Ciptakan Lingkungan Belajar Aman, Pesantren Nuris Gelar Sosialisasi Anti Perundungan dan Kekerasan Seksual Selama Tiga Hari

Ratusan Siswa SMA, SMK, dan MA Unggulan Nuris Ikuti Edukasi Anti Bullying

Pesantren Nuris – Sosialisasi anti perundungan dan kekerasan seksual digelar selama tiga hari berturut-turut pada 3–5 Februari 2026 di Masjid Baitunnur Pesantren Nuris Jember. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 10 hingga kelas 12 dari lembaga SMA, SMK, dan MA Unggulan Nuris Jember secara bergiliran. Pada Selasa, 3 Februari, kegiatan diikuti siswa kelas 10, dilanjutkan kelas 11 pada Rabu, 4 Februari, dan ditutup oleh partisipasi siswa kelas 12 pada Kamis, 5 Februari 2026.

Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk komitmen pesantren dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan maupun kekerasan seksual. Sosialisasi menghadirkan narasumber profesional, Enyke Rosyita, S.Psi, M.Psi, Psikolog, yang memberikan pemahaman mendalam terkait pentingnya kesadaran bersama dalam mencegah perilaku negatif di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapatkan materi tentang definisi perundungan dan kekerasan seksual, bentuk-bentuk yang sering terjadi di kalangan remaja, serta dampak psikologis yang dapat ditimbulkan bagi korban. Selain itu, siswa juga diajak berdiskusi secara interaktif mengenai cara mengenali tanda-tanda perundungan, pentingnya empati, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan jika mengalami atau menyaksikan tindakan yang tidak pantas.

(Baca juga : SMK Nuris Jember Gencar Sosialisasi SPMB, Hadirkan Produk Nyata dari Servis Murah hingga Bazar Nuris Bakery)

Enyke Rosyita menekankan bahwa edukasi seperti ini tidak cukup dilakukan sekali saja. Ia menyampaikan bahwa kasus perundungan dan kekerasan seksual masih menjadi persoalan nyata di sekitar lingkungan remaja, sehingga perlu adanya penguatan pemahaman secara berkelanjutan. “Kegiatan sosialisasi seperti ini harus terus diulang dan diperkuat. Perundungan dan kekerasan seksual masih menjadi penyakit sosial yang ada di sekitar kita, sehingga semua pihak perlu meningkatkan kesadaran, kepedulian, dan keberanian untuk bersikap,” ujarnya di hadapan para peserta.

Tidak hanya pemaparan materi, kegiatan ini juga diisi dengan sesi refleksi dan tanya jawab yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pengalaman, pertanyaan, maupun pandangan mereka terkait isu yang dibahas. Suasana diskusi berlangsung hangat dan terbuka, menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam memahami pentingnya menjaga sikap saling menghormati.

Pesantren Nuris Jember berharap kegiatan ini mampu membentuk karakter siswa yang lebih peduli terhadap sesama serta berani menolak segala bentuk tindakan yang merugikan orang lain. Selain itu, sosialisasi ini juga diharapkan dapat memperkuat budaya positif di lingkungan pesantren, sehingga tercipta ruang belajar yang aman dan kondusif bagi seluruh santri.

Dengan terlaksananya kegiatan selama tiga hari ini, Pesantren Nuris Jember menunjukkan komitmennya dalam memberikan edukasi preventif kepada para siswa. Melalui pendekatan edukatif dan dialogis, para peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai kebaikan, saling menghargai, serta menjaga martabat diri dan orang lain di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari. (AGL/FNF.Red)

Related Post