Tanaman Awan Bawah Tanah

 *Penulis: Ayu Novitasari 

Angin menggelayut, di ujung denyut

Membanting roh, tak tercabut

Alunan denting, tak terfikir

Tersungkur dalam dahaga batin

 “ Ayah!, hanya ayah yang mengerti akan impian senja, tapi kenapa ayah juga yang menghilangkan arti senja. Aku hanya bisa menggenggam sebongkah cita ini. Tanpa ada keberanian untuk memperlihatkan kepada dunia.”

Hanya elusan angin yang aku rasakan malam ini. Tenang. Tak segelintirpun aku memberanikan apa yang akan terjadi esok. Awan hitam rupanya sudah cukup untuk memberikan pesan tentang esok. Lembutnya rumput taman kota sedikit mengurangi amarah. Ku lihat di ujung, lampu jalan yang sedang terancam nyawanya antara hidup dan mati. Lelah hanya bisa pasrah akan cita yang tertunda. Entah, mungkin akan hilang selama-lamanya.

Ku sisir jalan menuju rumah, mungkin ranah ini tidak akan kulewati lagi. Langkah lunglai yang tak pasti, dari sini aku harus sadar kadang harus melepaskan untuk setumpuk kebahagiaan.

Alam rupanya sedang akur dengan hatiku. Awan mendung sedikit meluapkan tangisannya. Teringat sesuatu akan kata seseorang yang paling aku percaya di dunia.

“ Jangan bersedih, kalau kamu bersedih maka alam ikut bersedih.” Kata ayah. Tetapi sekarang dialah yang membuat aku dan alam bersedih. Entah dia sudah tidak percaya kepadaku atau karena ketidak setujuannya tentang impianku. Hari inilah kehidupan baruku akan dimulai.

“ Dudu’ ayah’e nggak sayang, tapi iki demi kebaikanmu. Awakmu sek during wero impianmu kan?. Iki wektune awakmu golek impianmu sing bener.” Ucap ayah ketika perpisahan mulai di depan mata. Aku hanya terdiam se-alam semesta. Aku heran, padahal waktu itu aku sudah menjelaskan tentang sebongkah impian, ternyata itu tidak cukup untuk meyakinkan.

“ Ayah wangsul disik ya! Sak wulan kas ayah nyang nang awakmu!.”

Mencoba menahan buliran air yang akan muntah dari mata sesukanya. Tapi, amarah menahan itu semua. Ku pandangi siluet ayah dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Angin nakal menggoyang jilbab yang menutupin auratku. Aku baca dengan perlahan papan putih di hadapan “ Pondok Pesantren Ar-Rahman.”.

Tidak sulit seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Ternyata aku di tempatkan di kamar Madinah. Nama kota terkenal seperti Mesir, Andalusia, Yaman itu juga dibuat nama kamar asrama putri. Aku dengar ini dilakukan agar para santri bisa mengelilingi Nusantara dan Dunia. Tidak begitu buruk satu kamar diisi lima orang, yang dilengkapi almari di samping tempat tidur yang langsung menempel di lantai.

Hal yang cukup mudah dilakukan, dengan hanya waktu sebentar aku sudah selesai membereskan semua barangku. Ku rebahkan tubuhku ke kasur, dengan memilih tempat tidur paling pinggir aku harap bisa tenang.dengan lihai ku ajak menari pensil menari di atas buku. Tidak sadar, Vina yang baru ku kenal tadi mengajakku untuk shalat magrib berjamaah.

“ Duluan aja, bentar lagi aku nyusul.”

Vina berlalu bersama dengan sajadahnya. Agak malas untuk beranjak dari kasur dan bukuku. Tiba-tiba suara pintu mengagetkanku. Seperti kilat aku berpura-pura mengaji.

“ Ukhti kenapa, tidak berjamaah di masjid.” Tanya seorang Ustadzah.

“ Hmm … anu … Ustadzah, sakit perut.”

“ Alasan, saya hitung dari 3, 2, 1.”

“ Iya … iya … .” Dengan tergelagap aku langsung bergegas ke tempat wudhu. Awan menyelimuti kesunyian malam. Aku bersihkan sisa-sisa air wudhu, dengan tergesa-gesa ku kenakan mukenah putihku. Seperti ada yang melihat proses keterlambtanku ini. Benar saja, ketika ku pusatkan pandanganku ke lantai dua aku mendapati seorang lelaki yang mungkin dua tahun lebih tua dariku. Ketika ia terciduk aku telah mendapati dirinya. Lelaki itu seketika membalikkan badannya. Entah mungkin ia sudah mengecap tentang diriku santri baru yang tidak memiliki jiwa kedisiplinan. Tapi ia sangat berbeda.

