Juara 2 MHN Alfiyah MA Unggulan Nuris, Nandito Buktikan Bahwa Kesempatan Harus Ditangkap

Ketekunan Nandito Chesta Adiwangsa Berbuah Juara 2 MHN Alfiyah 250 Bait

Pesantren Nuris — Nandito Chesta Adiwangsa, siswa kelas XI A MA Unggulan Nuris Jember, kembali menorehkan prestasi gemilang melalui ajang Musabaqah Qiraatul Kutub dan Musabaqah Hifdzun Nazham yang telah menjadi wadah pembuktian kemampuan akademik dan religius di lingkungan sekolah. Dalam kompetisi yang dikenal ketat dan menantang tersebut, Nandito atau yang akrab disapa Nandit, Chesta, atau Dito, berhasil meraih Juara 2 pada cabang MHN Alfiyah 250 Bait. Prestasi ini menjadi bukti bahwa kesungguhan belajar, konsistensi, dan dorongan spiritual mampu membuahkan hasil luar biasa, terlebih dalam bidang yang menguji ketahanan hafalan, ketekunan, serta kejernihan niat.

Sejak awal, Nandito adalah sosok yang dikenal suka melakukan hal-hal bermanfaat. Ia senantiasa mengisi waktunya dengan kegiatan yang memiliki nilai positif, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Kebiasaan ini juga mencerminkan cita-citanya yang ingin menjadi seorang dosen atau tokoh agama, seorang figur yang mampu membimbing dan memberikan manfaat bagi masyarakat dengan ilmu yang mendalam dan akhlak yang baik. Keinginannya untuk menjadi seseorang yang bermanfaat tersebut tampak jelas dari bagaimana ia memanfaatkan peluang yang datang kepadanya.

Ketika guru memberikan kesempatan untuk ikut serta dalam lomba MHN Alfiyah, Nandito tidak ingin melewatkannya begitu saja. Ia mengaku bahwa alasan utamanya mengikuti lomba ini adalah karena melihat adanya peluang. Menurutnya, setiap kesempatan yang datang tidak selalu hadir dua kali, sehingga langkah bijak adalah mengambilnya, memanfaatkannya, dan menguji kemampuan diri. Ia meyakini bahwa kesempatan adalah bagian dari takdir yang harus disambut dengan usaha, bukan diabaikan dengan alasan takut gagal. Kesederhanaan alasan ini justru mencerminkan jiwa kompetitif dan kematangan berpikirnya sebagai seorang pelajar yang ingin terus berkembang.

(Baca juga : Dari Passion hingga Sukses Gapai Sarjana, Alumni MA Unggulan Nuris Militan sebagai Tendik hingga Buka Bimbel)

Namun jalan menuju prestasi tentu tidak semudah yang terlihat dari hasil akhirnya. Nandito menghadapi hambatan yang cukup berat, terutama dalam menjaga ritme murojaah atau mengulang hafalan Alfiyah. Ia mengakui bahwa rasa malas sering kali datang secara tiba-tiba, mengganggu fokus hafalan, dan membuat dirinya ingin menunda-nunda. Hafalan Alfiyah bukan hafalan biasa karena mengandung bait-bait yang panjang, terstruktur, serta penuh aturan nahwu shorof yang menuntut ketelitian dalam penyampaian. Ketika rasa malas datang, hafalan bisa menjadi kabur dan ritme belajar menjadi semakin sulit dijaga.

Meski demikian, Nandito mencoba menghadapi kesulitan itu dengan cara sederhana yang ia terapkan secara konsisten. Ia memulai persiapannya dengan berdoa agar diberi kekuatan dalam menghafal dan memahami bait-bait Alfiyah. Setelah itu ia memperbanyak murojaah sebagai fondasi utama untuk mempertajam ingatan. Ia juga mengandalkan metode tebak-tebakan yang ia lakukan bersama teman atau secara mandiri. Melalui tebak-tebakan ini, ia mencoba memanggil kembali hafalan per bait, memicu daya ingat, dan melatih ketepatan urutan hafalan. Cara ini tidak hanya membuat proses belajar lebih ringan tetapi juga lebih menyenangkan.

