Ragam

Penulis: Wilda Indana Lazulfa*

“rek, ayo tangi ! jam piro iki?”  suara Najwa gadis asal jawa berkulit sawo matang mengisi ruangan. Memang sudah menjadi kewajibannya mengatur anggota anggotanya karna ia seorang ketua kamar disini. Tangan kanannya berulang kali memukul kayu pintu menciptakan kegaduhan. Empat kawan sekamarnya bangun dengan mata masih tertutup. Merasa kesal  dibangunkan saat jam menunjukkan pukul tiga pagi.

Suhu saat ini lebih dingin dibanding biasanya. Namun tak hentikan langkah Najwa menuju musholla. Aku sedikit mengerutkan dahi melihat kekerasan kepala yang dimiliki Najwa. Sementara tiga gadis kembali terkapar tak sadar diri di atas karpet warna yang dimiliki setiap kamar di pondok ini. tanganku menyentuh salah satu sisi pundak temanku yang berasal dari Madura. “mbak, ayo bangun” ucapku dengan sunda halus sedikit menggoyahkan tubuhnya. Rasa kesal menggunggah hati ketika tidak ada respon sedikitpun. Aku menghentikan usahaku dan beranjak pergi. Tujuanku sekarang ialah ke kamar mandi untuk mensucikan diri sebelum menghadap sang Ilahi.

Lantunan sholawat terdengar nyaring dari masjid sekitar pondok. Tiga gadis yang sendari tadi tidur kini mulai membuka mata. “arek arek wes tangi?” dengan menggunakan bahasa jawanya yang masih kental, Najwa melihat ke arahku yang kini berdiri di ambang pintu dengan mukenah yang telah melekat di tubuh. Wajahnya terlihat cemas akan meninggalkan kewajibannya. Ia terlalu menikmati kata demi kata dari Al qur’an. Tangannyapun masih menggenggam kitab suci yang sendari tadi ia baca. Aku menyerit dahi melirik kearah teman teman yang masih mengucek kedua mata. Najwa seolah mengerti maksudku. Ia menggelengkan kepala lalu melangkah memasuki kamar kecil yang berisi lima orang. Ia menaruh kitab yang dicintainyaitu diatas lemari coklat.”Najwa!” panggilan yang membuatnya harus menolehkan kepala kearah gadis yang berasal dari Madura.”kamu kok gak bangunin aku? Aku belum belajar!” logat madura kasarnya membuat Najwa terdiam.”Ya ampun, gak papa kali, hari inikan hari nyepi!” sahut orang berparas cantik dari Jakarta. Nada bahasanya menunjukkan bahwa ia sedikit terpengaruh oleh pergaulan bebas. “oh iyo! Sa’iki dino nyepi!” Najwa baru mengingat saat matanya melirik ke arah kalender dengan Tangan kanannya menyentuh kening. Mendapat waktu luang karna adanya tanggal merah membuat senyum menebar di seluruh anggota kamar.

(Baca juga: tinta putih)

Jam memamerkan tubuhnya di setiap pandangan manusia. Kedua jarumnya hampir menusuk angka sembilan yang berada di tepian. Matahari semakin naik dan lebih bebas menerangi bumi. Mengubah rasa dingin menjadi sebuah kehangatan yang dirasakan oleh seluruh makhluk. Aktifitas para santri menyiptakan suara bising. Jika di samakan dengan pasar, pondok tak beda jauh bsingnya jika sudah jam sembilan karna itulah waktu para santri untuk belajar bersama ataupun sendiri.

Aroma asap serta abu yang berterbangan membuat suasana semakin terisi. Najwa yang sedang menatap buku sejarah di atas pahanya tetap santai duduk di depan lemari coklat. Sesekali ia menyeruput es teh yang berada di samping kirinya. Namun konsentrasinya terpecah saat melihat Ila. Gadis berkulit putih asal Bali duduk terdiam di ambang pintu manatap  pada kobaran api yang dijadikan sebagai pemusnah kaetas kertas  tak terpakai bagi beberapa santri. Tatapannya menunjukkan rasa risih serta kecewa dalam hati. Aku yang duduk di pojokkan kamar mengerti dengan apa yang difikirkan Najwa. Rasa iba terhadap Ila itu terlarut dalanm kornea mata Najwa. Ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya. Seketika, Gadis dengan rambut bergelombang asal Madura mulai menanyakan pertanyaan yang sejak tadi terbesit dalam fikiran Najwa. “kamu kenapa sih? Dari tadi diam terus!” komentarnya dengan bahasa madura menciptakan keheningan dalam jiwa Ila. Ia menundukkan kepalanya bukan karna merasa bersalah namun kebingungan serta rasa risih yang masih menggunggah hatinya. “ayo jawab agar kita mengerti masalahmu” lanjut gadis madura dengan bermaksud untuk membuat Ila tidak bersedih. Perlahan, Ila mengangkat kepalanya menatap mata gadis madura itu dalam dalam seakan menunjukkan adanya mutiara mata yang ia tahan.”sekarang hari nyepi. Mengapa sangat ramai dan mengapa mereka menyelakan api?” lirihnya dengan bahasa kesatuan yang sudah lancar. Meski begitu ia tak bisa melupakan tradsinya di Bali.”ya ampun! Cuman gitu doang? Gak usah sampai nangis kali. Masa cuman ada api dan berisik kayak gini lo udah nangis? Gak usah manja deh!” lontaran suara gadis berasal jakarta membuat seluruh tatapan tertuju padanya. Ila menatap gadi jakarta itu yang kini kembali membaca buku dangan pandangan mengecewakan. Matanya dipenuhi benih benih yang sedikit lagi akan menjebol kelopak matanya. Aku yang berada di dekat gadis jakarta itu sedikit menyenggol lengannya sehingga ia menoleh kearahku dengan pandangan risih. Aku mengirim isyarat melalui mata. Gadis Jakarta itu mengerti meksudku seolah bisa membaca fikiranku. Ia menolehken kepala melihat kearah Ila yang kini mulai menetskan air mata. Matanya sedilit terbelalak dan mulutnyapun sedikit mengangap sebelum ia ambil bicara. “loh kok lo nangis? Guekan Cuma bilang kayak gitu, masa lo udah sakit hati?”ucapnya belum ada kata maaf dengan sedikit menyeritkan dahi. Ila sedikit memaksa senyum lalu beranjak pergi. Hampir saja gadis asal madiura meraih tanganya, namun gerakan Ila lebih cepat. Ia meninggalkan kamarnya menuju kamar mandi berniat menhilangkan segala yang ia rasa dengan basuhan air wudhu.

