Bayang dan Igauan di Sungai Bawah Jembatan

*Penulis: Tasya Dea Amalia

Penulis adalah siswa kelas X IPA SMA Nuris Jember*

” Wanita-wanita keji adalah untuk laki-laki yang keji  dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang menuduh itu ) bagi mereka ampunan dari rezeki yang mulia (surga).
(Q. S. An-Nur 24: 26 )

“Pergi dari sini…!!!”

Langit biru bermuram abu-abu. Dingin merasuk hingga ke ubun-ubun. Pohon terbangun mengeluarkan udara segar matahari di ufuk timur  masih malu menampakkan sinarnya. Perlahan, Dia jejakkan kaki pada tanah basah berlumpur bekas hujan tadi malam. Melewati pesawahan hijau desa Kalibarumanis. Dihembuskan nafasnya perlahan. Udara yang keluar seketika menjadi embun tipis. Kemudian, menyatu bersama angin sepoi pengawal hari.Ia tak sendirian, bayang menguntip dari belakang.

“ Anisa bolehkah aku bertanya? “ Tanya bayang kemudian.

Bibirnya tetap terkatup. Tanpa sekalipun goyah pada bayang yang sedari tadi mengikutinya itu. Kaki jenjangnya terus melangkah menelusuri jalan setapak. Bahkan kubangan air dengan kerikil-kerikil kecil menusuk kakinya. Tetap Anisa tidak menggubris.

“Anisa… “ Bayang tidak menyerah. Memang ia semakin lelah mengikuti tubuh Anisa berjalan tak tentu arah mengawali rutinitas penuh misteri.

Setengah jam berlalu, Anisa sampai pada sebuah sungai dangkal dengan arus deras dibawah jembatan timbangan. Ia duduk di batu besar pinggir sungai. Dikelilingi pohon asam menjulang tinggi. Meneduhkan dirinya dari sinar matahari.

Bayang menghilang seiring diamnya Anisa berubah menjadi ketidaksadaran.

***

Saini mondar-mandir didepan rumahnya. Kulit kendor diwajah Saini berkerut. Berkumpul di dahi dan pelipis mata. Matanya tajam. Berusaha keras berpikir.

“Aku tidak bisa seperti ini. Kemana lagi harus aku cari. Aku tidak tenang”. Gumam Saini.

Tak dihiraukan kondisi rumah yang kotor berdebu, cucian yang menumpuk bertimba-timba di kamar mandi, ataupun dapur yang belum mengebul hingga hari menjelang sore.Baginya satu yang terpenting, selain mengisi perut kosongnya itu. Belahan hatinya. Pencampuran antara darahnya dan Jamal, suaminya.Manis, begitulah panggilan sehari-hari Saini untuk Anisa. Sejak kecil, Anisa selalu dimanja oleh Saini. Ia layaknya putri kahyangan yang harus dilayani Saini. Begitulah sayangnya Saini.

“ Kemana kamu nak…?”. Ucapnya cemas.

Tubuh kurus rentanya mencoba bertahan pada posisi tegak berjalan. Sedetik kemudian seseorang memanggil Saini. Suaranya tak jauh, hanya berjarak beberapa meter dari Saini berdiri. Dibalikkan tubuh Saini menyasar suara tersebut.

Terlihat gadis berambut panjang. Mata bulat bening memandang Saini. Tubuhnya tinggi sintal dibalut kaos pink panjang dan celana tidur babydool dengan warna senada.Saini tidak tahan penasaran ia anaknya baru pulang saat hari menjelang sore.

“Darimana saja kamu, Nak?”. Tanyanya kemudian.

“Anisa mengigau”.

“Sungai Bawah Jembatan, lagi?”.

“Benar, tempat yang sama”.

Saini mengerti Anisa. Kemudian mereka berjalan beriringan. Memasuki rumah besar berornamen jawa dengan pilar-pilar besar sebagai tonggaknya.

Oh, Manis, perempuan mungilku. Engkau tangisku, Engkau air mata yang mengalir di banjir kanal. Engkau sumber dari segala sumber kebahagiaanku. Ada apa denganmu, Nak?

***

Adzan maghrib sudah lama dikumandangkan. Anisa baru selesai mandi. Rambutnya basah tergerai. Dihampirinya Saini. Ia sedang sibuk meracik makanan kesukaan Anisa.Ia ingin menghibur Anisa. Kejadian tiga tahun lalu terulang kembali. Saat itu, Anisa baru berumur tujuh belas tahun. Dimana ia mengalami hal yang sama mengigau sambil berjalan. Dalam mimpi ia tidak sendiri. Ia bersama diri keduanya. Sisi lain dalam kehidupannya. Serupa namun tak sama. Nampak namun tak dapat diraba. Bayangannya sendiri. Iya, Bayang.

Bayang seringkali mengajukan pertanyaan aneh. Ketika Anisa duduk, bayang bertanya, “Kenapa kamu duduk bukan berdiri”. Pertanyaan yang lumrah memang. Kebiasaan orang untuk berbasa-basi agar dikira perhatian. Namun, pertanyaan satu belum terjawab, bayang sudah melontarkan pertanyaan lain. bertubi-tubi hingga Anisa menghela napas. Diam mendengarkan bayang.

Saini mempersilahkan Anisa makan. Disuguhkan sepiring penuh nasi dengan lauk sambal teri, tempe goreng dan oseng-oseng pakis.

“ Bu’e saya mau ke Alas Purwo”. Celetuk Anisa.

Gerakan tangan Saini terhenti. Ia letakkan kembali sendok dengan nasi yang siap ia lahap. Menggeser piring kesamping dan membetulkan tempat duduknya. Terkejut bukan kepalang. Matanya berkerjap-kerjap. Perkataan anaknya yang tiba-tiba ingin pergi ke suatu tempat yang jauh. Meremangkan bulu romanya. Apalagi, tempat itu adalah salah satu tempat terangker di ujung kabupaten Banyuwangi. Dengan alasan keamanan, ia menolak.

