Dari Santri Nuris ke Al-Azhar Mesir: Jalan Panjang Ilham Pranoto dari MA Unggulan Nuris hingga Kampus Internasional

Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Ini Cerita Ilham Menjemput Masa Depan

Pesantren Nuris — Muhammad Ilham Akbar Pranoto, atau yang akrab disapa Ilham, merupakan salah satu alumni MTs Unggulan Nuris yang melanjutkan pendidikan ke MA Unggulan Nuris hingga lulus pada tahun 2025. Lahir di Banyuwangi pada tahun 2006, Ilham dikenal sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati, dan memiliki semangat belajar yang tinggi sejak masih menjadi santri.

Sejak duduk di bangku madrasah, Ilham sudah menunjukkan ketertarikan besar terhadap ilmu agama, khususnya dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Ketertarikan tersebut tumbuh seiring dengan rutinitas mondok yang penuh dengan kegiatan keilmuan, ibadah, serta pembinaan karakter. Lingkungan pesantren menjadi tempat yang membentuk cara berpikir, sikap, dan tujuan hidup Ilham.

Di sela-sela kesibukannya sebagai santri, Ilham juga memiliki hobi jalan-jalan dan bersepeda. Baginya, aktivitas tersebut menjadi cara sederhana untuk menyegarkan pikiran setelah menjalani rutinitas belajar yang padat. Dengan bersepeda atau sekadar menikmati suasana sekitar, Ilham bisa kembali bersemangat untuk melanjutkan kegiatan belajarnya.

(Baca juga : Bukan Sekadar Lulus, Ana Najmi Alumni MA Unggulan Nuris Menemukan Arah Hidup Lewat Ilmu, Disiplin, dan Keteguhan Hati)

Setelah menyelesaikan pendidikan di MA Unggulan Nuris, Ilham berhasil melanjutkan studinya ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, dengan mengambil jurusan Tafsir. Kampus ini dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam terbesar di dunia, sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ilham dan keluarganya.

Keputusan Ilham memilih Al-Azhar bukan tanpa alasan. Jurusan Tafsir yang ia ambil sangat sejalan dengan ilmu yang telah ia pelajari selama mondok di pesantren. Ia merasa bahwa melanjutkan studi di bidang tersebut adalah langkah yang tepat untuk memperdalam pemahaman tentang Al-Qur’an dan keilmuan Islam secara lebih luas.

Cita-cita Ilham sejak awal adalah menjadi seorang dosen. Ia ingin menjadi pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan menginspirasi generasi muda agar mencintai ilmu, khususnya ilmu agama. Menurutnya, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.

Harapan terbesar Ilham ke depan adalah bisa menjadi pemuda yang membahagiakan orang tuanya. Ia ingin melihat orang tuanya bangga atas perjuangan dan pencapaian yang telah ia raih. Bagi Ilham, restu dan doa orang tua adalah kekuatan utama dalam setiap langkah hidupnya.

Selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, Ilham juga aktif mengikuti talaqqi di beberapa majelis yang ada. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk terus memperdalam ilmu, menjaga adab dalam belajar, serta memperkuat hubungan dengan para guru dan ulama. Baginya, proses menuntut ilmu tidak hanya soal membaca buku, tetapi juga tentang belajar langsung dari para ahli dengan penuh adab dan ketekunan.

Ilham tidak melupakan jasa Pondok Pesantren Nuris yang telah menjadi tempatnya menuntut ilmu sejak awal. Ia mengaku sangat berterima kasih kepada pesantren yang telah membekalinya dengan ilmu, akhlak, dan mental yang kuat. Menurutnya, tanpa pendidikan dan pembinaan dari Nuris, ia tidak akan bisa sampai pada titik seperti sekarang.

Pengalaman mondok di Nuris memberikan banyak pelajaran berharga bagi Ilham. Ia belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, serta pentingnya menjaga niat dalam menuntut ilmu. Semua nilai tersebut kini menjadi pegangan hidupnya, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan sehari-hari.

Ilham juga merasakan bahwa lingkungan pesantren membantunya untuk lebih mandiri dan matang dalam menghadapi berbagai tantangan. Jauh dari keluarga, mengatur waktu sendiri, serta menghadapi tekanan akademik menjadi proses yang membentuk mental dan karakter.

Kini, Ilham menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di luar negeri dengan penuh semangat dan tanggung jawab. Ia menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang dirinya sendiri, tetapi juga tentang membawa nama baik keluarga, pesantren, dan bangsa.

Dengan bekal ilmu, doa orang tua, serta nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren, Ilham optimis bisa meraih cita-citanya menjadi seorang dosen yang bermanfaat bagi umat. Ia ingin menjadi contoh bahwa santri juga bisa berprestasi di tingkat internasional.

Perjalanan Muhammad Ilham Akbar Pranoto adalah kisah tentang ketekunan, niat yang lurus, dan keberanian untuk melangkah jauh demi masa depan. Dari bangku pesantren hingga kampus internasional, Ilham terus melangkah dengan satu tujuan utama, yaitu menjadi pribadi yang bermanfaat dan membahagiakan orang tua. [LA.Red]

 

Nama       : Muhammad Ilham Akbar Pranoto

Alamat     : Kembiritan, Genteng, Banyuwangi

Hobi         : Jalan-jalan, Bersepeda

Cita2        : Dosen

Lembaga : MA Unggulan Nuris, 2025

Kuliah       : Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, jurusan Tafsir

Related Post