Strategi Super Irit

oleh: Sunardi*

Fikri menghampiri Salman di tepi kolam. Sore ini langit cerah bening. Tak ada awan. Angin juga sejuk sepoi-sepoi. Salman sedang bersantai membaca majalah. “Man, tadi Dedi makan sama ayam, kok bilangnya makan sama tempe?“

Salman tersenyum tanpa menoleh Fikri yang duduk di sampingnya. Sepertinya yang ia baca tak boleh terputus. “Baru tahu…” sahutnya. Santai saja dia bilang begitu.

Fikri kaget. “Memang sering begitu?!”

“Mungkin selalu,” sambil membuka halaman berikutnya.

“Selalu…!! Kok bisa…?!” Salman terus membaca, seakan menurutnya itu tak penting. “Kenapa tidak nyolong yang besar sekalian…!! Nyuri di bank, 10 miliard, gitu…!!” Salman hampir saja tertawa, tapi ia tahan. “Masak kita biarkan, Man?” Menurut Fikri, kita harus peduli teman. Jika keliru, ingatkan.

Salman mengangkat bahu dan menoleh pada Fikri, “Terus, mau kita gimanain?”

Di mata Fikri Dedi adalah anak yang baik, di mata teman-temannya juga. Nasehat terpopulernya yang mungkin sudah sangat terkenal di seantero kampus, “Jangan boros agar tak miskin“. Orang sekampus sudah sangat akrab dengan nasehat dari Dedi tersebut. Orang tua Dedi memang bukan orang berada. Kirimannya pun sering telat, makanya dia sangat terlatih hidup sederhana dan super irit.

***

Sudah jam 12.30, malam sudah sunyi. Fikri sama Dedi belum tidur, menunggu Salman.Tidak biasanya Salman pulang hingga selarut ini. HP-nya juga tidak bisa dihubungi. Semua teman-temannya ditanya, tapi tidak ada yang tahu.

Jam 01.07 Salman baru datang. Dedi sudah tertidur di karpet. ”Dari mana aja, Man?” tanya Fikri. Tetapi Salman tidak menjawab. Dia langsung masuk ke kamarnya dan tidur. Fikri pun segera mengunci gerbang dan pintu kontrakan, lalu tidur.

Salman tidak benar-benar tidur, dia sedang kalut. Ingin ia lupakan semua masalahnya. Ingin keluar dari dunia. Tetapi tak bisa. Lampu kamar sudah dimatikan, tetapi malah seperti terang. “Ini terlalu,“ pikirnya. Ia pesimis, hilang kepercayaan diri.

Malam berlalu. Pagi datang. Salman belum bangun. Dedi bingung mencari dompetnya. Seingat dia, ada di saku celananya. Sudah ia cari seluruh bagian kamarnya, di lemarinya juga, di bawah kasur, tapi tidak ada.

“Nyari apa, Ded?“ tanya Fikri yang baru saja bangun.

“Tidak lihat dompetku?“

“Ada uangnya?“

“Empat ratus ribu.”

Fikri memutar pandangan ke seluruh penjuru ruangan. “Sudah kucari di semua sisi ruangan, tidak ada.“ Fikri mencoba melihat di bawah sofa, tapi tak ada. Buntu. Dia diam, menatap ke jendela. Pikirannya menerka-nerka: mungkin tertinggal, mungkin jatuh di jalan, mungkin ada yang mengambil.

***

Malam ini Salman pulang larut lagi. Dedi sama Fikri terpaksa tidur di ruang depan: di sofa. Pintu dan gerbang tidak mereka kunci, hanya ditutup rapat saja. Jam 05.40 Dedi terbangun dan melihat pintu dalam kondisi terbuka. Ia kaget dan keluar melihat gerbang. Semua terbuka. Ia periksa seluruh isi ruangan, takut ada yang hilang. Ternyata tak ada yang hilang.

Pintu kamar Salman terbuka. Ia melihat dompet di lantai. Ia dekati, lalu melihatnya dengan lebih dekat. Yakin. Itu miliknya. Ia lihat isinya, tinggal foto orang tua yang ia selipkan dengan uang Rp 5000. Uang Rp 400.000 sudah lenyap. Tetapi ia tidak percaya kalau uangnya diambil Salman. Dia adalah sahabat baik, tak seburuk dirinya yang sudah lama membohongi ibu penjual nasi langganannya.

“Dompetmu?”

Suara Fikri mengejutkan Dedi. Ia mengangguk, tapi bingung mau bicara apa, hanya menoleh ke Salman lalu memandang Fikri.

“Ketemu di sini?“

Salman yang masih tidur terbangun.“Ada apa?“ tanyanya sambil ngucek-ngucek matanya. Dilihatnya Dedi memegang dompet. Fikri bingung, memandang Salman penuh tanya. “Maaf… Maaf…,” Gugup, gemetar, seperti ketakutan Salman berucap maaf pada Dedi. Tetapi Dedi dan Fikri terdiam bingung, tak mengerti dengan apa yang terjadi. “Aku sangat butuh uang, dan akan kuganti kalau sudah punya nanti. Aku tidak niat ngambil, aku hanya pinjam saja.”

“Setiap hari aku berusaha ngirit…!!“ Nada suara Dedi tinggi.“Sampai-sampai tiap hari aku bohongi ibu penjual nasi. Itu demi ngirit biaya makan. Sekarang…?!“

Fikri dan Salman kaget mendengarnya. Itu salah besar. Tetapi dilema juga, orang tua Dedi memang tergolong miskin. Apa yang dilakukan Dedi sangat membantu orang tuanya, tetapi merugikan orang lain. Dosa tetaplah dosa.

“Uangku dipinjam Fikri, tapi dia belum punya uang untuk melunasi,“ kata Salman.

Fikri terkejut,“Nanti aku bayar…!!“ katanya spontan.“Hutangmu sama ibu penjual nasi lebih banyak, Ded…!!“ tambahnya, seakan lidahnya bergerak sendiri mengucapkannya.

“Bukan urusanmu. Kalau sudah sukses, kubayar…!!“

Fikri dan Salman terperangah mendengarnya, tak menyangka Dedi senekad itu. Menurut Fikri itu melampaui batas: bagaimana jika umur mendahului? Bagaimana jika nasib tak sesuai harapan? Menurutnya orang pinjam itu harus bilang, meski tidak mampu bayar kan bisa minta maaf untuk menunda pelunasannya.

*Staff Pengajar bahasa Inggris di MTs Unggulan Nuris Jember

Related Post