Batu Memanjang dan Bersisik Kini Jadi Sarang Wisatawan

Batu Memanjang dan Bersisik Kini Jadi Sarang Wisatawan

oleh: Yuvita Yuwana Ardi, S.Pd*

Indonesia merupakan negara maritim, gemah rimpah loh jinawi. Tanah Indonesia bagaikan tanah surga, begitupun dengan lautnya bagaikan kolam susu. Bukanlah sesuatu yang salah apabila menyebut Indonesia dengan negara kepulauan. Lautnya membentang luas dari Sabang sampai Merauke dengan keindahan pantai yang megah, dengan panorama yang bergelora.

Salah satu dari pantai di Indonesia adalah pantai Watu Ulo yang merupakan bagian dari pantai selatan Indonesia. Pantai tersebut terletak di Ambulu, ujung paling selatan kota Jember, Jawa Timur dan memilki panorama yang begitu menawan tidak kalah dengan pantai-pantai lainnya. Keindahan airnya layaknya sebuah cermin. Ombaknya bergulir dengan indah, seolah mampu menerjang pahitnya sebuah kesedihan.

Untuk berkunjung ke pantai Watu Ulo kita bisa menggunakan alat transportasi apa saja misalnya sepeda motor dan menempuh jarak sekitar 45 km ke arah selatan dari pusat kota Jember. Untuk berkunjung masuk di kawasan wisata tersebut tidak begitu membuat kantong kering karena hanya dengan membayar 7000 rupiah per orang kita sudah menikmati indahnya panorama Pantai Watu Ulo.” Dengan biaya masuk 7000 rupiah per orang menurut kami sudah cukup untuk mengelola pantai Watu Ulo agar tetap nampak indah,” kata Muhamad Mahfud seorang penjaga tiket masuk di pantai Watu Ulo. Tidak perlu membayar mahal untuk menikmati suatu hal, yang terpenting adalah panorama yang bisa dinikmati keindahannya.

Pantai Watu Ulo ini banyak dikunjungi wisatawan asing ataupun domestik terutama pada hari libur atau hari besar keagamaan misalnya Idul Fitri, Natal, tahun baru, dan hari-hari libur lainnya.”Pendapatan kami melambung hingga tiga kali lipat pada saat hari libur atau hari besar keagamaan,” kata Rollink Subadiyo, pedagang es degan dan ikan bakar di sekitar pantai Watu Ulo. Rollink bersemangat kalau berjualan di hari libur dan ia selalu menambah dagangannya dengan penuh keyakinan akan mendapat penghasilan yang lebih banyak dari hari biasa.

Selain keindahannya yang menawan, konon pantai Watu Ulo juga mempunyai kisah sejarah sama halnya dengan pantai-pantai lain di Indonesia seperti Watu Dodol yang terletak di ujung timur kota Banyuwangi. Tidak sedikit sejarah pantai di Indonesia yang berhubungan dengan indahnya kisah cinta, romantisnya cinta dan hal-hal lain yang berhungan dengan cinta. Berbeda dengan kisah bermulanya nama pantai Watu Ulo. Pantai tersebut hadir dengan mengisahkan pertengkaran dahsyat, tragis, dan ironis antara manusia dengan seekor ular raksasa layaknya anak naga.

Saat itu tinggallah pasangan suami istri yang hidup harmonis di sebuah rumah mungil yang tampak sederhana di sekitar pantai Watu Ulo, tidak ketinggalan kecantikan sang istri yang begitu anggun. Tidak kalah pula dengan sang suami yang nampak gagah dengan ketampanannya. Pasangan itu adalah Aki dan Nini Sambi. Sama halnya dengan pasangan-pasangan lain, pasangan Aki dan Nini Sambi memiliki seorang putra yang tampan dan gagah, tidak heran apabila putra mereka tampan karena Aki tampan dan Nini Sambi cantik  sebut saja putra mereka dengan nama Joko Samudera. Aki dan Nini Sambi selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama untuk kebutuhan hidup putra semata wayangnya Joko Samaudera.

Mata pencaharian Aki dan Nini Sambi setiap hari adalah mencari kayu bakar di bukit sekitar pantai untuk kemudian dijual, karena banyak pepohonan di bukit pantai tersebut. Waktu terus berlalu, ketampanan Joko Samudera kian hari kian tampak dan tumbuh dewasa. Setiap harinya Joko Samudera membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mencari ikan di laut, tentu saja di pantai Watu Ulo. Sesuai dengan namanya Samudera tentu berhubungan dengan laut. Membagi tugas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah prinsip keluarga sederhana yang tinggal di tepi pantai itu karena bagi mereka gotong royong adalah sesuatu yang penting.

(Baca juga: Santri Nuris Bertekad Menjadi Sarjana Hukum: Jogja, I’m Coming )

Suatu hari saat Aki dan Nini Sambi mencari kayu bakar, tiba-tiba mereka mendengar suara aneh, rasa penasaranpun menyelimuti mereka. Semakin lama suara itu semakin terdengar keras dan serasa semakin dekat. Lama kemudian terdeteksilah suara itu, ternyata suara tangisan bayi laki-laki yang hanya sendiri tanpa siapapun. Tak tega melihatnya Aki dan Nini Sambi memutuskan untuk mengasuhnya dengan maksud dapat dijadikan sebagai teman penghibur lara buah hatinya Joko Samudera. Pasangan itu memberi nama bayi tersebut dengan nama Marsundo.

