Tekad Kuat Santri Asal Ledokombo, Muhammad Hidir Fathul Bari, Tuntaskan 12 Kitab pada Wisuda Ke-X Pesantren Nuris Jember

Memegang Prinsip Kuat, Fathul Terus Berusaha Untuk Keluar Dari Zona Nyaman Dan Belajar Lebih Keras

Pesantren Nuris – Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Jember kembali sukses menggelar prosesi tahunan yang penuh berkah dan khidmat, yakni Wisuda Kitab dan Tahfidz Ke-X. Acara penghargaan akbar ini menjadi panggung apresiasi bagi para santri yang telah mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menjaga tradisi keilmuan Islam klasik. Di antara deretan wisudawan yang berbaris rapi, mencuat satu nama santri yang berhasil mengukir prestasi luar biasa dalam penguasaan literasi kitab kuning.

Santri berprestasi tersebut adalah Muhammad Hidir Fathul Bari, atau yang lebih akrab disapa dengan panggilan Fathul oleh teman-teman dan para ustadz di pesantren. Fathul merupakan pemuda yang berasal dari Kecamatan Ledokombo, sebuah wilayah di Jember yang dikenal memiliki kultur religius yang kuat. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu siswa teladan di kelas 9A, sebuah kelas unggulan di lembaga MTs Unggulan Nuris.

Di tengah kesibukan harian pesantren yang begitu padat dengan jadwal mengaji dan sekolah formal, Fathul dikenal sebagai sosok yang mandiri. Untuk menyegarkan pikiran di waktu luang, remaja berkepribadian tenang ini memiliki kegemaran yang cukup unik di kalangan santri, yaitu hobi memancing. Aktivitas memancing ini secara tidak langsung melatih kesabaran dan ketahanan mentalnya, yang kemudian sangat berguna dalam menunjang aktivitas belajarnya.

(Baca juga : Banggakan Orang Tua, Siswa MTs Unggulan Nuris Raih Juara Harapan 2 Sains di Lomba Tingkat Kabupaten)

Kematangan mental tersebut membuahkan hasil yang sangat membanggakan pada momentum wisuda akbar tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, Fathul sukses menuntaskan kajian dan mengkhatamkan total 12 kitab keagamaan. Capaian kuantitas dan kualitas setingkat ini menjadi sebuah pembuktian nyata atas ketekunan dan keseriusan yang ia bangun selama menempuh jalur pendidikan madrasah diniyah di Nuris.

Secara rinci, daftar 12 kitab yang berhasil dikuasai oleh Fathul meliputi kitab-kitab dasar hingga tingkat lanjutan yang menjadi fondasi penting keilmuan pesantren. Kitab-kitab tersebut adalah Hidayatus Shibyan, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Aqidatul Awam, Hujjah NU, serta Jauharotut Tauhid. Selain itu, ia juga melahap habis kitab Taqrib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Amtsilah Tasrifiyah, dan kitab tata bahasa Kailani.

Kendati mencatatkan akhir yang manis, jalan Fathul dalam menaklukkan lembaran-lembaran kitab tersebut dipenuhi oleh ujian yang menguras energi. Ia menceritakan bahwa tantangan terbesar yang dialaminya adalah saat harus menghafal metodologi ilmu alat dan kaidah fikih dalam kitab Al-Miftah serta Asymawi. Kerumitan struktur teks dan kedalaman materi pada kedua kitab tersebut sempat menjadi batu sandungan yang menguji konsistensinya.

Namun, rintangan itu tidak membuatnya memilih mundur atau berpuas diri dengan pencapaian yang biasa. Fathul mengungkapkan bahwa motivasi terbesarnya untuk terus maju adalah sebuah pesan mendalam yang selalu ia tanam di dalam hatinya. Ia selalu mengingat prinsip, “Bagaimana kamu akan menjadi luar biasa, jika kamu masih biasa-biasa saja”. Kalimat pemantik inilah yang selalu membakar semangatnya untuk keluar dari zona nyaman dan belajar lebih keras.

Komitmen untuk menjadi pribadi yang luar biasa ini selaras dengan cita-cita mulia yang ingin ia gapai di masa depan, yaitu menjadi seorang Ustadz. Fathul ingin mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu yang telah ia timba demi kemaslahatan umat. Sebagai refleksi dari proses belajarnya, ia menitipkan pesan penting bagi sesama santri untuk selalu menjaga kesehatan fisik, menjaga pola makan yang baik, serta mengatur waktu tidur dengan teratur agar proses menuntut ilmu bisa berjalan optimal.

Menutup kebahagiaan di hari wisuda tersebut, Fathul merajut sebuah harapan dan doa yang sangat menyentuh hati bagi keluarganya. Santri kelas 9A ini berharap agar di masa depan ia diberikan kelapangan rezeki dan kesempatan untuk bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah, sekaligus memberangkatkan kedua orang tuanya. Doa mulia tersebut menjadi penutup yang indah dari kisah perjuangan seorang santri yang gigih mengejar rida Allah dan orang tua. [MIA.Red]

 

Nama Lengkap : Muhammad Hidir Fathul Bari

Alamat Asal       : Ledokombo, Jember

Hobi                     : Memancing

Cita-Cita              : Ustadz

Kelas/Sekolah    : 9A/MTs Unggulan Nuris Jember 

Prestasi               : Khatam 12 Kitab : (Hidayatus Shibyan, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Aqidatul Awam, Hujjah NU, Jauharotut Tauhid, Taqrib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Amtsilah Tasrifiyah, Kailani)

Related Post