Energi Berpuisi Itu Masih Ada, Api Itu Ternyata Belum Padam
Pesantren Nuris – Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk meninggalkan dunia perlombaan. Namun, jeda panjang ternyata tidak benar-benar memadamkan kecintaan Pak Ibnu Wicaksono, S.S., terhadap puisi. Guru Bahasa Indonesia SMA Nuris Jember itu kembali menulis setelah terakhir kali mengikuti lomba puisi pada 2016. Dari sebuah informasi yang ditemuinya di Instagram, ia memberanikan diri kembali mengasah kemampuan yang sempat lama ditinggalkan.
Langkah tersebut awalnya tidak disertai target besar. Pak Ibnu, sapaan akrabnya, hanya ingin mencoba kembali kemampuan menulis puisi sekaligus merasakan pengalaman berkompetisi setelah satu dekade. Ia kemudian mengirimkan karya berjudul /budi.pekerti/ di Mata Gandari dalam Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional bertajuk “Peran dan Hati Guru untuk Pendidikan Indonesia” yang diselenggarakan PPG Kemendikdasmen RI.
“Awalnya sebenarnya hanya karena mendapat informasi di Instagram. Saya kemudian mencoba mengasah skill untuk mengikuti lomba menulis puisi lagi. Terakhir mengikuti lomba puisi itu tahun 2016, berarti sudah sekitar 10 tahun lalu,” ungkapnya.
Lomba tersebut ternyata mempertemukan Pak Ibnu dengan persaingan yang cukup ketat. Sekitar 1.300 peserta dari berbagai daerah di Indonesia ikut mengirimkan karya terbaik mereka. Di tengah banyaknya puisi yang mengangkat pengalaman, pengabdian, dan pandangan terhadap dunia pendidikan, karya Pak Ibnu berhasil menarik perhatian dewan juri hingga meraih Juara 2 tingkat nasional.
Bagi Pak Ibnu, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang posisi juara. Kembali mengikuti perlombaan setelah sepuluh tahun membuatnya merasa seperti harus menemukan kembali ritme kreatif yang pernah dimiliki. Ia mengaku proses tersebut justru menjadi pengalaman yang menyenangkan karena menyadarkannya bahwa kecintaan terhadap puisi masih ada.
“Saya merasa seperti belajar lagi dari nol. Setelah 10 tahun tidak ikut lomba menulis puisi, ternyata energi berpuisi itu masih tersisa,” tuturnya.
Energi tersebut kemudian dituangkan melalui /budi.pekerti/ di Mata Gandari. Puisi itu berangkat dari sebuah maqolah atau kata mutiara dari Hafiz Ibrahim, penyair asal Mesir, yang menggambarkan ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan Pak Ibnu dengan menghadirkan sosok ibu dari dua latar yang berbeda, tetapi sama-sama menyimpan persoalan tentang cara melihat kehidupan.
Salah satunya adalah Gandari, tokoh dalam kisah Mahabharata sekaligus ibu dari para Kurawa. Gandari memilih menutup matanya sepanjang hidup sebagai bentuk kesetiaan kepada suaminya yang mengalami kebutaan. Sementara itu, Pak Ibnu menghadirkan Ibu Prani, tokoh dalam film Budi Pekerti yang berprofesi sebagai guru BK dan berusaha mempertahankan kebenaran di tengah tekanan serta perundungan di ruang publik.
Dari dua sosok tersebut, Pak Ibnu kemudian membawa pembaca untuk memaknai “mata” secara lebih luas. Mata tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melihat secara fisik, tetapi juga keberanian, kesadaran, kepekaan, dan kemampuan manusia membaca realitas di sekitarnya. “Puisi ini mencoba memaparkan tentang mata yang menatap tidak cukup hanya dengan mata hati Gandari, tidak cukup hanya dengan mata berani Bu Prani, tetapi juga mata kita semua,” jelasnya.
(Baca juga: Kayla Azzahra Harumkan SMA Nuris Jember lewat Medali Perak Akuntansi Nasional)
Kejutan lain datang setelah pengumuman pemenang. Pak Ibnu semula mengira lomba tersebut hanya berakhir pada pengumuman melalui media sosial. Ternyata, para pemenang mendapat kesempatan datang langsung ke Jakarta untuk menerima penghargaan dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam acara yang berlangsung di Hotel Ciputra Jakarta. Mereka juga didampingi Direktur PPG Kemendikdasmen. “Mulanya di luar ekspektasi. Saya pikir lomba ini hanya diumumkan lewat media sosial. Ternyata para pemenang diundang ke Jakarta dan langsung mendapat penghargaan dari Mendikdasmen,” katanya.
Perjalanan ke Jakarta menjadi pengalaman yang semakin berkesan karena tidak berhenti pada pemberian penghargaan. Para pemenang juga berkesempatan mengikuti syuting podcast di studio Kantor Kemendikdasmen yang nantinya dirilis melalui akun YouTube PPG Kemendikdasmen. Bagi Pak Ibnu, perjalanan tersebut menjadi ruang untuk kembali meneguhkan keyakinannya bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata, tetapi juga media untuk membaca kehidupan dan menyuarakan kepekaan terhadap realitas sosial.
Melalui pencapaian itu, Pak Ibnu menyampaikan rasa terima kasih kepada banyak sosok yang hadir dalam perjalanan karyanya. Mulai dari Gandari, Ibu Prani, para ibu sebagai madrasah pertama, hingga ibunya sendiri, istri yang kelak menjadi ibu bagi anak-anaknya, dan Ibu Pertiwi. “Terima kasih untuk semua guru dan semua air mata yang dilarang runtuh. Terima kasih, Ibu Pertiwi. Terima kasih, diri sendiri. Semoga puisi menjadi media kreatif untuk menunjukkan visi intelektual penyair, laku kreatif yang progresif dan peka terhadap realitas sosial, serta menjadi salah satu wahana manusia untuk belajar cara menjadi manusia,” harapnya.
Perjalanan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa jeda panjang tidak selalu berarti akhir. Sepuluh tahun tanpa mengikuti perlombaan ternyata tidak menghapus kecintaan Pak Ibnu terhadap puisi. Justru dari sebuah informasi sederhana di Instagram, keberanian untuk mencoba kembali tumbuh menjadi karya yang membawanya meraih Juara 2 Nasional sekaligus membawa nama SMA Nuris Jember ke panggung penghargaan di Jakarta. SMA Nuris Jember menyampaikan apresiasi atas prestasi Pak Ibnu Wicaksono, S.S., sekaligus atas dedikasinya sebagai guru yang terus belajar, berkarya, dan menjadikan sastra sebagai jalan untuk membaca kehidupan. [RY.Red]
