Komitmen Nyata Pesantren dalam Menjaga Lingkungan Berbuah Apresiasi dari Jawa Timur
Pesantren Nuris – Pondok Pesantren Nuris Jember menorehkan prestasi membanggakan di tingkat provinsi dengan meraih penghargaan ECO Pesantren kategori Pratama. Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga aktif menjaga kelestarian lingkungan. Apresiasi tersebut diberikan dalam ajang Jatim Environment Community Award yang digelar di Gedung Graha Wisata Jawa Timur, Surabaya. Kegiatan ini menjadi perhatian karena melibatkan berbagai lembaga yang berkomitmen pada isu lingkungan.
Penghargaan ECO Pesantren ini diberikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur dan diterima langsung oleh Gus Rahmatulloh Rijal selaku salah satu Majelis Pengasuh PP Nuris Jember. Penyerahan penghargaan berlangsung pada 24 Desember 2025 dalam suasana penuh apresiasi. Program ECO Pesantren sendiri merupakan inisiatif DLH yang bertujuan mendorong lembaga pesantren untuk aktif menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
PP Nuris Jember dinilai layak menerima penghargaan karena memenuhi sejumlah kriteria utama dalam program tersebut. Kriteria itu meliputi pengelolaan lingkungan, konservasi air, konservasi energi, serta inovasi terbarukan. Salah satu inovasi unggulan PP Nuris adalah Moris, produk berbasis energi surya yang dinilai menarik dan ramah lingkungan. Upaya ini menunjukkan bahwa pesantren mampu berinovasi sejalan dengan perkembangan teknologi hijau.
Ibu Alufatul selaku staf Tata Usaha Sarana Prasarana dan Lingkungan Hidup PP Nuris Jember menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian ini. “Kami merasa bangga karena upaya menjaga lingkungan yang selama ini dilakukan mendapat pengakuan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penghargaan ini menjadi penyemangat bagi seluruh warga pesantren untuk terus peduli pada lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, PP Nuris Jember berharap langkah-langkah yang telah dilakukan dapat ditiru bahkan dikembangkan oleh lembaga sejenis. Berbagai upaya nyata telah dilakukan, mulai dari pelatihan pengolahan sampah bagi santri dan pengurus, pembuatan resapan air, pemeliharaan maggot untuk sampah dapur, hingga pembuatan biopori. “Penghargaan ini bukan akhir, melainkan amanah baru agar kami terus mengembangkan program lingkungan yang lebih bermanfaat,” tutur Ibu Alufatul. [Red.DE]
