Moch Hilman Faidul Umam, Alumni MA Unggulan Nuris, Berangkat dari Agronomi hingga Menembus Ilmu Medis Korea Selatan

Tak Terjebak Batas Jurusan, Hilman Bawa Ilmu Agronomi ke Dunia Medical Science

Pesantren Nuris — Siapa sangka, ilmu tentang tanaman yang dipelajari selama kuliah S1 justru mengantarkan Moch Hilman Faidul Umam ke dunia ilmu medis di Korea Selatan. Alumni MA Unggulan Nuris tahun 2022 ini awalnya menekuni Agronomi di Universitas Jember. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, ia mengambil langkah yang tidak biasa: melanjutkan studi magister di bidang Convergence Medical Science, Gyeongsang National University, Korea Selatan. Perjalanan itu bukan tanpa keraguan. Ada pertimbangan panjang sebelum akhirnya ia berani mencoba memasuki bidang keilmuan yang berbeda dari latar belakang pendidikan sebelumnya.

Ketertarikan Hilman pada dunia pertanian sebenarnya sudah tumbuh sejak memilih program studi S1. Ia mengaku menyukai tanaman dan merasa memiliki bekal dasar biologi selama belajar di MA Unggulan Nuris. Dua hal tersebut kemudian menjadi pertimbangan ketika menentukan pilihan kuliah.

“Dulu waktu S1, saya pilih Agronomi Unej. Pertama karena punya ketertarikan ke tanaman dan kedua memang ada basic biologi yang dipelajari sewaktu di Nuris. Sehingga saya ingin mencoba ke arah agronomi (pertanian) yang masih linier dengan biologi,” ceritanya.

Pilihan tersebut membawanya menyelesaikan pendidikan S1 Agronomi di Universitas Jember. Namun, menjelang kelulusan, muncul pertanyaan baru yang harus dijawab: ke mana ia akan melanjutkan perjalanan akademiknya? Hilman mengingat, kebingungan itu mulai terasa ketika memasuki semester delapan.

“Waktu semester 8 dan sudah mau lulus, di situ mulai bingung mau lanjut studi ke mana,” ungkapnya.

Di tengah pencarian tersebut, datang kesempatan untuk mencoba mendaftar program magister di Korea Selatan pada bidang Medical Science. Kesempatan itu tentu menarik, tetapi juga menghadirkan keraguan. Bagaimana mungkin lulusan Agronomi melanjutkan pendidikan ke bidang medis? Apalagi, selama ini pertanian dan kesehatan kerap dianggap sebagai dua bidang yang tidak memiliki hubungan langsung.

(Baca juga: MA Unggulan Nuris: Muhammad Yusril Muqoddas, Menapaki Kampus dengan Cara Santai, Menyimpan Harapan Besar)

Hilman tidak serta-merta mengabaikan keraguan tersebut. Ia justru mencoba melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Baginya, pertanian bukan hanya membahas tanaman dan hasil panen. Ada hubungan penting antara produk pertanian, pangan, dan kesehatan manusia.

“Pertanian itu sekitar 80% produknya adalah pangan, dan indikator pangan yang layak pada akhirnya bermuara ke kesehatan manusia. Jadi anggapan pertanian dan kesehatan itu dua hal yang jauh berbeda juga enggak sepenuhnya benar,” jelasnya.

Pemikiran tersebut menjadi salah satu alasan yang menguatkannya untuk mencoba. Ia kemudian memberanikan diri mendaftar program Convergence Medical Science di Gyeongsang National University. Keputusan itu menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya, sekaligus membuka kesempatan untuk menjelajahi bidang ilmu yang lebih luas.

Ketika akhirnya diterima, Hilman tentu merasa senang dan bersyukur. Baginya, kesempatan tersebut merupakan salah satu impian yang berhasil diraih. Namun, ia juga menyadari bahwa diterima di kampus tujuan bukanlah garis akhir. Ada proses panjang yang harus dituntaskan setelahnya.

“Pastinya senang dan bersyukur bisa meraih salah satu hal yang diimpikan. Tapi tentunya perasaan itu harus diimbangi dengan usaha untuk menuntaskan apa yang sudah dimulai,” tuturnya.

