Kelas 6 Tampil Keren dengan Ujian Digital, Sedangkan Adik Kelasnya Tetap Semangat dengan Ujian Manual
Pesantren Nuris – Setelah puas memborong piala dari berbagai ajang perlombaan dan menikmati serunya belajar sambil bermain game di kelas, kini saatnya siswa-siswi MI Unggulan Nuris Jember kembali ke mode fokus mereka. Suasana madrasah yang biasanya riuh dengan gelak tawa, kini berubah menjadi lebih hening dan khidmat. Mulai hari Jumat, 27 Februari 2026 hingga 7 Maret 2026 mendatang, seluruh siswa tengah menghadapi momen penting dalam kalender akademik mereka.
Kegiatan ini digelar serentak untuk mengevaluasi hasil belajar siswa pada Tahun Pelajaran 2025/2026. Namun, ada pemandangan yang cukup kontras dan menarik jika kita mengintip ke dalam ruang-ruang kelas. Madrasah menerapkan dua sistem ujian yang berbeda sesuai dengan jenjang kelasnya, memadukan tradisi tulis-menulis dengan kemajuan teknologi modern.
Bagi siswa kelas 6 yang kini menduduki kasta tertinggi di madrasah, tantangan yang mereka hadapi bernama Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT). Berbeda dengan adik-adik kelasnya, para calon lulusan ini mengerjakan soal-soal ujian secara digital menggunakan perangkat gawai.
(Baca juga : Belajar Sambil Bermain Tebak-Tebakan! Keseruan Siswa MI Unggulan Nuris Jember Mengenal Dunia Profesi)
Ustadzah Nining, yang kali ini berbicara mewakili Tim Kurikulum, menjelaskan alasan kuat di balik penerapan ujian digital bagi kelas akhir ini. Menurut beliau, ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah kebutuhan zaman. “Tujuannya agar siswa lebih mengenal IT dan bisa mengikuti perkembangan zaman yang semakin canggih,” ujar Ustadzah Nining. Madrasah ingin memastikan lulusannya tidak gagap teknologi saat melangkah ke jenjang SMP nanti.
Sementara itu, di lorong kelas lain, suasana nostalgia ujian klasik masih terasa sangat kental. Siswa kelas 1 hingga kelas 5 sedang menempuh Sumatif Tengah Semester (STS). Mereka masih setia menggunakan kertas dan pensil manual seperti biasa. Meski tanpa gadget yang canggih, semangat mereka tak kalah membara.
“Siswa sangat antusias dalam mengikuti ujian ini,” lapor Ustadzah Nining ketika menggambarkan suasana di kelas bawah. Wajah-wajah serius namun polos tampak berhati-hati memilih lembar jawaban, berusaha mengingat kembali materi yang sudah diajarkan oleh asatidz mereka.
Tentu saja, pelaksanaan hari pertama pada Jumat kemarin tidak luput dari dinamika di lapangan. Ustadzah Nining mengakui sempat ada drama kecil yang mewarnai jalannya ujian digital, namun hal itu masih dalam batas wajar. “Alhamdulillah untuk ujian hari ini berjalan sesuai rencana, walaupun ada sedikit kendala di awal yaitu internet yang lemot,” akunya dengan jujur.
Beliau menambahkan bahwa kendala sinyal tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh faktor alam. Namun, berkat kesigapan tim proktor dan teknisi madrasah, kendala tersebut dapat diatasi sehingga ujian tetap bisa dilanjutkan hingga tuntas. “Ya, Alhamdulillah STS dan ASAT hari pertama berjalan dengan lancar,” tegasnya meyakinkan.
Di balik lembar-lembar soal dan layar digital tersebut, terselip harapan besar dari para guru. Ustadzah Nining menuturkan bahwa ujian ini bukan hanya tentang angka bagi siswa, tetapi juga cermin bagi para pendidik.
“Semoga semua siswa dapat mengikuti ujian dengan baik dan lancar, serta mendapat nilai yang bagus,” doa Ustadzah Nining. Namun, pesan beliau untuk para guru jauh lebih mendalam. “Dan bagi para guru, semoga dari nilai yang didapatkan siswa nanti, dapat menjadi pemicu dalam meningkatkan keprofesionalan dalam mengajar,” pungkasnya.
Semangat berjuang untuk seluruh siswa MI Unggulan Nuris Jember! Jangan lupa berdoa sebelum mengerjakan soal, teliti dalam menjawab, dan jujur dalam bertindak. Semoga hasil ujian kali ini memuaskan dan membawa berkah ilmunya. [FE.Red]
