Ketekunan Murojaah Nandito Antar Dirinya ke Prestasi Bergengsi MQK MHN MA Unggulan Nuris

Langkah Mantap Nandit Raih Juara 2 MHN Alfiyah 500 Bait MA Unggulan Nuris

Pesantren Nuris — Nandito Chesta Adiwangsa, siswa kelas XI A MA Unggulan Nuris Jember, kembali mengukir prestasi membanggakan dalam ajang Musabaqah Qiraatul Kutub dan Musabaqah Hifdzun Nazham yang diselenggarakan oleh MA Unggulan Nuris. Lomba yang menghadirkan berbagai cabang ini menjadi wadah bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan akademik keagamaan, terutama dalam hafalan dan pemahaman teks klasik. Dalam ajang tersebut, Nandito yang akrab disapa dengan panggilan Nandit, Chesta, atau Dito berhasil meraih Juara 2 cabang MHN Alfiyah 500 Bait. Prestasi ini bukan hanya menunjukkan kapasitas akademiknya, tetapi juga membuktikan bahwa konsistensi, usaha, dan dukungan orang tua dapat membawa seseorang pada pencapaian yang luar biasa.

Nandito dikenal sebagai siswa yang senang melakukan hal-hal bermanfaat. Meski terkesan sederhana, prinsip ini tampak kuat dalam kesehariannya. Ia selalu berusaha membuat waktunya bermakna, entah dengan belajar, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, atau membantu teman-temannya dalam kegiatan keagamaan. Kebiasaannya ini juga menjadi cermin dari cita-cita yang ia pendam, yaitu menjadi seorang dosen atau tokoh agama. Ia ingin tumbuh sebagai pribadi yang bukan hanya menguasai ilmu, tetapi juga mampu membagikannya kepada banyak orang. Cita-cita inilah yang turut menjadi alasan kuat mengapa ia begitu menerima dengan lapang ketika guru memberikan kesempatan untuk mengikuti lomba MHN Alfiyah.

Menariknya, alasan awal Nandito mengikuti lomba justru sederhana dan jujur. Ia mengakui bahwa ia tertarik ikut lomba karena melihat adanya peluang. Ketika kesempatan datang dan guru memberikan kepercayaan, ia merasa wajib memanfaatkannya dengan baik. Ia yakin bahwa peluang tidak selalu datang dua kali, sehingga menerima tantangan tersebut merupakan langkah tepat untuk mengukur kemampuan diri sekaligus memperluas pengalaman.

Namun perjalanan menuju panggung juara bukan sesuatu yang berjalan mulus begitu saja. Nandito menghadapi kesulitan yang cukup umum namun sering kali menjadi penghambat terbesar bagi banyak pelajar, yaitu rasa malas. Sebagai peserta cabang MHN Alfiyah 500 Bait, ia wajib melakukan murojaah atau mengulang-ngulang hafalan secara rutin. Proses ini membutuhkan ketekunan yang tinggi, sementara rasa malas sering datang tanpa diundang. Kadang ia menunda hafalan, kadang merasa lelah, dan ada saat-saat ketika ia merasa hafalannya berkurang atau mencampur antara satu bait dengan bait lainnya. Meski begitu, ia sendiri menyadari bahwa rasa malas hanyalah penghalang sementara. Selama ia mampu mendorong dirinya untuk terus bergerak, maka hambatan tersebut dapat dilampaui sedikit demi sedikit.

(Baca juga : Dari Passion hingga Sukses Gapai Sarjana, Alumni MA Unggulan Nuris Militan sebagai Tendik hingga Buka Bimbel)

Dalam proses persiapannya, Nandito mengandalkan tiga hal utama yang menurutnya paling efektif, yaitu berdoa, murojaah, dan melakukan tebak-tebakan hafalan. Ia memulai dengan doa sebagai bentuk permohonan agar diberi kemudahan dalam mengingat dan memahami Alfiyah. Selanjutnya ia memperbanyak murojaah agar hafalannya semakin kuat dan tidak mudah hilang. Metode tebak-tebakan yang ia lakukan bersama teman-temannya juga menjadi cara yang menyenangkan untuk memperkuat hafalan. Mereka saling menguji bait demi bait, mendorong satu sama lain agar tetap fokus dan konsisten. Aktivitas sederhana ini justru sangat membantu karena menghadirkan suasana belajar yang ringan namun tetap bermakna.

