Sulap Pelajaran Aqidah Akhlak Jadi Ajang Kreativitas Siswa Lewat Project-Based Learning
Pesantren Nuris – Suasana kelas IV-B di MI Unggulan Nuris pada hari Selasa, 5 Januari 2026 lalu terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada pemandangan siswa yang duduk diam mendengarkan ceramah guru hingga mengantuk. Sebaliknya, ruang kelas justru dipenuhi dengan celoteh riang dan kesibukan siswa yang sedang asyik berdiskusi. Ternyata, hari itu Ustadz M. Rizki Maulana, S.Pd., atau yang akrab disapa Ustadz Lana, sedang menerapkan metode Fun Learning yang bikin siswa betah belajar.
Materi yang dibawakan hari itu sebenarnya sangat dekat dengan keseharian siswa, yaitu tentang “Adab Berteman” pada mata pelajaran Aqidah Akhlak. Namun, di tangan Ustadz Lana, materi yang biasanya hanya berisi hafalan poin-poin adab ini disulap menjadi sebuah petualangan belajar yang seru. Ustadz Lana memilih tidak menggunakan metode konvensional, melainkan menerapkan metode Project-Based Learning (PjBL) atau pembelajaran berbasis proyek.
Pilihan metode ini tentu bukan tanpa alasan. Ustadz Lana ingin mendobrak kebiasaan lama agar pembelajaran menjadi jauh lebih inovatif dan tidak membosankan. “Materi ini sengaja saya pilih untuk diterapkan dengan metode Project-Based Learning agar pembelajaran menjadi lebih kreatif, aktif, dan menyenangkan. Saya ingin anak-anak lebih mudah memahami materi bukan lewat tulisan di papan tulis, tapi melalui praktik langsung,” ungkap Ustadz Lana ketika ditanya apa alasan diterapkannya materi ini dengan metode Project-Based Learning.
(Baca juga : Bakat Terpendam Akhirnya Bersinar! Hanif, Siswa MI Unggulan Nuris Jember Raih Juara 2 MTQ!)
Lantas, bagaimana keseruannya? Penerapan metode ini dimulai dengan membagi siswa kelas IV-B ke dalam beberapa kelompok kecil. Di sinilah tantangan dimulai. Setiap kelompok tidak disuruh mengerjakan soal-soal yang ada di buku, melainkan diberikan misi khusus untuk membuat proyek kreatif terkait adab berteman. Pilihannya sangat menarik, mulai dari membuat poster warna-warni, merancang drama pendek, hingga kegiatan kreatif lainnya.
Sontak saja, kelas menjadi bengkel kreativitas dadakan. Siswa tampak antusias bekerja sama menyusun proyek mereka. Ada yang sibuk menggambar poster dengan pesan-pesan persahabatan, ada pula yang berlatih peran untuk drama pendek, mengatur siapa yang jadi teman baik dan siapa yang melanggar adab. Di akhir sesi, setiap kelompok dengan bangga mempresentasikan hasil karyanya di depan teman-temannya, lalu ditutup dengan sesi refleksi bersama.
Metode belajar sambil berkarya ini terbukti sangat ampuh. Menurut Ustadz Lana, metode ini sangat membantu siswa untuk lebih mudah memahami materi. Alasannya sederhana: mereka belajar melalui pengalaman langsung. Ketika mereka memerankan adab yang baik dalam drama, atau menuliskan pesan kebaikan di poster, nilai-nilai tersebut meresap lebih dalam dibandingkan sekadar menghafal.
“Siswa dapat mempraktikkan nilai-nilai adab berteman secara nyata, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Apa yang mereka pelajari di kelas jadi lebih mudah mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari karena mereka sudah mengalaminya lewat simulasi proyek tadi,” tambah Ustadz Lana dengan antusias.
Lebih dari sekadar nilai akademis di atas kertas, Ustadz Lana memiliki harapan besar terkait pembentukan karakter anak didiknya. Melalui pembelajaran yang interaktif ini, beliau berharap benih-benih karakter mulia bisa tumbuh subur di hati siswa-siswi MI Unggulan Nuris.
“Harapan saya setelah pembelajaran ini adalah agar siswa memiliki karakter yang lebih baik ke depannya. Saya ingin melihat mereka tumbuh menjadi anak yang saling menghormati, jujur, dan peduli kepada teman, mampu bekerja sama, serta terbiasa menerapkan adab dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.” tutur Ustadz Lana.
Pada akhirnya, tujuan utama dari Fun Learning ini adalah agar siswa terbiasa menerapkan adab dan akhlak mulia dalam kehidupan nyata, bukan hanya saat ada guru. Dengan cara mengajar yang asyik seperti ini, Ustadz Lana membuktikan bahwa pelajaran Aqidah Akhlak bisa menjadi pelajaran favorit yang dinanti-nanti, sekaligus mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak terpuji. [FE.Red]
