Sempat Pesimis Lihat Soal Tahun Lalu, Hisyam Buktikan Tidak Ada yang Tidak Mungkin!
Pesantren Nuris – Masih di panggung kemegahan kompetisi sains tingkat nasional, MI Unggulan Nuris Jember rupanya tidak hanya mendelegasikan satu jagoan saja. Jika sebelumnya kita sudah mengupas kisah inspiratif Fahmi yang berhasil meraih medali emas, kini giliran rekan seperjuangannya yang turut mencatatkan nama harum madrasah. Ya, dia adalah Hisyam Ramaditya, siswa cerdas dari kelas 6-A yang punya cerita perjuangan tak kalah seru dan menegangkan.
Dalam ajang bergengsi OLIPA 7 Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh MGMP IPA Kabupaten Jember pada hari Sabtu, 7 Februari 2026, Hisyam berhasil mengamankan posisi Juara Harapan 3 dan berhak membawa pulang Medali Perak untuk Olimpiade IPA kategori Level 3. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa barisan siswa kelas akhir di madrasah ini memiliki kualitas akademik yang sangat tangguh di kancah nasional.
Menariknya, kisah di balik perolehan medali perak ini penuh dengan dinamika. Menjadi siswa kelas 6 di semester akhir tentu bukan hal yang mudah. Jadwal kegiatan sekolah yang sudah sangat padat, mulai dari pemantapan materi, try out, hingga persiapan ujian kelulusan, membuat waktu luang menjadi barang langka. Di tengah himpitan jadwal yang padat merayap itulah, Hisyam harus membagi fokusnya untuk menghadapi kerasnya kompetisi sains.
(Baca juga : Jasmine, Siswi MI Unggulan Nuris Jember Berhasil Memukau Para Juri dengan Bait Puisinya!)
Sang pembina yang dengan setia mendampinginya setiap pagi, Ustadzah Fersty, mengungkapkan betapa menantangnya proses persiapan Hisyam kali ini. Sebelum bertanding, Hisyam rupanya sempat goyah dan merasa kurang percaya diri.
“Hisyam selalu menganggap soal-soal OLIPA di tahun-tahun sebelumnya itu sangat sulit,” ungkap Ustadzah Fersty menceritakan keluh kesah anak didiknya tersebut.
Namun, mental seorang petarung tidak dibiarkan jatuh begitu saja. Sebagai guru, Ustadzah Fersty hadir memberikan suntikan motivasi yang luar biasa. Beliau tidak henti-hentinya memompa semangat Hisyam yang sempat pesimis.
“Saya selalu sampaikan kepada Hisyam, tidak ada yang tidak mungkin. Ayo diusahakan dulu,” tegas Ustadzah Fersty, merapal kalimat penyemangat untuk membangkitkan keberanian Hisyam agar berani mencoba.
Tantangan terberat mereka justru ada pada keterbatasan waktu. Bayangkan saja, dengan beban materi tingkat nasional yang begitu rumit, pembinaan olimpiade untuk Hisyam hanya bisa dilakukan sebanyak dua kali pertemuan! “Pembinaan dua kali itupun sejujurnya tidak efektif, karena kegiatan kelas 6 sudah sangat padat. Saat bimbingan, ia hanya sempat mengerjakan beberapa soal saja,” tambah Ustadzah Fersty.
Lalu, bagaimana Hisyam bisa bertarung di arena nasional dan bahkan meraih medali perak dengan persiapan seadanya? Jawabannya ada pada fondasi pemahaman sainsnya yang sudah tertanam sangat kuat. Menurut Ustadzah Fersty, saat berlaga, Hisyam murni mengandalkan tabungan ilmu yang sudah ia pelajari jauh-jauh hari. “Sisanya, Hisyam hanya menggunakan pengetahuan yang dia punya sebelumnya,” jelas beliau. Fakta ini justru membuat raihan perak tersebut terasa semakin hebat dan sangat berharga.
Tentu saja, dalam setiap kompetisi, selalu ada ruang untuk evaluasi. Terkait kegagalan Hisyam menembus medali emas, Ustadzah Fersty memberikan analisis yang sangat objektif dan membangun. “Mungkin gagalnya Hisyam tidak mendapat emas adalah karena ada beberapa materi Fisika yang ia lupa, serta kurang teliti dalam menghitung pada saat babak final,” evaluasinya dengan bijak. Sebuah human error yang sangat wajar terjadi, mengingat minimnya waktu untuk persiapan.
Terlepas dari sedikit miss di babak final tersebut, rasa bangga Ustadzah Fersty terhadap Hisyam tidak berkurang sedikitpun. Melihat anak didiknya tetap mau berjuang di tengah kelelahan jadwal kelas 6, adalah sebuah kemenangan mental tersendiri. “Hisyam sudah bekerja keras di penghujung kelas 6 ini. Dan ternyata masih bisa dapat perak, ini masih tergolong sangat hebat!” pungkas beliau dengan senyum penuh apresiasi.
Dari kisah Hisyam, kita semua belajar bahwa pentingnya memiliki fondasi belajar yang kuat sejak dini dan keberanian untuk mencoba meski situasi sedang tidak sempurna. Terima kasih, Hisyam, telah memberikan kado perak yang indah di penghujung masa belajarmu di madrasah ini. Jadikan evaluasi hari ini sebagai bekal ketelitianmu kelak di jenjang SMP. Selamat, jagoan sains kelas 6-A! Semoga prestasimu menjadi inspirasi bagi siswa-siswi MI Unggulan Nuris lainnya! [FE.Red]
Nama : Hisyam Ramaditya
Kelas : 6-A
Lembaga : MI Unggulan Nuris Jember
Prestasi : Medali Perak (Juara Harapan 3) Olimpiade IPA Level 3
Tingkat : Nasional
Ajang : OLIPA 7
Tanggal : 7 Februari 2026
