Dari “Gabut” Jadi Juara: Perjalanan Tak Terduga Labib di MQK Jurumiyah
Pesantren Nuris — Ajang MUSABAQAH QIRA’ATUL KUTUB (MQK) & MUSABAQAH HIFDZUN NAZHAM (MHN) tingkat sekolah yang diselenggarakan oleh MA Unggulan Nuris kembali menjadi ruang bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam membaca, memahami, dan menyampaikan berbagai kitab yang selama ini menjadi bagian dari tradisi keilmuan pesantren. Dari sekian banyak peserta yang mengikuti cabang MQK Jurumiyah, ada satu nama yang menarik perhatian bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena perjalanan yang cukup unik menuju panggung juara, yaitu Muhammad Labibul Ulum, siswa kelas XI B yang akrab dipanggil Labib.
Labib berasal dari Sabrang, Ambulu, Jember. Ia dikenal sebagai siswa yang santai, kalem, dan cukup sederhana dalam keseharian. Hobinya membaca membuatnya akrab dengan dunia literasi, meski tidak selalu terlihat terlalu serius atau terlalu ambisius dalam mengejar prestasi. Yang membuat perjalanannya semakin menarik adalah kenyataan bahwa ia mengikuti lomba MQK Jurumiyah bukan karena dorongan ambisi atau target tertentu, melainkan karena sedang gabut dan ingin mencari sensasi baru. Keputusan spontan itu justru mengantarkannya pada pengalaman yang tidak pernah ia duga sebelumnya: meraih Juara 2 dalam perlombaan yang penuh tantangan tersebut.
Dalam prosesnya, motivasi Labib juga terdengar unik namun penuh makna. Ia memegang prinsip bahwa seseorang harus terus belajar hingga merasa dirinya bodoh, sebagai bentuk rendah hati dan kesadaran bahwa ilmu tidak ada batasnya. Selain itu, ia menegaskan pentingnya berdoa, karena dalam pandangannya usaha dan doa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagi Labib, belajar adalah proses panjang, sedangkan doa adalah penopang yang membuat proses tersebut menjadi lebih ringan dan bermakna.
(Baca juga : Usai Wisuda di Politeknik Statistika STIS, Alumni MA Unggulan Nuris Langsung Raih Karier ASN di BPS Luwu Utara)
Namun perjalanan menuju panggung juara tentu tidak sepenuhnya mulus. Salah satu kesulitan terbesar yang ia hadapi justru datang dari faktor yang tidak berkaitan langsung dengan kitab, yaitu rasa grogi ketika dilihat oleh siswa perempuan saat tampil. Hal ini ia alami karena kesehariannya berada di kelas yang seluruh siswanya laki-laki, sehingga suasana lomba yang bercampur membuatnya sedikit canggung. Meski terdengar lucu, kenyataan ini memberi tantangan mental tersendiri bagi Labib. Ia harus berusaha mengontrol rasa gugup agar tetap fokus pada materi Jurumiyah yang harus ia sampaikan di hadapan dewan juri.
Persiapan Labib menjelang lomba mencerminkan gaya belajarnya yang sederhana namun efektif. Ia belajar, belajar lagi, kemudian mengulanginya. Namun yang paling mencolok dari persiapannya adalah kebiasaannya tidur sebagai cara menjaga kondisi dan mengatur ritme pikirannya agar tetap segar. Bagi sebagian orang, tidur mungkin dianggap sepele, tetapi bagi Labib tidur adalah bagian dari strategi, agar ia bisa memahami materi lebih baik ketika bangun dalam kondisi tenang. Pola belajar yang fleksibel dan tidak terlalu kaku inilah yang membuat proses belajarnya tetap terasa menyenangkan.
Ketika hari perlombaan tiba, Labib tampil dengan percaya diri meskipun groginya masih terasa. Ia membaca dan menjelaskan materi Jurumiyah dengan bahasa yang jelas dan runtut. Dewan juri melihat adanya kestabilan, pemahaman, serta ketenangan dalam penyampaian materinya. Walaupun di balik itu ada rasa heran dalam dirinya karena tidak menyangka bisa tampil sebaik itu, Labib mampu menunjukkan kemampuannya dengan maksimal. Dan ketika pengumuman hasil lomba dibacakan, namanya keluar sebagai Juara 2 MQK Jurumiyah tingkat sekolah. Momen itu ia rasakan sebagai hal yang sangat membahagiakan sekaligus mengherankan. Ia sendiri tidak menyangka keputusan gabut di awal justru membawa hasil sebesar ini.
Dalam kesempatan setelah lomba, Labib menyampaikan perasaannya yang campur aduk antara senang, kaget, dan heran bagaimana ia bisa mendapatkan posisi juara hanya dari keisengan awal. Namun justru pengalaman inilah yang menambah keyakinannya bahwa sesuatu tidak akan pernah terjadi tanpa dicoba. Ia mulai menyadari bahwa pengalaman sekecil apa pun bisa berubah menjadi sesuatu yang besar bila dijalani dengan sungguh-sungguh, meskipun niat awalnya tidak terlalu serius.
Harapan Labib setelah mendapatkan prestasi ini juga cukup tinggi. Ia menyatakan keinginannya untuk melanjutkan perjalanan MQK hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. Meski ambisi itu terdengar besar, tetapi setelah merasakan sendiri bagaimana usaha kecil bisa memberi dampak luar biasa, ia merasa jauh lebih percaya diri untuk menetapkan tujuan yang lebih besar. Ia berharap suatu saat prestasinya tidak hanya dirasakan di tingkat sekolah, tetapi bisa menjadi kebanggaan bagi keluarga, guru, dan lembaga dalam skala yang lebih luas.
Keberhasilan Labib dalam ajang MQK tahun ini menjadi bukti bahwa potensi tidak selalu berawal dari ambisi besar. Terkadang, hal sederhana seperti ingin mencari pengalaman atau sekadar mengisi waktu bisa membuka jalan menuju pencapaian yang jauh lebih besar. Yang diperlukan hanyalah keberanian untuk mencoba, kemauan untuk belajar, serta keyakinan bahwa setiap usaha akan menghasilkan sesuatu, entah itu berupa kemenangan, pengalaman, atau pelajaran berharga.
Prestasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap siswa memiliki jalannya masing-masing menuju tempat terbaik mereka. Untuk Labib, langkah kecilnya mengikuti MQK Jurumiyah menjadi awal dari sesuatu yang mungkin lebih besar di masa depan, terutama karena ia juga memiliki cita-cita untuk menjadi petani sukses, profesi yang tampaknya sederhana namun memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi. Dengan kegigihan, disiplin belajar, dan kemauan terus mencoba, bukan tidak mungkin Labib akan mencapai semua itu. [LA.Red]
Nama : Muhammad Labibul Ulum
Hobi : Membaca
Cita2 : Petani Sukses
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember (XI B)
Prestasi : Juara 2 MQK Jurumiyah “MUSABAQAH QIRA’ATUL KUTUB (MQK) & MUSABAQAH HIFDZUN NAZHAM (MHN)” tingkat Sekolah yang diselenggarakan oleh MA Unggulan Nuris
