Alif On Fire di Ajang Debat Unej Muhammadiyah, Kolaborasi Timnya Berbuah Piala dan Cerita Tak Terlupakan
Pesantren Nuris — Gelaran Festival Islami 2025 yang diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Jember menjadi salah satu panggung bergengsi yang setiap tahun dinantikan oleh para pelajar dari berbagai sekolah di wilayah Tapal Kuda. Ajang ini selalu penuh dengan antusiasme karena mempertemukan banyak talenta muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, argumentasi, dan penalaran yang mumpuni. Tahun ini, salah satu nama yang muncul sebagai pemenang dan menyita perhatian dari para peserta maupun juri adalah Muhammad Althaf Haidar Alif, atau yang lebih akrab disapa Alif. Siswa kelas XII D MA Unggulan Nuris Jember ini berhasil meraih Juara 3 dalam kategori Debat Islami, sebuah capaian yang bukan hanya membanggakan dirinya, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi seluruh keluarga besar MA Unggulan Nuris.
Alif, yang datang dari Sumber Pinang, Pakusari, Jember, memang dikenal sebagai sosok yang gemar membaca. Kebiasaannya menyelami banyak tulisan sejak lama membantu membentuk cara berpikirnya yang runtut dan cepat menangkap informasi. Tidak heran bila dirinya memiliki cita-cita menjadi seorang guru, profesi yang ia anggap bukan hanya mulia tetapi juga sangat cocok dengan karakter dirinya yang senang berbagi pengetahuan. Ketika kesempatan mengikuti lomba debat datang, ia tidak menyia-nyiakannya. Ia ingin mengembangkan bakat, minat, dan potensi diri, sekaligus melatih kerjasama tim serta kecepatan berpikir dalam situasi menekan. Selain itu, ia ingin memberikan kontribusi nyata dalam mengharumkan nama lembaga. Dorongan itu menjadi bahan bakar penting yang membentuk kesungguhan Alif dalam mengikuti setiap tahap kompetisi.
Perjalanan menuju lomba tidaklah sederhana. Alif bersama timnya harus menjalani persiapan yang cukup intens, mengingat debat bukan hanya soal berbicara, tetapi juga soal ketepatan dalil, kekuatan logika, kelincahan merespons argumen lawan dan kerja sama tim yang solid. Ia mempelajari materi-materi dari kisi-kisi yang diberikan panitia, menganalisis isu yang mungkin muncul, membaca referensi dari berbagai sudut pandang, dan melatih bagaimana menyampaikan argumen dengan gaya yang tegas namun tetap santun. Latihan-latihan itu semakin matang ketika dikombinasikan dengan doa dan harapan yang ia panjatkan. Baginya, persiapan batin juga sama pentingnya dengan persiapan intelektual, karena dalam debat islami tidak cukup hanya pandai berkata-kata, harus pula ada ketenangan hati dan niat yang lurus.
(Baca juga : Usai Wisuda di Politeknik Statistika STIS, Alumni MA Unggulan Nuris Langsung Raih Karier ASN di BPS Luwu Utara)
Saat hari lomba tiba, atmosfer kompetisi terasa sangat intens. Para peserta dari berbagai sekolah hadir dengan gaya, kemampuan, dan karakter debat masing-masing. Ada yang agresif, ada yang retoris, ada yang mengandalkan kecepatan berpikir, ada pula yang kuat dalam dalil. Dari sinilah Alif menyadari bahwa panggung debat bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang menguji diri seberapa jauh kemampuan yang sudah ia bangun selama ini. Ketika debat berlangsung, Alif dan timnya tampil cukup solid. Mereka saling menguatkan satu sama lain, saling memberi ruang, dan saling melengkapi argumen sesuai peran masing-masing. Meski kompetisi berlangsung sengit, Alif mampu menjaga ketenangan sekaligus tetap responsif terhadap setiap serangan lawan. Debat demi debat berjalan seperti perjalanan panjang yang penuh adrenalin, tetapi juga membawa keseruan yang membuatnya menikmati setiap detik di atas panggung.
Momentum pengumuman pemenang menjadi salah satu momen yang tidak terlupakan bagi Alif. Mendengar namanya dipanggil sebagai Juara 3 Debat Islami tingkat Tapal Kuda membuat seluruh rasa lelah, tegang, dan gugup mendadak berubah menjadi rasa bangga yang sulit digambarkan. Bukan hanya karena berhasil membawa pulang piala, tetapi juga karena proses panjang yang ia jalani ternyata berbuah manis. Ia merasa senang, seru, menantang, dan yang paling ia syukuri adalah kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru sekaligus teman baru dari berbagai sekolah yang sama-sama memiliki semangat kompetisi. Melalui lomba ini, ia tidak hanya belajar tentang debat, tetapi juga belajar tentang dunia luar, tentang keberagaman pemikiran, dan tentang bagaimana menyikapi perbedaan dengan cara yang elegan.
Dalam harapannya, Alif menyampaikan keinginan sederhana tetapi penuh makna. Ia berharap bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya, baik dalam bidang debat maupun bidang akademik lainnya. Ia juga berharap semakin banyak siswa MA Unggulan Nuris yang dapat mengikuti jejak prestasi, membawa nama baik sekolah di tingkat regional, nasional, maupun lebih tinggi lagi. Menurutnya, potensi anak-anak Nuris sangat besar dan butuh wadah yang tepat untuk mengasah kemampuan mereka. Prestasi ini menjadi bukti bahwa kesempatan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau berusaha dan belajar secara konsisten.
Bagi Alif, prestasi bukan sekadar piala atau penghargaan. Tetapi lebih kepada langkah nyata menuju cita-cita besar menjadi seorang guru yang mampu menginspirasi banyak orang. Kemenangan di Festival Islami 2025 ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal babak baru dalam membentuk karakter, memperluas wawasan, dan mengasah kemampuan yang kelak akan menjadi bekal penting bagi masa depannya. [LA.Red]
Nama : Muhammad Althaf Haidar Alif
Hobi : Membaca
Cita2 : Guru
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember (XII D)
Prestasi : Juara 3 Debat Islami “Festifal Islami 2025” tingkat Tapal Kuda yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Jember