Selain fokus pada persiapan lomba, Nandito juga aktif di berbagai ekstrakurikuler seperti kitab, jurnalistik, dan KIR keagamaan. Kegiatan ini membantunya memperluas wawasan, melatih analisis, serta memberikan pengalaman berorganisasi yang sangat bermanfaat. Ia merasa bahwa kegiatan-kegiatan tersebut membentuk pola pikir yang lebih matang dan membantunya meningkatkan kedisiplinan belajar. Kombinasi antara ekstrakurikuler dan persiapan lomba membuatnya semakin terlatih dalam mengatur waktu dan tanggung jawab.

Ketika hari lomba tiba, Nandito tampil dengan penuh keyakinan. Meski masih ada sedikit rasa gugup, ia mencoba menenangkan diri dengan mengingat bahwa segala usaha sudah ia lakukan. Ia memulai dengan membaca doa, kemudian melangkah maju dengan keberanian yang tulus. Saat membawakan hafalan Alfiyah 500 Bait, ia berusaha menjaga konsentrasi dan ritme. Ketika namanya diumumkan sebagai Juara 2, ia merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Ia bersyukur karena perjuangan yang penuh keringat, rasa malas yang ia lawan, serta dukungan orang tua dan guru akhirnya menghasilkan sesuatu yang manis.

Dalam pesan dan kesannya, Nandito menyampaikan bahwa kemenangan ini membuatnya semakin percaya diri untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi. Ia belajar bahwa tidak ada usaha yang sia-sia, terutama ketika dilakukan dengan niat baik dan kesungguhan. Ia berharap keberkahan mushonnif, yaitu pengarang Kitab Alfiyah, dapat menyertai perjalanan belajarnya. Ia ingin agar ilmu yang ia pelajari bermanfaat tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk lembaga dan masyarakat luas. Keinginannya ini sejalan dengan cita-citanya untuk menjadi tokoh ilmu yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Harapan terbesar Nandito adalah agar prestasinya menjadi motivasi bagi siswa lain untuk tidak ragu memanfaatkan peluang yang diberikan. Baginya, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi asalkan berani mencoba dan tidak terjebak dalam rasa malas. Ia juga berharap MA Unggulan Nuris semakin bersinar dan mampu melahirkan lebih banyak siswa-siswi berprestasi di masa depan. Prestasinya kali ini ia persembahkan sebagai bentuk rasa syukur, rasa hormat kepada guru, dan bukti bahwa usaha kecil yang dilakukan terus menerus dapat menghasilkan pencapaian besar.

Pada akhirnya, perasaan yang paling dominan dalam diri Nandito adalah kebahagiaan. Ia merasa bangga karena mampu mempersembahkan prestasi untuk sekolah dan orang tua. Namun di balik itu semua, ia tetap menyadari bahwa perjalanan masih panjang. Prestasinya kali ini bukanlah garis akhir, tetapi awal dari perjalanan baru yang menuntut lebih banyak usaha, ketekunan, dan kesabaran. Dengan semangat yang ia miliki sekarang, Nandito yakin ia dapat melangkah lebih jauh dan mencapai tujuan mulianya sebagai pendidik dan tokoh yang membawa manfaat bagi masyarakat. [LA.Red]

 

Nama       : Nandito Chesta Adiwangsa

Hobi         : Melakukan hal-hal bermanfaat

Cita2        : Dosen atau tokoh agama

Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember (XI A)

Prestasi   : Juara 2 MHN Alfiyah 500 Bait “MUSABAQAH QIRA’ATUL KUTUB (MQK) & MUSABAQAH HIFDZUN NAZHAM (MHN)” tingkat Sekolah yang diselenggarakan oleh MA Unggulan Nuris

Related Post