihah, siswi kelas XI E MA Unggulan Nuris Jember yang akrab disapa Cahya, berhasil mencatatkan prestasi membanggakan setelah meraih Medali Perunggu dalam Olimpiade Bahasa Inggris “Kejuaraan Akhir Pekan Gemilang Indonesia” tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Puspres. Prestasi ini terasa spesial karena Cahya bukan hanya dikenal sebagai siswi yang aktif di sekolah, tetapi juga sebagai pribadi kreatif dengan hobi mengedit dan ketertarikan besar pada dunia digital. Ketertarikannya terhadap dunia konten, visual, dan komunikasi membuatnya memiliki cita-cita yang cukup beragam namun tetap saling berkaitan, yakni ingin menjadi influencer, dosen, dan content creator. Jalan yang ia tempuh melalui ajang olimpiade ini merupakan bagian dari upayanya menambah pengalaman sekaligus menguji kemampuannya dalam bidang Bahasa Inggris yang menjadi salah satu fondasi penting bagi profesi yang ingin ia geluti di masa depan.
Keikutsertaan Cahya dalam kompetisi ini berawal dari keinginannya untuk memperluas wawasan dan pengalaman baru. Ia menyadari bahwa peluang tidak akan datang dua kali, sehingga prinsip yang ia pegang adalah cobalah sebelum terlambat. Prinsip sederhana namun kuat ini membuatnya berani mengambil langkah untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional, meski ia tahu bahwa persaingan akan sangat ketat dan menantang. Cahya ingin membuktikan bahwa kesempatan yang datang harus segera diambil sebelum hilang begitu saja. Keberaniannya untuk mencoba, membangun pengalaman baru, dan menghadapi tantangan inilah yang akhirnya mengantarkan dirinya pada pencapaian yang luar biasa.
Dalam proses menuju perlombaan, Cahya menghadapi kesulitan yang cukup signifikan, yaitu membagi waktu. Dengan jadwal kegiatan sekolah yang padat, tugas-tugas akademik, dan berbagai aktivitas ekstrakurikuler yang ia ikuti—mulai dari Paskibra, Fisika, hingga Tilawah—Cahya harus benar-benar mengatur ritme harian agar tidak kewalahan. Mengikuti banyak kegiatan di saat yang bersamaan membuatnya harus belajar mengatur skala prioritas, menahan lelah, dan tetap disiplin agar persiapannya tidak terabaikan. Namun bagi Cahya, kesulitan ini justru menjadi bagian dari proses pertumbuhan. Ia belajar memaksakan diri untuk lebih teratur, lebih kuat, dan lebih sabar menghadapi tekanan waktu yang ketat.
(Baca juga : Risalah Tuntas, Kuliah Beres Officially Alumni MA Unggulan Nuris Sandang Sarjana di Ma’had Aly Nuris)
Persiapan yang dilakukan Cahya menjelang lomba mencakup dua unsur penting, yaitu persiapan materi dan persiapan fisik. Ia mengetahui bahwa untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional, kemampuan bahasa saja tidak cukup tanpa kondisi fisik yang prima. Cahya meluangkan waktu untuk memperbanyak latihan soal, memahami pola-pola kompetisi, serta memperkuat pemahaman materi yang berhubungan dengan Bahasa Inggris. Selain itu, ia juga menjaga kesehatan tubuh agar tetap fokus, tidak mudah lelah, dan siap menghadapi tantangan saat hari perlombaan tiba. Dengan semangat yang besar, Cahya menjalani seluruh proses persiapan tersebut meski harus berhadapan dengan tuntutan waktu yang padat.
Setelah melalui proses lomba yang cukup melelahkan, Cahya merasa sangat bersyukur karena berhasil mendapatkan medali, meskipun ia sendiri mengakui bahwa hasil tersebut belum sepenuhnya sempurna. Baginya, prestasi ini bukan hanya tentang medali, tetapi tentang proses panjang yang ia jalani dengan penuh usaha. Ia merasa bahwa setiap langkah yang ia tempuh—baik keberhasilan maupun kekurangan—adalah bagian dari perjalanan yang harus diterima dengan syukur. Dalam pesan dan kesannya, Cahya mengatakan bahwa Alhamdulillah dapat meskipun belum sempurna karena berproses. Kalimat sederhana ini menunjukkan betapa ia memahami nilai dari perjalanan, bukan hanya hasil akhir.
Ketika ditanya tentang perasaannya setelah meraih medali, Cahya menjawab dengan santai, hanya mengatakan perasaannya “B aja”. Jawaban yang terdengar simpel ini justru menggambarkan kedewasaannya dalam memandang prestasi. Ia tidak ingin terlalu larut dalam euforia, melainkan ingin terus melangkah dengan pikiran jernih dan hati yang tetap tenang. Baginya, kemenangan bukan hari akhir, melainkan titik awal untuk melangkah lebih jauh. Karena itu, ia memiliki harapan besar agar setiap hari ada peningkatan dalam dirinya, baik dalam kemampuan, semangat, maupun pengalaman hidupnya. Ia ingin terus berkembang tanpa berhenti, sebab ia percaya bahwa masa depan selalu membawa kemungkinan yang lebih baik bagi siapa pun yang mau berusaha.
Prestasi Cahya menjadi inspirasi bagi teman-teman di MA Unggulan Nuris bahwa kesempatan tidak pernah menunggu siapa pun. Dengan keberanian untuk mencoba, kedisiplinan untuk bertahan, serta kerendahan hati untuk belajar, Cahya berhasil membuktikan bahwa proses yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan selalu membuahkan hasil, meski tidak selalu sempurna. Semangatnya dalam mengejar mimpi menjadi influencer, dosen, dan content creator semakin terlihat ketika ia terus melangkah dan menunjukkan bahwa dirinya mampu bersaing di tingkat nasional. [LA.Red]
Nama : Cahyaning Baqiatus Sholihah
Hobi : Mengedit dan ketertarikan besar pada dunia digital
Cita2 : Influencer, dosen, dan content creator
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember (XI E)
Prestasi : Medali Perunggu Olimpiade Bahasa Inggris “Kejuaraan Akhir Pekan Gemilang Indonesia” tingkat Nasional diselenggarakan oleh Puspres