Lembutnya kabut pagi tak lantas menghilangkan kantuk. Berhubung kamarku di lantai dua aku bisa meremas-remas embun di dekat balkon. Alam melaporkan kepada dunia kalau ia siap bekerja. Ku lihat matahari dengan malu-malu mulai menampakkan tubuhnya. Awan mulai terbentuk dan embun perlahan menghilang menyisakan tetesan kecil dalam genggamanku.

Pohon mulai mengeliakkan tubuhnya dan tanah menaburkan aroma harum sisa-sisa hujan semalam. Pikiranku melayang akan pulau di kampung seberang, tapi tekat pikiran memeranjat untuk sebuah kesuksesan. Ku lihat para santri sudah rapi bersiap-siap untuk pergi sekolah formal sedangkan aku masih tenang dalam keterdiaman. Padahal hari pertama sekolah.

(baca juga: Seiris Jejak Tentang Sajak)

“ Aya? Kamu belum siap-siap.” Suara has itu mengkaburkan imajinasiku. Benar saja pemilik suara itu adalah Aura teman sekamarku asli dari Padang.

“ Iya bentar lagi aku nyusul.” Aku jawab sekenaknya. Lalu pergi meninggalkan ketenangan. Waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Ku lihat jadwal masuk sekolah, betapa terkejutnya jam masuk sekolah ternyata tepat jam tujuh pagi. Ku percepat pekerjaanku, mencoba berlari sekuatku menuju kelas yang telah di tentukan. Benar saja kulihat sekolah sepi, para santri sudah memasuki kelas masing-masing. Kulewati satu per satu kelas, ruang kelasku terdapat di paling ujung.

Ketika melewati ruang jurnalistik aku melihat seorang lelaki yang tidak asing bagiku. Seperti pernah melihatnya, dan ia melihat keterlambatanku. Diruang kelas sudah terdapt ustad yang entah sedang mengajar apa. Hukumanpun terlontar atas ketidak disiplinanku, membersihkan gudang dan berdiri sampai jam istirahat.

“ Kok bisa terlambat sih Ay, padahal kan kita sama-sama bangun pagi.” Kata Aura seakan menodong.

“ Aku pikir sekolah masuk jam delapan eh ternyata jam tujuh.” Jawabku agak polos. Obrolan kami berhenti ketika salah satu santri memberi tahuku ada telfon dari orang tuaku. Tetapi aku menolak untuk menjawabnya, entah dengan alasan tidak jelas yang sedang aku pikirkan.

“ Jawab saja Ay siapa tahu penting.” Usul Vina yang sedang menyelidiki pikiranku.

(baca juga: Merindu Kalimat Syahadat)

“ Akan ku hubungi balik nanti saja.” Jawabku seadanya. Bersyukur mereka tidak memperpanjang percakapan topik ini. Amarah masih tetap menguasai, entah aku harus bersikap bagaimana sekarang.

Minggu-minggu pertama di Pesantren Ar-Rahman tidak begitu buruk aku menikmati seluruh rangkaian kegiatan meski kedisiplinanku masih terbilang kecil dibandingkan santri yang lain. Di luar kelas aku memilih masuk menjadi anggota Jurnalistik pesantren untuk menjadi kegiatan tambahanku.

Awan mendung hampir saja terakar jauh dalam hatiku. Sinar matahari seakana menghilangkan itu semua, perlahan aku melupakan amarah yang sempat menguasai. Meski aku masih belum bisa menerima seutuhnya. Belum siap aku bertemu ibu, apalagi bapak. Membalas surat atau telepon pun aku masih belum bisa.

Siang itu matahari memanasi bumi dengan sempurna. Tetapi sinarnya tidak bisa lolos untuk menyentuh kulitku akibat kain yang hampir menyeluruh menutupi tubuhku. Asyik dengan tuts komputer dan dunia fiksiku, tiba-tiba.

“ Assalamualaikum.” Suara itu yang sering aku dengar selama beberapa bulan terakhir ini. Derapnya mulai memasuki ruang jurnalistik dan mendekatiku. Benar saja pemilik suara itu adalah Aura.

“ Ay, bapak kamu ada di depan pondok sekarang.”

