Bangga Belajar di Kelas Unggulan Kitab Kuning, Kesempatan Memperluas Pengetahuan dan Talenta
Pesantren Nuris – Safrina Anisa menjadi salah satu santri yang berhasil menyabet medali perunggu mata pelajaran sosiologi di kancah nasional bertajuk Olimpiade Sains Hardika (OSH) 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh PUSKASNAS pada 03 Mei 2026 lalu. Hal ini menyempnrkankan perlohen prestasi santri MA Unggulan Nuris yang berhasil memborong 27 medali dari berbagai bidang pelajaran. Amazing bukan
Keberhasilan santri yang kini duduk di kelas XI A MA Unggulan Nuris ini turut meningkatkan rasa percaya diri saat menghadapi tahun pelajaran 2026/2027 yang baru saja bergulir. Prestasi ini bukan yang pertama. Pasalnya, sebelumnya Safrina, sapaan akrabnya di Pesantren Nuris Jember juga telah pernah meraih medali perak olimpiade bahasa Indonesia di kancah nasional.
Selain itu, putri dari bapak Ahmad Baidowi ini juga pernah meraih juara 1 olimpiade bahasa Arab, juara 2 olimpiade bahasa Indonesia tingkat internal Pesantren Nuris Jember. Kompetensinya berprestasi dalam berbagai bidang ilmu tak lepas dari hobinya yang suka membaca. Baginya membaca buku menjadi hobi positif yang mampu meningkatkan pengetahuan dan pengalaman yang baik.
“Belajar di kelas unggulan kitab menjadi kebanggaan sekaligus tantangan tersendiri. Banyak target hafalan dan peningkatkan kompetensi baca kitab yang harus dikejar. Bagi saya meski banyak hal yang harus dikejar, tetapi kesempatan mengikuti lomba harus saya coba sebagai ajang menempa mental dan mengukur kemampuan belajar saya.” Tukas remaja kelahiran Maret 2020 ini.
(baca juga: Juarai LKTI Moderasi Beragama 2026 Tingkat Provinsi, Geliat Prestasi Santri MA Unggulan Nuris Bidang Literasi)
Meski perlombaan yang diikuti tidak sejalan dengan materi kitab yang telah banyak ia pelajari, ia percaya bahwa belajar tidak sekaku itu. Justru merdeka belajar membuka ruang baginya mengetahui banyak hal yang luas dan semua tetap beririsan. Apalagi lomba yang terkait kitab dan nazam memang agak jarang daripada mata pelajaran umum.
Santri asal Rembangan, Jember ini juga tertarik pada dunia kesehatan bahkan sempat tebersit dalam benaknya untuk menjadi seorang dokter di masa depan. Belajar di era globalisasi membuatnya bebas bercita-cita meski saat ini ia sadar diri berada di kelas unggulan kitab kuning yang notabene banyak belajar kitab dan menghafal nazam.
Dia berharap pengalaman belajar di pesantren dan mengikuti berbagai perlombaan membuatnya semakin kompetitif menghadapi masa depan yang dinamis. Dia bersyukur bisa belajar di MA Unggulan Nuris yang banyak memberikan ruang kreativitas bagi santri dengan sarana dan prasarana yang representatif.[AF.Red]
