Menorehkan Asa di Atas Kertas: Ayi Siswi MA Unggulan Nuris di Ajang Menulis Cerpen

Menyulam Mimpi Lewat Kata

Pesantren Nuris — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh salah satu siswi terbaik dari MA Unggulan Nuris Jember. Iftitah Najah Ulayya Setyawan, yang akrab disapa Ayi, berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Menulis Cerpen Tingkat Lembaga pada Tahun Pelajaran 2025/2026. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa ketekunan, keberanian, dan kecintaan terhadap dunia literasi mampu mengantarkan seorang pelajar menuju prestasi gemilang.

Ayi merupakan siswi kelas XI D yang berasal dari Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari, Jember. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pribadi yang gemar membaca, menulis, dan berangan-angan. Kebiasaan tersebut perlahan membentuk karakter imajinatif dan kreatif dalam dirinya. Dunia kata-kata menjadi ruang aman sekaligus tempat ia mengekspresikan pikiran, perasaan, serta pandangannya terhadap kehidupan.

Dalam kesehariannya, Ayi memiliki cita-cita yang terbilang unik dan penuh makna. Ia ingin menjadi tokoh fiksi, penulis, sekaligus mendalami dunia psikologi. Baginya, ketiga hal tersebut saling berkaitan. Menjadi tokoh fiksi berarti mampu menghadirkan karakter yang hidup dalam cerita, menjadi penulis berarti mampu menyuarakan isi hati melalui tulisan, sementara psikologi membantunya memahami sisi terdalam manusia. Kombinasi inilah yang kemudian memperkaya karya-karya sastra yang ia hasilkan.

Keikutsertaan Ayi dalam lomba menulis cerpen tidak datang secara tiba-tiba. Ia memiliki alasan kuat di balik keputusannya mengikuti ajang tersebut. Tema lomba yang mengangkat kehidupan pesantren membuatnya tertarik untuk menuangkan isi pikiran sekaligus menjelajah makna “kota santri” melalui cerita. Ia ingin menghadirkan gambaran pesantren tidak hanya sebagai tempat belajar agama, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya mimpi, persahabatan, dan perjuangan para santri.

(Baca juga : Tak hanya Kuasai Nazam Alfiyah, Santri MA Unggulan Nuris juga Raih Medali Perak Cendekia Islamic Competition 2026)

Motivasi terbesar Ayi dalam berkarya datang dari keluarga, terutama kedua orang tuanya. Dukungan yang terus mengalir serta besarnya harapan sang ayah agar ia kelak menjadi seorang penulis, menjadi bahan bakar semangat dalam setiap langkahnya. Bagi Ayi, menulis bukan sekadar hobi, melainkan bentuk tanggung jawab untuk mewujudkan harapan orang tua yang selalu mendoakan kesuksesannya.

Namun, perjalanan menuju prestasi tentu tidak selalu mulus. Ayi mengakui bahwa dalam menulis karya sastra, ia sering mengalami kesulitan dalam menyusun outline atau kerangka cerita, terutama ketika menulis cerpen. Terkadang, ide sudah memenuhi kepala, tetapi sulit dirangkai menjadi alur yang runtut dan menarik. Hal ini sempat membuatnya merasa ragu dan kurang percaya diri terhadap kemampuannya sendiri.

Meski demikian, Ayi tidak menyerah. Ia berusaha mencari cara untuk mengatasi hambatan tersebut. Salah satu langkah yang ia lakukan adalah mempersiapkan berbagai pilihan diksi baru yang indah dan bervariasi. Ia rajin membaca karya sastra, mencatat kata-kata menarik, serta berlatih merangkai kalimat agar tulisannya tidak monoton. Proses ini ia jalani dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

Dalam persiapannya mengikuti lomba, Ayi juga meluangkan waktu khusus untuk menulis secara rutin. Ia membiasakan diri menuangkan ide-ide kecil dalam catatan harian, kemudian mengembangkannya menjadi cerita utuh. Dari kebiasaan inilah, kemampuan menulisnya semakin terasah dan matang. Ia belajar bahwa menulis bukan hanya soal bakat, tetapi juga soal latihan yang konsisten.