“ Bilang, Aya sakit gitu.” Jawabku masih sibuk dengan tuts komputer di hadapanku.

“ Kasihan jauh-jauh dari rumah, pengen ketemu sama kamu.”

“ Tinggal bilang gitu aja, nggak repot kan Ra.” Aku lalu bangkit dari ketenanganku dan amarah yang hampir luntur datang kembali seakan mengguyur. Aku pergi ke loteng yang tak beratap, awan cukup terang tetapi tak lantas menenangkan hatiku. Hati ini sebenarnya rindu tetapi aku masih bingung dengan keterdiaman hatiku yang selalu berhasil menguasai.

Menitih dengan perlahan anak tangga cukup melelahkan untuk kakiku yang lunglai. Hati ini seakan menarikku berlari menuju bapak, kulihat di balik pohon Aura bersamanya dan sesaat bapak pergi dengan sepeda yang selalu di pakainya untuk memboncengku kemana saja. Kulihat raut wajahnya, tersirat rasa kecewa entah mungkin sedikit dibubuhkan amarah. Tetapi sinar yang terpancar berhasil membohongi Aura.

Air mata langsung terjun tanpa permisi, apa boleh buat hanya waktu dan ruang yang akan menjawab. Terlihat rasa benci dari mimic wajah Aura. Aku memang membiarkan itu semua, aku tidak ingin ia tahu yang sebenarnya. Ku helakan nafas sedikit meredakan kebingungan yang aku skenarokan sendiri.

“ Maaf Ra, aku selalu membuatmu terlibat dalam kebohongan ini. Membuatmu berusaha berkata tidak jujur dengan ketidak hadiranku menemu bapak ketika ia pergi mengunjungiku.” Ucapku suatu hari.

“ Lebih baik kamu temui saja bapak kamu. Jangan lupa salamkan rasa maafku.” Lontar Aura tanpa melihatku dan pergi berlalu.

Hari yang cukup menegangkan. Bapak kembali datang menemuiku, ku ikuti saja apa kata Aura.

“ Sebegitu teganya kamu Aya. Tidak pulang selama dua tahun. Ibu sama bapak rindu kepadamu. Pulanglah nak.” Ayah begitu rindunya kepadaku sampai ia bergetar melantunkan sajaknya. Kulihat sekilas matanya berkaca-kaca.

“ Aya pulang, kerumah nenek. Cukup menyenangkan disana ketimbang kembali pulang kepada sang senja.” Aku bangkit dari tempat dudukku. Dan melangkah meninggalkan ayah.

“ Kenakalan mu disini sudah disampaikan oleh pengasuh. Tetapi ayah juga bangga dengan perubahanmu yang tak kenal lelah mencari duniamu. Kembalilah nak. Keluarga disana menunggumu.” Tanpa memeluknya, tanpa menciumnya, bahkan tanpa menyalaminya. Ku dengar deru sepeda ayah meninggalkan tanah pesantren. Mendung kembali menggelantung di atas jantung.

Ku melihat keajaiban waktu sedang bersamaku. Pemilik senyum teduh itu tak ada habisnya melayang dalam hidupku. Kak Alan yang selalu menjadi perbincangan seluruh seantero ruang santri putri. Lantas juga mengisi seantero hatiku. Pemimpin redaksi ini berhasil menjadi salah satu alasanku bertahan di jurnalistik. Tapi struktur organisasi tidak lantas memudahkanku untuk berkomunikasi dengannya.

Sempat ku lihat ia selalu bersama santri putri yang kebetulan kakak kelasku. Campur aduk rasa ini tanpa aku ketahui apa penyebabnya. Januari berganti Januari. Bapak tetap setia menemuiku tapi tanpa aku hadir untuk membayar kedatangannya. Kak Alan juga lulus dari sekolahnya tapi kulihat ia masih simpang siur dimataku, aku berharap ia menetap disini. Tetapi hari ini adalah hari terhancur dalam hidupku. Ibu menemuiku, seperti alasanku kepada ayah aku pura saki dikamar. Tetapi, ibu tetap bersih keras menemuiku. Sampai ia datang langsung ke kamarku.

“ Apakah hatimu sudah berubah menjadi batu sampai kamu tidak ingin menemui ibumu. Kau tak pernah membalas atau mencawab surat dan telepon ibu. Bahkan kau tak tahu jika bapakmu sudah pergi menemui Allah. Sadar nak sadar. Ini pesan terakhir dari bapakmu, kau tak usah membalasnya sekarang cukup renungkan.” Ibu langsungb berlalu meninggalkan amplop yang aku tak tahu apa isinya. Berlari dan meneriakkan namanya tak cukup untuk berhentikan langkahnya. Seperti tertusuk seribu pedang bahkan lebih. Kulihat ibu berlalu tanpa menoleh sedikitpun padaku.