(Baca juga: idul-fitri)

“maaf!” gadis Jakarta itu sedikit memasang wajah melas satelah mengucap satu kata terakhirnya. Matanya melirik ke arah setiap sudut kamar. Melihat ekspresi teman teman yang kini menjadikannya sebagai tatapan utama. Meski diluar masih sangat ramai, di kamar ini seolah tak terdengar satu suarapun hingga akhirnya Najwa angkat bicara. Sebelumnya ia meletakkan buku sejarahnya dengan beberapa ciuman yang ia beri sepenuhnya terhadap ilmu. Najwa memandang dari satu sisi ke sisi lain. Tatapannya bagai hewan buas yang siap memangsa siapapun yang terakhir jatuh di pandangannya. Ia menarik nafas panjang panjang dengan kelopak mata yang menutup sesaat merasakan aroma kesalahfahaman yang terjadi pada kamarnya. Seluruh tatapanpun kini beralih memandang wajah Najwa “rek…” suara lembut disertai nada besar menjadi pengawalan bicaranya. Aku menundukkan kepala bersiap menangkap pembicaraan Najwa. Entah karna takut tidak mengerti bahasanya ataupun karena hatiku yang terhanyut oleh kebijakannya.”Banyak perbedaan yang kita alami di sini. Otomatis kita harus mencintai perbedaan kita dan kita wajib memahaminya.”aku mengangkat kepala setelah mendengar logatnya menggunakan bahasa kesatuan. Ia meneruskan ucapannya yang selalu didengarkan oleh seluruh anggota kamar.”kita ini berasal dari tempat yang berbeda beda, terdapat tradidsi dan budaya yang berbeda pula. Jika kita hanya mengokohkan tradisi kita masing masing dan tak peduli dengan tradisi orang lain maka itu namanya keras kepala.”aku melirik ke arh gadis Jakarta yang kini telah menundukkan kepalanya. Aku kembali menatap Najwa yang meneruskan pendapatnya.”seperti hal nya tadi di Bali, memang sudah tradisi mereka tidak membuat kegaduhan di hari nyepi. Juga termasuk di Jakarta yang sudah kebiasaan mereka membuat ondel ondel sebagai hiburan. Di madura di adakan karapan sapi setiap agustus atau september. Di rumahku, di jawa, ada tradisi grebek pada satu syawal dan bulan ke dua belas juga acara papahare yang selalu dinantikan orang sunda.” Aku kembali menundukkan kepala mengingat kenanganku saat menghadiri acara itu di rumah. Di saat semua memberi senyuman padaku serta makanan yang sudah siap menunggu.”jalankan tradisi, sifat kita masing masing saja sudah jauh berbeda serta fisik penampilan dan selera ytang tak sama dari satu ke yang lainnya. Bukan pertengkaran yang harus kita capai untuk mengunggulkan perbedaan yang kita miliki masing masing namun, dengan adanya perbedaan, kita harus semangat untuk menjunjung tinggi persahabatan dan perdamaian. sebuah Kemenangan emas jika ada sesuatu yang berbeda namun bisa bersatu. Ngerti rek..? aku ndak kepingin ene’ kejadian koyok ngene maneh!” Najwa mengakhiri kalimatnya dengan kembali pada logat jawa yang sangat kental. Semua tatapan masih tertuju pada Najwa termasuk tatapanku yang sudah kembali padanya. Menurutku Najwa pantas jika ia ditunjuk sebagai ketua kamar. Orang yang bijak tanpa meninggalkan keramahan yang tergesit di bibirnya ketika ia tersenyum. Aku bangga dengan mempunyai banyak teman dari segala penjuru daerah. Karna dengan begitu aku sudah mengetahui kebiasaan kebiasaan yang mereka miliki tarmasuk Najwa. Keperbedaan sifatnya dibanding yang lain memberiku motivasi untuk menjadi lebih baik darinya. Itulah perbedaan! Dapat mendorong kita menjadi lebih baik namun jika tidak diperhatikan dapat merobek kesatuan. Itulah perbedaan! Sesuatu yang ghoib namun dapat kita lihat dengan mata kita sendiri. Itulah perbedaan! Dapat menjadi kunci pandangan ketika kita bisa menyatukannya. Maka mari satukan perbedaan di Indonesia agar menjadi contoh baik bagi negara lain. Aku tetap menatap tajam Najwa yang kini telah kembali membaca buku sejarahnya. Satu kata terbesit dalam fikiranku. “aku bangga perbedaan Indonesia!”   

Sumber gambar: id.quora.com

Penulis merupakan siswa MA Unggulan Nuris yang aktif di ekstrakurikuler penulisan kreatif sastra

Related Post