Kini, keseharian Hilman sebagai mahasiswa magister di Korea Selatan tidak hanya diisi dengan perkuliahan. Laboratorium justru menjadi salah satu tempat yang paling banyak menyita waktunya. Ia bahkan mengaku aktivitas penelitian terkadang lebih padat dibandingkan kegiatan kuliah di kelas.

“Untuk saat ini, kegiatan selain kuliah pastinya nge-lab. Malah bisa dibilang lebih sibuk nge-lab daripada kuliahnya”. Menurutnya, aktivitas tersebut merupakan hal yang lumrah dalam bidang STEM yang banyak melibatkan praktik dan penelitian. Di luar urusan akademik, ia masih menyempatkan diri bermain sepak bola dan berkumpul bersama teman-teman Indonesia di Korea Selatan.

Perjalanan akademik Hilman tentu tidak terlepas dari pengalaman selama tiga tahun menempuh pendidikan di MA Unggulan Nuris. Semasa menjadi siswa, ia pernah mengikuti ekstrakurikuler olimpiade yang dahulu dikenal sebagai M-Sains, Karya Tulis Ilmiah (KTI), OSIM, dan hadrah. Ia juga beberapa kali mengikuti perlombaan olimpiade dan KTI. Meski tidak banyak bercerita tentang prestasi yang diraih, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses awal ketertarikannya terhadap dunia ilmu pengetahuan.

Di antara banyak pengalaman selama di madrasah, ada satu hal yang paling membekas baginya, yaitu kesempatan belajar langsung dari Kyai H. Muhyiddin Abdusshomad. Hilman masih mengingat pelajaran tentang tiga kecerdasan yang perlu dimiliki manusia: intelektual, spiritual, dan emosional.

“Dulu saya pernah belajar bahwa kecerdasan enggak cuma soal intelektual, tapi juga ada spiritual dan emosional. Itu yang masih saya pegang sampai saat ini. Bahwa ketiganya sama-sama penting. Bahkan di dunia akademik pun, tidak cukup hanya bermodal intelektual,” ungkapnya.

Prinsip tersebut menjadi bekal yang terus ia bawa hingga sekarang. Baginya, pendidikan tinggi dan pencapaian akademik tidak seharusnya membuat seseorang hanya berfokus pada kemampuan intelektual. Kematangan spiritual dan emosional juga perlu berjalan beriringan. Sebuah pandangan yang membuat perjalanan pendidikan bukan sekadar usaha mengumpulkan gelar, tetapi juga membentuk kualitas diri.

Ke depan, Hilman ingin mewujudkan cita-citanya sebagai seorang researcher atau peneliti. Ia berharap dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama di bidang medis. Meski demikian, ia tidak ingin melompat terlalu jauh dari proses yang sedang dijalani. Ia menyadari bahwa saat ini dirinya masih seorang mahasiswa yang perlu menyelesaikan studi dan melewati berbagai tahapan pembelajaran.

“Untuk mencapai itu, perlu menuntaskan studi dan segala proses di dalamnya. Hingga nantinya bisa menjadi peneliti yang independen dalam berpikir,” jelasnya.

Dari ketertarikan pada tanaman, bekal biologi di bangku madrasah, hingga penelitian di laboratorium Korea Selatan, perjalanan Hilman memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan dapat saling terhubung melampaui batas jurusan. Ia tidak berhenti pada bidang yang pertama kali dipilih, tetapi berani membuka kemungkinan baru ketika kesempatan datang. Kini, di tengah kesibukan menempuh studi magister, ia sedang mempersiapkan diri untuk satu tujuan yang lebih besar: menjadi peneliti yang mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan. [LA.Red]

Nama                  : Moch Hilman Faidul Umam

Alamat                : Tisnogambar, Bangsalsari, Jember

Hobi                    : Nonton Bola

Cita2                   : Researcher atau peneliti

Lembaga            : MA Unggulan Nuris, 2022

Kuliah                 : S1 Agronomi di Universitas Jember, S2 Convergence Medical Science, Gyeongsang National University, Korea Selatan

Related Post