Nini Sambi semakin hari semakin jatuh hati kepada Marsundo dengan memperlakukan Marsundo seperti anak kandung sama seperti Joko Samudera, tidak ada lagi perbedaan antara anak kandung dan anak angkat, tidak ada pula istilah bawang putih dan bawang merah. Sampai suatu saat mereka tumbuh dewasa, sama-sama tampan, gagah, dan tentu saja berkarisma. Mereka berfikir tidak selamanya mereka bergantung kepada orang tuanya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka secara bergantian untuk mencari ikan di laut.

Hari itu giliran Marsundo yang mencari ikan di laut, anehnya saat Marsundo asyik memancing, tiba-tiba pancingnya bergoyang begitu cepat secara tiba-tiba, ternyata pancing itu melambangkan keanehan. Marsundo mendapat ikan yang begitu besar dan anehnya dapat berbicara. Sebut saja ikan itu Raja Mina, kemudian Raja Mina meminta Marsundo untuk melepaskan dirinya. Tanpa pikir panjang Marsundo melepaskan ikan raksasa itu, lalu ikan raksasa itu berterimakasih kepadanya.

Setelah Marsundo duduk lama ditepi pantai untuk menunggu kail pancingnya disambar ikan, ternyata tidak satupun ikan menyambar kail pancingnya lalu pulanglah Marsundo ke rumahnya, namun bukanlah kebahagiaan yang dia dapat melainkan sebuah cacian dari orang tuanya karena telah melepaskan ikan raksasa itu, padahal apabila dijual ikan itu bisa menghasilkan banyak uang. Melihat adiknya dimarahi, sang kakak Joko Samudera tidak kuasa menahan kesedihannya hinga kemudian hatinya tergugah untuk menggantikan Marsundo mencari ikan di laut sebagai ganti ikan yang dilepaskan Marsundo. Kail pancingpun Joko Samudera lemparkan ke pantai dan duduklah ia sambil menunggu kail itu disambar ikan.

Beberapa menit kemudian bukan ikan yang Joko Samudera dapatkan melainkan seekor ular raksasa yang menyerupai anak naga. Ular itu marah besar kepadanya, karena kesakitan akibat tubuhnya terluka tersambar kail pancing. Tubuh ular yang terluka, mengakibatkan pertengkaran hebat antara Joko Samudera dan Ular raksasa itu. Tidak ada yang mau mengalah diantara mereka, Joko Samudera tetap teguh dengan pendiriannya bahwa dia tidak bersalah sedangkan ular raksasa itu juga tetap teguh dengan pendiriannya bahwa ia tidak terima tubuhnya terluka.

Melihat kakaknya yang berjuang keras melawan ular raksasa, Marsundo berinisiatif untuk meminta petolongan kepada Raja Mina, ikan raksasa yag telah dia selamatkan. Raja Mina memberi Marsundo cemeti luar biasa, dan berpesan agar memukulkan cemeti itu pada tubuh ular raksasa sebanyak dua kali maka tubuh ular akan terbelah menjadi tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor harus terpisah lalu pisahkanlah di tiga tempat yang berbeda karena apabila tidak dipisahkan akan kembali menjadi ular.

Dipukulkanlah cemeti itu pada tubuh ular raksasa oleh Marsundo, saat itu juga tubuh ular raksasa terbelah menjadi tiga bagian, dan terpisahkan antara kepala, badan, serta ekor ular raksasa lalu dipisahkan di tiga tempat. Badan ular raksasa itu oleh Marsundo dilempar di pantai selatan ,atas kehendak Tuhan YME badan ular raksasa itu berubah menjadi batu besar yang bersisik dan memanjang seperti halnya tubuh ular. Alasan itulah yang menyebabkan pantai selatan itu lebih akrab dengan nama pantai Watu Ulo karena terdapat batu memanjang yang bersisik layaknya tubuh ular.

Di sekitar pantai Watu Ulo masih banyak tempat wisata yang patut untuk di kunjungi seperti pantai Payangan, Gua Jepang dan Gua Lawa, gua-gua itu merupakan peninggalan penjajah Jepang saat Jepang menerapkan sistem kerja paksa yang digunakan untuk benteng pertahanan Jepang. Apabila kita berjalan ke arah barat dari kawasan pantai Watu Ulo terdapat tempat wisata yang tidak kalah menarik yaitu Tanjung Papuma yang terkenal dengan pantai pasir putih dan Malikan. Di kawasan wisata Tanjung Papuma masih banyak wahana wisata lain misalnya kios-kios cenderamata, pendakian sepanjang 500 meter, rumah perkemahan, dan lain-lain. Jika di pantai Watu Ulo terdapat batu memanjang dan bersisik seperti tubuh ular, lalu apakah keunikan dan sejarah pantai Payangan, Tanjung Papuma, Gua Jepang, dan Gua Lawa? Apakah sama dengan keunikan dan sejarah pantai Watu Ulo?

*Staff Pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia di MA Unggulan Nuris Jember

20150829_082935

Related Post