Tak Menyerah pada Sulitnya Nadhom Imrithi
Pesantren Nuris — Perjalanan menuntut ilmu sering kali menuntut keberanian untuk meninggalkan kampung halaman demi menggapai masa depan yang lebih baik. Hal itulah yang dilakukan oleh Mauliyatut Tazkiyatul Arifin, siswi kelas XII C MA Unggulan Nuris Jember yang berhasil menorehkan capaian membanggakan dengan mengkhatamkan 10 kitab selama menempuh pendidikan di lingkungan Pesantren Nurul Islam Jember.
Siswi yang akrab disapa Liya ini berasal dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Jarak yang jauh dari keluarga tidak menyurutkan langkahnya untuk belajar dan menimba ilmu di lingkungan pesantren. Justru pengalaman merantau tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter, kemandirian, dan kedewasaan dirinya selama menjadi santri.
Liya dikenal sebagai pribadi yang sederhana, ramah, dan memiliki semangat belajar yang baik. Di sela kesibukannya sebagai santri dan pelajar, ia memiliki hobi memasak. Kegemaran tersebut menjadi salah satu cara baginya untuk menyalurkan kreativitas dan mengisi waktu luang ketika tidak sedang belajar.
Di balik sosoknya yang tenang, Liya memiliki cita-cita besar. Ia ingin menjadi seorang bos muda yang sukses dan mampu memberikan manfaat bagi banyak orang. Cita-cita tersebut menjadi motivasi tersendiri baginya untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan diri, dan mempersiapkan masa depan sejak dini.
(Baca juga : Saat Banyak Remaja Sibuk Tren, Aqmarina Sibuk Menuntaskan 13 Kitab di MA Unggulan Nuris Jember)
Selama menempuh pendidikan di MA Unggulan Nuris Jember dan Pesantren Nurul Islam Jember, Liya berhasil menyelesaikan pembelajaran 10 kitab yang menjadi bagian penting dari kurikulum diniyah. Kitab-kitab yang berhasil dikhatamkan meliputi Aqidatul Awam, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Taqrib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Amtsilah Tasrifiyah, Kailani, dan Fiqih Tradisionalis.
Setiap kitab memiliki materi dan karakteristik yang berbeda. Ada yang membahas dasar-dasar akidah, adab dalam menuntut ilmu, tata bahasa Arab, hingga hukum-hukum fikih yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Menyelesaikan seluruh kitab tersebut tentu membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan komitmen yang tinggi.
Dalam proses belajar, Liya mengakui bahwa tidak semua perjalanan berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah ketika harus menghafalkan nadhom Imrithi. Sebagai salah satu kitab dasar ilmu nahwu, Imrithi dikenal memiliki banyak bait yang harus dipahami sekaligus dihafalkan.
Menurut Liya, mengingat nadhom Imrithi bukan perkara mudah. Dibutuhkan pengulangan yang terus-menerus agar hafalan dapat melekat dengan baik. Namun, kesulitan tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia justru menjadikannya sebagai tantangan yang harus ditaklukkan sedikit demi sedikit.
Untuk mengatasi kesulitan tersebut, Liya menerapkan cara yang sederhana tetapi efektif, yaitu dengan selalu melakukan murojaah atau mengulang kembali materi yang telah dipelajari. Baginya, kunci utama keberhasilan dalam belajar kitab bukan hanya menghafal, tetapi juga menjaga hafalan agar tetap melekat dalam ingatan.
Ia percaya bahwa konsistensi adalah hal yang paling penting. Dengan terus mengulang pelajaran dan menjaga semangat belajar, materi yang awalnya terasa sulit perlahan menjadi lebih mudah dipahami. Prinsip inilah yang terus dipegangnya selama menjalani proses pembelajaran di pesantren.
Keberhasilan mengkhatamkan 10 kitab menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi mampu menghasilkan pencapaian yang membanggakan. Capaian tersebut juga menjadi bekal berharga bagi Liya untuk melanjutkan perjalanan pendidikan maupun kehidupan setelah lulus nanti.
Selama belajar di MA Unggulan Nuris Jember, Liya mendapatkan banyak pengalaman berharga. Tidak hanya memperoleh ilmu agama dan ilmu umum, ia juga belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta arti penting perjuangan dalam meraih tujuan.
Ia merasa bersyukur dapat menjadi bagian dari keluarga besar Nuris yang telah memberikan banyak pelajaran berharga selama masa pendidikan. Lingkungan pesantren dan sekolah telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih mandiri dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap lembaga yang telah menjadi tempatnya belajar, Liya juga menyampaikan pesan dan harapan untuk kemajuan Nuris di masa depan. Ia berharap sistem pembelajaran dan pengajaran di lingkungan Nuris dapat terus berkembang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Menurutnya, kemajuan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari fasilitas yang dimiliki, tetapi juga dari kualitas pembelajaran yang terus berkembang sesuai kebutuhan zaman. Karena itu, ia berharap Nuris dapat terus melakukan inovasi demi mencetak generasi unggul yang siap bersaing di masa depan.
Selain itu, Liya juga berharap MA Unggulan Nuris Jember dan Pesantren Nurul Islam Jember terus berkembang pesat dan semakin sukses dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Mauliyatut Tazkiyatul Arifin menjadi inspirasi bahwa jarak bukanlah penghalang untuk meraih ilmu. Dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, hingga Jember, ia membuktikan bahwa semangat belajar, konsistensi, dan kesungguhan mampu mengantarkan seseorang mencapai target-target besar.
Keberhasilannya mengkhatamkan 10 kitab menjadi salah satu bukti bahwa setiap perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang membanggakan. Semoga capaian Liya dapat menjadi motivasi bagi para santri lainnya untuk terus semangat belajar, memperbanyak murojaah, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan selama menuntut ilmu. [LA.Red]
Nama : Mauliyatut Tazkiyatul Arifin
Hobi : Memasak
Cita2 : Bos Muda
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember
Kelas Formal : XII C
Prestasi : Khatam 10 kitab (Aqidatul Awam, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Taqrib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Amtsilah Tasrifiyah, Kailani, dan Fiqih Tradisionalis)
