Usaha Maksimal Butuh Proses bukan Protes, Kunci Sukses Siswa MA Unggulan Nuris Khatam Hafalan 30 Juz

Dari Keinginan Membanggakan Kedua Orang Tua, Usai Khatam, Kini Rangkai Cita hingga ke Tanah Mesir

Pesantren Nuris – Program unggulan tahfizul Qur’an Pesantren Nuris Jember terus melahiran hafiz al Qur’an 30 juz membanggakan. Yang terkini, giliran Andrian Maulana Yusuf yang berhasil menuntaskan hafalan Al Qur’an 30 juz di hadapan dewan Pembina tahfizul Qur’an pada Sabtu, 27 Desember 2025 kemarin.

Keberhasilan putra dari bapak Hadir dan ibu Umi Hani ini menambah kesuksesan rekor santri Pesantren Nuris Jember, khususnya siswa MA Unggulan Nuris yang belajar di kelas unggulan takhassus  Tahfizul Qur’an dalam mengkhatamkan hafalan Al Qur’annya. Ini menjadi pencapaian gemilang tersendiri baik bagi para santri maupun lembaga pengelola pendidikan.

“Alhamdulillah saya sangat senang dan bangga, proses mengkhatamkan hafalan Al Qur’an bukan perkara mudah dan bukan soal cepat-cepatan. Akan tetapi, siapa yang paling istikamah dan terus berjuang hingga meraih apa yang telah ditargetkan setiap harinya. Memang kami di kelas tahfiz harus punya target harian, bulanan, hingga per tahun agar semua prosesnya berjalan sesuai rencana.” Ungkap Andre, sapaan akrabnya.

Santri asal Jatiroto, Lumajang ini juga mengungkapkan sejak awal nyantri di Pesantren Nuris Jember sudah bertekad untuk menuntaskan hafalan Al Qur’an sebelum lulus aliyah. Ia harus menekan dirinya untuk selalu bersemangat belajar, meningkatkan hafalan, memperbaiki bacaan, dan memantapkan tajwid hingga teknik membaca Al Qur’an.

(baca juga: 5 Kunci Mudah Hafalkan Al Qur’an hingga Khatam 30 Juz ala Ahmad Thufail, Siswa Inspiratif MA Unggulan Nuris)

“Bagi saya belajar Al Qur’an bukan sekadar belajar, tetapi juga meningkatkan iman dan takwa. Kita semakin mencintai Al Qur’an dan otomatis ada tanggung jawab moral untuk menjaga adab baik soal urusan ibadah religi maupun sosial emosional. Apalagi ini memang keinginan saya sendiri untuk membanggakan kedua orang tua.” Tukasnya.

Andre meyakini setiap usaha yang maksimal itu perlu proses, tetapi bukan protes. Upayanya menghafalkan Al Qur’an tak selalu mulus, terkadang juga muncul perasaan jenuh, frustrasi, dan juga lelah. Dengan mengingat tujuan awal nyantri, ia merasakan munculnya semangat untuk kembali melanjutkan impiannya.

Santri yang hobi bermain sepak bola ini juga selalu berusaha menyempatkan diri untuk hafalan setiap usai salat fardu. Selain itu, ia juga selalu menargetkan progress yang harus dicapai setiap harinya dan selalu mengulang hafalan hingga lancar dan tepat. Kelak, Andre berharap dapat mendalami ilmu Al Qur’an dan tafsir di negeri piramida, Mesir.

Baginya terasa tak lengkap jika hanya menghafal Al Qur’an tanpa mendalami ilmunya lebih mendalam. Santri yang pernah meraih juara 2 musabaqah hifdzil Qur’an (MHQ) kategori 5 juz ini bertekad untuk melanjutkan kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir. Saat ini, ia tengah mempersiapkannya dengan bimbingan Syekh Muhammad di Pesantren Nuris Jember.[AF.Red]

Related Post