Tinggalkan Cara Lama, Metode “Game-Based Learning” Bikin Siswa Gregetan!
Pesantren Nuris – Setelah kita mengintip keseruan kelas 2-A bermain tebak profesi, ternyata euforia belajar yang menyenangkan juga menular ke kelas-kelas lainnya. Pada hari Kamis, 26 Februari 2026, giliran siswa-siswi dari kelas 2-B, 2-C, dan 2-D MI Unggulan Nuris Jember yang merasakan pengalaman belajar seru dan berbeda. Kali ini, mata pelajaran yang biasanya dianggap sulit, yakni Bahasa Inggris, disulap menjadi arena permainan yang penuh gelak tawa oleh Ustadzah Viva.
Guru pengampu Bahasa Inggris yang kreatif inilah yang menjadi dalang di balik keramaian positif hari itu. Beliau menyadari bahwa mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak usia SD/MI tidak bisa dilakukan dengan metode ceramah yang kaku. Oleh karena itu, Ustadzah Viva menerapkan metode Game-Based Learning atau pembelajaran berbasis permainan untuk materi Kosakata Hewan (Animals Vocabulary).
Keputusan Ustadzah Viva untuk menggunakan metode permainan ini didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap karakter siswanya. “Materi kosakata hewan dipilih karena sesuai dengan karakter siswa sekolah dasar yang suka bermain dan belajar secara visual,” ungkap beliau. Ustadzah Viva ingin menghapus stigma bahwa, menghafal kosakata itu sangat membosankan.
“Dengan metode permainan menebak gambar, siswa menjadi lebih antusias, aktif, dan tidak merasa sedang dipaksa untuk menghafal kosakata. Jadi belajar terasa lebih menyenangkan dan bermakna bagi mereka,” tambah Ustadzah Viva ketika menjelaskan filosofi di balik kelasnya yang meriah.
(Baca juga : Belajar Sambil Bermain Tebak-Tebakan! Keseruan Siswa MI Unggulan Nuris Jember Mengenal Dunia Profesi)
Penerapan permainannya pun sangat sederhana namun efektif memancing keberanian para siswa. Ustadzah Viva memulainya dengan menampilkan gambar hewan misterius tanpa menyebutkan namanya. Gambar-gambar hewan seperti gajah, ular, harimau, hingga ulat bulu ditampilkan satu per satu di depan kelas.
Tantangannya, para siswa harus menebak nama hewan tersebut dalam Bahasa Inggris. Sontak saja, suasana kelas langsung pecah. Tangan-tangan mungil berebut diacungkan ke udara. Ada yang berteriak lantang.
Keseruan semakin terasa ketika ada siswa yang salah menjawab. Bukannya dimarahi, momen itu justru menjadi kesempatan bagi teman lainnya untuk saling membantu dan mengoreksi. “Jika salah, teman lain boleh mencoba menjawab.”
Interaksi ini membuat suasana kelas menjadi sangat suportif dan kompetitif dalam artian yang positif.
Menurut Ustadzah Viva, metode ini terbukti sangat ampuh. Siswa tidak hanya sekadar melihat tulisan di buku paket, tetapi mereka melihat visual gambar dan langsung mempraktikkan cara pengucapannya. Tanpa sadar, keterampilan speaking berbicara dan pelafalan mereka ikut terlatih secara alami di tengah keasyikan bermain.
“Siswa belajar mengenali, mengucapkan, dan memahami arti berbagai nama hewan. Jadi mereka tidak hanya hafal, tapi juga paham,” ujar Ustadzah Viva. Beliau melihat perubahan yang signifikan di mana anak-anak yang biasanya malu-malu, kini menjadi lebih berani bersuara untuk menjawab tebakan.
Di akhir sesi pembelajaran yang penuh semangat tersebut, Ustadzah Viva menaruh harapan besar. Beliau ingin pengalaman manis belajar Bahasa Inggris ini membekas di hati para siswa kelas 2. “Harapannya siswa tidak hanya hafal kosakata, tetapi juga berani berbicara dalam Bahasa Inggris,” tutur beliau.
Lebih dari itu, Ustadzah Viva ingin menanamkan pola pikir baru. “Semoga mereka merasa bahwa belajar Bahasa Inggris itu menyenangkan, bukan menakutkan. Dengan pengalaman belajar yang positif, diharapkan mereka semakin percaya diri dan termotivasi untuk belajar lebih lanjut.”
Wah, seru sekali ya cara belajar adik-adik kelas 2 ini! Kalau belajarnya asyik begini, pasti Bahasa Inggris bakal jadi pelajaran favorit di MI Unggulan Nuris. Good job, Ustadzah Viva dan anak-anak hebat!Barakallah! [FE.Red]
