Santri Tahfidz yang Menyiapkan Langkah Panjang di Jalan Ilmu
Pesantren Nuris — Di balik setiap hafalan Al-Qur’an yang berhasil dijaga, terdapat perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang. Ada waktu yang dikorbankan, rasa lelah yang harus dilawan, serta kesabaran yang terus diuji setiap hari. Perjalanan inilah yang dijalani oleh Sayyid Husein Ahmadinejad, santri kelas XII D MA Unggulan Nuris Jember yang terus berusaha menjaga hafalan Al-Qur’an sekaligus mempersiapkan masa depannya di dunia pendidikan dan pesantren.
Putra dari pasangan Bapak M. Syaiful Rijal Hasan dan Ibu Alkhoriyatur Raudiyatul Jannah ini berhasil menyelesaikan hafalannya pada 19 September 2024. Momen tersebut menjadi salah satu pencapaian berharga dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang santri. Namun baginya, khatam bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus menjaga hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Sayyid Husein tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang dekat dengan dunia pesantren. Ia menempuh pendidikan dasar di MI Unggulan Nuris dan melanjutkan pendidikan di MTs Unggulan Nuris sebelum akhirnya menjadi siswa MA Unggulan Nuris Jember. Lingkungan pendidikan yang sarat dengan nilai-nilai keislaman tersebut membentuk karakter dan semangat belajarnya sejak usia dini.
Selain aktif dalam dunia tahfidz, Sayyid Husein memiliki beragam hobi yang menunjukkan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan. Ia gemar membaca, menulis, dan bermain catur. Baginya, membaca membuka wawasan baru, menulis menjadi sarana menuangkan gagasan, sedangkan catur melatih kemampuan berpikir logis dan strategi. Ketiga hobi tersebut menjadi aktivitas yang membantu dirinya terus berkembang sebagai seorang pelajar dan santri.
(Baca juga : Selamat dan Sukses, dari Ketertarikan Akhirnya Alumni MA Unggulan Nuris Raih Sarjana yang Diimpikan)
Motivasi terbesar Sayyid Husein dalam menghafal Al-Qur’an berasal dari keyakinannya terhadap kemuliaan para penghafal Al-Qur’an. Ia percaya bahwa seorang hafidz memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Salah satu hal yang paling menguatkan langkahnya adalah harapan agar kelak hafalan Al-Qur’an yang dimiliki dapat menjadi jalan untuk mengangkat derajat keluarga dan memberikan syafaat dengan izin Allah SWT.
Keyakinan tersebut membuatnya terus bertahan meskipun berbagai tantangan sering datang silih berganti. Sebagaimana kebanyakan penghafal Al-Qur’an lainnya, Sayyid Husein juga harus menghadapi rasa malas dan jenuh yang terkadang muncul dalam proses menghafal maupun murojaah. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menghafal ayat baru, tetapi menjaga semangat agar tetap konsisten setiap hari.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, ia menggunakan metode hafalan yang dikenal dengan metode tikrar atau pengulangan. Melalui metode ini, ayat dibaca berkali-kali hingga benar-benar melekat dalam ingatan. Semakin sering diulang, semakin kuat pula hafalan yang tersimpan. Metode sederhana ini menjadi salah satu kunci keberhasilannya dalam menjaga kualitas hafalan Al-Qur’an.
Perjuangan dan ketekunan yang dijalani Sayyid Husein akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Salah satu prestasi yang berhasil diraihnya adalah Juara 3 MHQ yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan yang dimilikinya mampu bersaing dan mendapatkan apresiasi di tingkat yang lebih luas.
Keberhasilan tersebut tentu tidak datang secara instan. Di balik penghargaan yang diraih terdapat proses latihan yang panjang, kedisiplinan dalam membaca Al-Qur’an, serta keberanian untuk tampil di hadapan banyak peserta lainnya. Pengalaman mengikuti kompetisi juga memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya mental yang kuat dan semangat untuk terus belajar.
Meski telah memiliki sejumlah pencapaian, Sayyid Husein tetap memandang dirinya sebagai seorang pencari ilmu yang masih harus terus belajar. Setelah menyelesaikan pendidikan di MA Unggulan Nuris Jember, ia berencana melanjutkan perjalanan keilmuan dengan mondok di Pondok Pesantren Al Bidayah untuk memperdalam kajian kitab kuning dan ilmu-ilmu keislaman.
Tidak berhenti di sana, ia juga memiliki rencana besar untuk mengikuti seleksi masuk Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo pada tahun berikutnya. Keinginan tersebut menunjukkan kesungguhannya dalam menempuh jalan ilmu dan memperdalam pemahaman agama secara lebih mendalam.
Pilihan tersebut bukanlah keputusan yang sederhana. Di tengah banyaknya pilihan pendidikan yang tersedia, Sayyid Husein memilih jalur pengabdian ilmu agama karena meyakini bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi bekal berharga bagi kehidupan dunia dan akhirat. Ia ingin menjadi bagian dari generasi muda yang mampu menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sayyid Husein Ahmadinejad menjadi inspirasi bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi dari seberapa kuat ia bertahan dalam proses. Hafalan Al-Qur’an, prestasi yang diraih, serta rencana melanjutkan pendidikan di pesantren menunjukkan bahwa dirinya memiliki komitmen besar untuk terus tumbuh dan belajar.
Semoga perjalanan Sayyid Husein Ahmadinejad senantiasa diberi keberkahan oleh Allah SWT. Semoga hafalan Al-Qur’an yang telah dijaga menjadi cahaya dalam kehidupannya, prestasi yang diraih menjadi motivasi untuk terus berkembang, dan cita-citanya dalam mendalami ilmu agama dapat terwujud sehingga kelak menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan agama. [LA.Red]
Nama : Sayyid Husein Ahmadinejad
Hobi : Membaca, menulis, bermain catur
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember
Kelas Formal : XII D
Prestasi : Khatam 30 Juz Al-Qur’an