Teruntuk Aya Supaad tersayang

Teriama kasih nak kau mau membuka tulisan ini sekarang. Kau saat ini membaca dengan keadaan sehat bukan, biasanya jika ayah menemuimu kau selalu bertepatan sedang sakit. Tak banyak yang ingin ayah sampaika. Ayah sudah banyak membaca tulisanmu betapa bangganya ayah nak kau sudah mahir 

menata sajak. Satu permintaan ayah tidak muluk-muluk, cukup kau ceritakan pada dunia bagaimana kau bisa menemukan duniamu.

Pulanglah nak cukup ayah saja yang kau benci jangan ibu dan kakakmu. Mereka semua merindukanmu disana. Jadilah santri yang bisa membangkitkan kejayaan yang sudah dipertahankan. Semoga sehat selalu, maaf ayah tidak bisa lagi ,menemanimu disaat senja. Maaf juga jika kamu menganggap ayah yang menghilangkan impian senja itu. Patut kamu katahui anakku impian senja masih tertanam dalam dada ayah sampai saat ini.

Jauh nan sana

Bapakmu Supaad

Betapa rontoknya rinduku, air bening berlian mengalir sangat deras membaca satu persatu kata-kata bapak. Betapa berdosanya diriku, telah menghilangkan beliau disetiap langkah impianku selama tiga tahun. Tuhan, apakah aku masih pantas bertemu dengan bapak kembali.

Pagi yang cukup gigil, ku kemasi barang-barang yang akan ku bawa pulang. Hasil ujian telah keluar kemarin, betapa terkejuat mendapati aku menjadi lulusan terbaik. Masalah hati, saat itu Kak Alan mendatangi aku dan betapa terkejutnya selama aku di pesantren ini baru pertama kali ia mengajakku mengobrol duluan, meski hanya sekedar ucapan selamat biasa. Tidak hanya itu saat itu, salah seorang santri putri yang dulu sempat aku kira bersama Kak Alan menemuiku dan menjelaskan bahwa dia adalah adik kandungnya.

Terheran seketika, kebingungan menguasai otakku. Ternyata ia disuruh Kak Alan untuk menjelaskan kesalahpahaman ini aku tidak mengerti apa yang telah terjadi. Inilah kenyatan dan aku harus pulang.

Ruang dan waktu telah menjawab semua kebingungan yang membuat aku berdiam diri. Di depan makam alm. Bapak aku ceritakan semua, tidak hanya itu aku membawa sebuah buku yang diinginkan bapak. Angin mengehmbuskan nafasnya, melambai-lambaikan jilbab biru yang aku kenaka, aku merasakan kehadiran ayah disampingku. Tetapi alam ternyata berbeda pendapat, seseorang telah berada di belakangku.

“ Sudah kau sampaikan kepada ayahmu?.” Pemilik suara teduh itu datang dalam waktu dan ruang yang tidak aku sangka.

“ Tentang apa?.” Aku balik bertanya seakan tidak mengetahui tentang sesuatu.

“ Sudah kau ceritakan jika kau sudah menemukan seseorang yang sudah berhasil masuk ke dalam hatimu.” Ia tersenyum dengan senyuman yang pertama kali ku lihatnya waktu ia memerhatikan keterlambatan jamaah magribku waktu pertama kali menjadi santri. Benar dia adalah lelaki itu.Aku hanya bisa terdiam sealam semesta mendengarkan perkataanya.

“ Bapak sempat ku ceritakan tentang dia di dalam tulisan, mungkin ayah sudah membacanya. Sekali lagi maaf tidak bisa memperkenalkan dirinya kepada yaha secara langsung. Kini akan ku ceritakan kepada dunia apa arti impian senja yang sesungguhnya. Saksikanlah bapak.”

Jember, 21 Februari 2018

Sebuah tanaman awan

Bawah tanah, tentang impian senja

Yang dalam proses pencapaian.

Penulis merupakan siswa SMA Nuris Jember kelas XI IPS 1. Penulis aktif sebagai anggota M-Sains Sejarah dan aktif di ekstrakurikuler jurnalistik website Pesantrennuris.net

 

Related Post