Kemenangan yang diraihnya dalam lomba cerpen menjadi momen yang sangat berarti. Setelah sekian lama kehilangan kepercayaan diri dalam menulis, prestasi ini seolah menjadi titik balik dalam hidupnya. Ayi mengaku sangat bahagia karena akhirnya bisa kembali menulis dengan penuh keyakinan. Rasa ragu yang dulu menghantui perlahan tergantikan oleh semangat baru untuk terus berkarya.

Dalam kesempatan wawancara, Ayi menyampaikan pesan dan kesan yang mendalam. Ia berpesan kepada dirinya sendiri agar selalu lebih semangat dalam mengejar impian, khususnya untuk membahagiakan ayah dan bundanya. Sementara itu, kesan yang ia rasakan selama mengikuti lomba adalah kebahagiaan karena bisa berbagi cerita kepada dunia tentang kehidupan pesantren melalui karyanya.

Ayi juga menyampaikan harapannya kepada pihak sekolah. Ia berharap MA Unggulan Nuris dapat terus membantu siswa-siswinya agar lebih mudah mengikuti berbagai lomba, terutama di bidang sastra seperti cerpen dan puisi. Menurutnya, kesempatan mengikuti lomba sebaiknya tidak hanya dibatasi pada siswa yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler tertentu. Banyak siswa MA yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menuangkan isi pikiran, termasuk dalam menulis tentang pengalaman dan perasaan mereka.

Selain itu, Ayi juga berharap agar sekolah dapat lebih banyak mencetak dan menerbitkan buku karya siswa. Dengan adanya buku tersebut, hasil kreativitas pelajar tidak hanya tersimpan di lembar lomba, tetapi juga dapat dibaca oleh masyarakat luas dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Dalam kegiatan sekolah, Ayi aktif mengikuti ekstrakurikuler KIR Keagamaan. Melalui kegiatan ini, ia terbiasa berpikir kritis, meneliti, dan menuangkan gagasan secara sistematis. Pengalaman di KIR turut membentuk kedisiplinan dan ketekunan yang sangat membantunya dalam dunia kepenulisan.

Prestasi yang diraih Ayi tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga mengharumkan nama sekolah dan daerah asalnya. Keberhasilannya membuktikan bahwa siswa dari daerah, dengan segala keterbatasannya, mampu bersaing dan meraih prestasi jika dibekali dengan semangat, dukungan, dan kerja keras.

Ayi menjadi inspirasi bagi banyak pelajar lainnya. Ia menunjukkan bahwa kegagalan, keraguan, dan keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari proses itulah seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan percaya diri. Dengan menulis, Ayi tidak hanya meraih juara, tetapi juga menemukan kembali jati dirinya.

Ke depan, Ayi bertekad untuk terus mengembangkan kemampuan menulisnya. Ia ingin menghasilkan lebih banyak karya yang bermanfaat, menginspirasi, dan sarat nilai kehidupan. Dengan semangat yang tak pernah padam, ia melangkah mantap menuju masa depan sebagai penulis muda yang membanggakan.

Prestasi ini diharapkan menjadi awal dari perjalanan panjang Ayi dalam dunia literasi. Semoga semangatnya dapat menular kepada generasi muda lainnya untuk berani bermimpi, berani berkarya, dan berani memperjuangkan cita-cita melalui jalan yang positif dan bermakna. [LA.Red]

 

Nama            : Iftitah Najah Ulayya Setyawan

Hobi              : Membaca, menulis, dan berangan-angan

Cita2              : Penulis, sekaligus mendalami dunia psikologi

Lembaga       : MA Unggulan Nuris Jember

Kelas Formal : XI D

Prestasi          : Juara 1 dalam ajang Menulis Cerpen Tingkat Lembaga pada Tahun Pelajaran 2025/2026

Related Post