Ketekunannya semakin terbentuk berkat motivasi yang ia pegang kuat. Ia mengatakan bahwa motivasinya berasal dari rasa syukur atas segala ketentuan Allah. Baginya, apa yang Allah berikan tidak selalu sesuai harapan, tetapi selalu sesuai kebutuhan. Ia menyadari bahwa rezeki, kesempatan, dan hasil akhir dalam sebuah proses adalah bagian dari ketetapan yang harus disyukuri. Pikiran ini membuatnya lebih tenang dalam menghadapi persiapan lomba, mengurangi rasa khawatir, dan memperkuat keyakinan bahwa tugas manusia hanyalah berusaha sebaik mungkin.

Selain fokus pada hafalan dan persiapan, Nandito juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti kitab, jurnalistik, dan KIR keagamaan. Aktivitas-aktivitas ini memberikan ruang baginya untuk berkembang secara intelektual dan spiritual. Dari ekstrakurikuler kitab, ia mendapatkan pemahaman lebih luas mengenai literatur klasik. Dari jurnalistik, ia belajar tentang penyusunan informasi dan tanggung jawab penyampaian. Sedangkan dari KIR keagamaan, ia memperdalam sisi ilmiah dalam kajian agama. Kombinasi ketiganya membentuk karakter belajar yang kompleks dan seimbang.

Saat hari lomba tiba, Nandito berusaha tampil dengan ketenangan penuh. Di dalam hatinya, ia mengingat kembali bait-bait yang sudah berulang kali ia hafalkan. Ia berusaha memusatkan perhatian, menepis rasa gugup, dan menyadari bahwa usaha panjang yang ia lakukan selama ini adalah bekalnya yang paling kuat. Ketika proses lomba berlangsung, ia berusaha menjaga intonasi, ketepatan hafalan, serta konsistensi ritme agar penyampaiannya memenuhi standar penilaian yang ketat.

Ketika hasil diumumkan dan namanya tercantum sebagai Juara 2, ia merasakan kebahagiaan yang dalam. Kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa rasa malas yang selama ini ia lawan, tetesan keringat dalam murojaah, serta doa yang ia panjatkan tidak pernah sia-sia. Ia juga merasakan bahwa prestasi ini merupakan bukti kasih sayang Allah yang memberi hasil terbaik meski prosesnya penuh tantangan.

Dalam pesan dan kesannya, Nandito menyampaikan bahwa kemenangan ini membuatnya semakin percaya diri untuk melangkah ke tingkat kompetisi yang lebih tinggi. Ia berharap dapat terus memperbaiki hafalan dan pemahamannya agar dapat mewakili sekolah di ajang yang lebih luas. Selain itu, ia juga berharap dengan barokah mushonif Kitab Alfiyah Ibnu Malik, perjalanan belajarnya dapat menjadi sarana untuk memberikan manfaat yang lebih besar, baik bagi sekolah, masyarakat, maupun bagi dirinya sendiri di masa depan.

Ia menutup refleksinya dengan perasaan bahagia yang melimpah. Baginya, prestasi ini bukan hanya soal piala, melainkan tentang proses panjang yang telah ia lewati dan bagaimana proses tersebut membentuk dirinya menjadi lebih kuat, lebih berani, dan lebih yakin pada kemampuan diri. Ia bersyukur atas segala kesempatan dan berharap MA Unggulan Nuris terus melahirkan generasi berprestasi yang memiliki semangat belajar tinggi seperti dirinya. [LA.Red]

 

Nama       : Nandito Chesta Adiwangsa

Hobi         : Melakukan hal-hal bermanfaat

Cita2        : Dosen atau tokoh agama

Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember (XI A)

Prestasi   : Juara 2 MHN Alfiyah 250 Bait “MUSABAQAH QIRA’ATUL KUTUB (MQK) & MUSABAQAH HIFDZUN NAZHAM (MHN)” tingkat Sekolah yang diselenggarakan oleh MA Unggulan Nuris

Related Post