Waktu Kosong untuk mengaji, Intan Siswi MA Unggulan Nuris Sukses Raih Juara di MHQ 10 Juz

Inspired dari Hafizah Cilik, Intan Gaspol Sampai Juara!

Pesantren Nuris — MA Unggulan Nuris kembali menorehkan catatan prestasi membanggakan melalui salah satu siswinya, Intan Nur Aini, siswa kelas XII D yang berasal dari Sabrang, Ambulu, Jember. Sosok yang akrab dipanggil Intan ini berhasil meraih Juara 2 dalam ajang Musabaqah Hifzhil Qur’an 10 Juz “MANBA’AN II” tingkat sekolah, sebuah ajang tahfidz yang digelar secara rutin oleh madrasah sebagai bentuk pembinaan sekaligus sarana pengembangan kemampuan siswa dalam menghafal Al-Qur’an. Prestasi yang diraih Intan bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membuktikan bahwa madrasah berhasil menumbuhkan lingkungan belajar yang mendorong munculnya generasi muda yang kuat dalam hafalan dan berani tampil.

Dalam kesehariannya, Intan dikenal sebagai pribadi yang tekun, senang belajar, dan memiliki hobi menggambar. Meski minatnya di bidang seni cukup kuat, hal itu tidak menghalangi komitmennya dalam menjaga hafalan Al-Qur’an. Ia justru merasa bahwa menggambar sering menjadi cara baginya untuk menenangkan pikiran sebelum kembali fokus pada hafalan. Cita-citanya menjadi seorang guru menjadikan Intan semakin termotivasi untuk terus mengembangkan diri, sebab menurutnya seorang pendidik harus memiliki kedisiplinan yang kuat, kebiasaan belajar yang konsisten, serta kemauan untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Alasan Intan mengikuti lomba ini juga cukup sederhana, tetapi penuh tekad. Ia mengatakan bahwa dirinya memang ingin ikut karena dorongan dari ustadzah serta teman-teman yang selalu memberi semangat agar ia mencoba kemampuan yang sudah ia miliki selama ini. Ia juga melihat bahwa kesempatan mengikuti lomba tanpa harus mengeluarkan biaya membuatnya semakin yakin untuk melangkah. Bagi Intan, mencoba lebih baik daripada hanya menyimpan kemampuan tanpa pernah tahu sejauh mana ia bisa berkembang. Itulah yang membuatnya mantap mendaftar dan mengambil tantangan untuk tampil dalam kategori 10 juz, kategori yang membutuhkan ketelitian dan daya hafalan yang kuat.

(Baca juga : Menggapai Harapan, Menyongsong Masa Depan Potret Aflahah Auliya Alumni MA Unggulan Nuris yang Membanggakan)

Motivasi lain yang membuat Intan merasa terdorong ialah kebiasaannya menonton para hafizah kecil di televisi. Melihat anak-anak yang seusia atau bahkan lebih muda darinya mampu menghafalkan Al-Qur’an dengan lancar membuat Intan merasa bahwa dirinya pun bisa melakukan hal yang sama. Perasaan kagum itu perlahan berubah menjadi dorongan nyata yang membuatnya tekun memperbaiki bacaan, memperkuat hafalan, serta mengatur ulang rutinitas harian agar lebih fokus pada proses persiapan lomba. Meski begitu, perjalanan menuju lomba tidak selalu berjalan mulus, karena menurutnya kesulitan terbesar bukan terletak pada ayat-ayat panjang atau struktur hafalan, tetapi bagaimana melawan rasa malas yang sering datang di waktu yang tidak terduga.

Untuk menyiasati rasa malas tersebut, Intan membuat kebiasaan baru yaitu mengaji setiap kali memiliki waktu kosong. Ia tidak menunggu mood atau suasana yang sempurna untuk memulai murojaah, tetapi justru memanfaatkan sela-sela waktu seperti jeda setelah pelajaran, waktu istirahat, atau malam hari sebelum istirahat. Selain itu, ia juga meminta bantuan teman dekatnya untuk melakukan “tebak-tebakan” ayat sebagai cara melatih hafalan. Temannya akan menyebutkan potongan ayat untuk kemudian dilanjutkan oleh Intan, atau memberi nomor halaman tertentu untuk ia baca sesuai hafalan. Metode sederhana itu ternyata berpengaruh besar dan membantu Intan memastikan bahwa hafalan 10 juz miliknya tetap stabil.

Menjelang perlombaan, Intan semakin memperkuat persiapannya dengan banyak melakukan murojaah mandiri dan memperbaiki bagian-bagian yang masih kurang lancar. Ia tidak hanya menekankan hafalan, tetapi juga kejelasan bacaan serta ketepatan makhraj, sebab ia tahu bahwa aspek tersebut termasuk poin penting dalam penilaian. Ketika hari perlombaan tiba, Intan berusaha menjaga ketenangan dan mengingat kembali semua latihan yang sudah ia lakukan. Meskipun ada rasa tegang, ia tetap yakin bahwa apa pun hasilnya, proses panjang yang ia jalani sudah menjadi pencapaian tersendiri.

Saat pengumuman juara disampaikan, Intan mengaku merasa sangat lega dan bersyukur karena nama dirinya tercatat sebagai Juara 2 kategori Hifzhil Qur’an 10 Juz tingkat sekolah. Perasaan itu menurutnya bukan hanya karena memenangkan piala, tetapi karena ia mampu membuktikan kepada diri sendiri bahwa usaha yang dilakukan secara konsisten tidak akan sia-sia. Kemenangan ini juga menjadi salah satu alasan ia semakin percaya diri untuk mencoba jenjang lomba eksternal di kemudian hari. Intan berharap dapat meningkatkan kualitas hafalan, memperbaiki bacaan, dan memperluas kemampuan agar dapat bersaing di tingkat yang lebih tinggi.

Di akhir wawancara, Intan memberikan pesan sederhana namun bermakna, yaitu agar siapa pun yang sedang menghafal Al-Qur’an tidak lupa untuk terus murojaah meskipun tidak sedang menghadapi lomba. Ia juga mengingatkan pentingnya bersyukur atas segala nikmat, termasuk nikmat ilmu dan kemampuan untuk menghafal. Menurutnya, rasa syukur akan membuat seseorang lebih ringan menjalani proses dan tidak mudah menyerah.

Harapan Intan ke depan cukup jelas: ia ingin bisa tampil lebih baik, lebih siap, dan lebih matang saat mengikuti lomba-lomba berikutnya, baik di dalam maupun di luar sekolah. Ia juga ingin membahagiakan orang tua serta membawa nama baik madrasah melalui prestasi yang lebih tinggi. Dengan segala usaha yang sudah ia lakukan, Intan merasa lebih siap melangkah ke jenjang berikutnya, membawa pengalaman berharga dari MANBA’AN II sebagai bekal penting dalam perjalanan pendidikan dan hafalannya. [LA.Red]

 

Nama       : Intan Nur Aini

Hobi         : Menggambar

Cita2        : Guru

Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember (XII D)

Prestasi   : Juara 2 Musabaqah Hifzhil Qur’an 10 Juz “MANBA’AN II” tingkat Sekolah yang diselenggarakan oleh MA Unggulan Nuris

Related Post