Digebraknya meja. Anisa memanas, “pokoknya Aku mau ke Alas purwo, titik!!!”.

Tersentak Saini. Teriakan Anisa melengking menembus telinga. Ia memandang anaknya pengertian. Anisa membalasnya dengan tatapan tajam.

“Baiklah, dengan satu syarat. Harus ada yang menemanimu. Bagaimanapun caranya. Jika kamu sendirian. Berarti kamu tetap di rumah. Tidak kemana-mana. Tetap bersama bu’e”.

Anisa mendesah, tersenyum puas. Ia berikan selembaran pemberian seorang ketika perjalan pulang dari sungai tadi. Yang isinya,

Undangan Bakti Sosial

            Alas Purwo membuka wisata tiga hari dua malam menginap bersama OKL (Organisasi Kelestarian Lingkungan). Dengan tujuan “ meningkatkan minat pengunjung dengan kesejukan Alas Purwo”.

            hari, tanggal: Rabu, 29 Januari 2017

            tempat         : Pemberhentian semantara bus kemalangan

            Demikian, semoga berkenan.

“ Jadikan diri anda berguna bersama kami. Demi kelestarian alam”.

NB: Informasi lebih lanjut.

            Hub. 087 645 288 287 / Yusron

            http: www.gerokl01.co.id.        

            email; gerakanoklo1@yahoo.co.id.

 

Saini membacanya perlahan.

“ Benarkah? Ini terlalu mendadak, Nak.”

“ Bu maaf. Tapi, Anisa akan tetap berangkat besok. Dengan seijin bu’e atau tidak, Ayolah bu’e”.

Anisa berlalu meninggalkan Saini. Tak dihiraukannya Saini meradang dengan sikapnya itu. Saini beristighfar. Ia memaklumi sikap Anisa.Duh, Gusti, kenapa dengan Anakku

***

Bus berhenti didepan pintu masuk Alas Purwo. Tidak ada pagar besi yang menutupinya, hanya terdapat dua pilar setinggi tiga meter dengan plang diatasnya bertuliskan “ Selamat datang di Alas Purwo”. Mereka disambut dengan tarian jejer gandrung. tarian tradisional yang dimainkan oleh segerombolan orang atau berpasangan. Semua berdecap kagum. Peserta OKL kali ini berasal dari seluruh daerah di Indonesia. Malang, Jember, Surabaya, dan daerah lainnya. Keluwesan penari gandrung membuat mereka menganga kagum dan keriuhan terjadi. Beberapa kali terdengar suara tepuk tangan mereka, bahkan tak jarang juga mereka ikut menari.

Berbeda dengan Anisa, sedari tadi ia memandang pria disebelahnya. Pria itu tak sekalipun berpaling pada keriuhan peserta lain ataupun pada penari gandrung yang melenggak-lenggok menarik perhatian yang melihat. Terlihat, mata pria itu memandang lekat jauh kedalam Alas Purwo.

“Baiklah, kiranya sampai disini sambutan dari kami. saya selaku koordinator acara, mengucapkan semoga berhasil dan selamat berpetualang”.

“Berpetualang?”. Pikir Anisa. Kata terakhir itu tidak asing. Seseorang pernah mengatakannya. Sama persis dengan penekanan yang sama. “Bayang, benar. Bayang pernah mengatakannya padaku. Benarkah? Mungkinkah?” Pikirannya berkecamuk. Ia teruskan perjalanan sambil lalu memikirnya maksud bayang. “kenapa dia menanyakan hal itu padaku? Maksudnya apa? Bagaimana orang itu bisa mengatakan hal sama?”. Gumamnya.

Belum lima langkah mereka masuki Alas Purwo, mereka dihadang seorang kakek tua. Terlihat dari kerutan dan rambutnya yang mulai memutih. Ia memakai pakaian sserba hitam, udengdibiarkan melilit dilehernya, juga janggut putih kumal merambat dari dagu sampai pipinya.

“Berhenti dulu Nak, biarkan aku bicara”. Ujarnya. Otot dilehernya bergetar menandingi suaranya.

“Maaf Kek, tapi kami terburu- buru. Hari menjelang malam, kami tidak mau bermalam di sini. Tanpa tenda yang belum berdiri”. Tolak Baron, pemimpin OKL mereka. Wajahnya sedikit memerah mengatakannya.

“ Baiklah aku mulai saja”. Kakek itu memaksa.

“ Tapi…”.

“ Saya titip Alas Purwo, jangan neko-neko, banyak penduduk disini yang tidak suka diganggu”.

Seketika kami membisu. Saling pandang satu sama lain. “ Kami paham Kek, jadi biarkan kami pergi, ya?”. Ucapnya kesal.

“Satu lagi yang terpenting”. Baron mengernyitkan dahi. Jika bukan orang tua mungkin dia sudah meninggalkannya dari tadi. “Apalagi Kek?”. Kembali wajahnya memerah. Kakek itu tersenyum.

“ Jangan menoleh ke belakang”.

***

Bau kemenyan menyeruak, beragam sesaji berjejer rapi, mulut sang petuah berkomat-kamit. Dibacanya doa ritual. Hari ke-210, saatnya pura luhur Giri mengadakan ritual Pager Wesi. Ritual yang digunakan untuk membentengi Alas Purwo dari hal buruk. Atau bisa juga membantu menjaga pengunjung yang datang kesana. Pura luhur Giri adalah tempat paling sakral di Alas Puwo selain situs kawitan tak jauh dari sana. Dulu, pura ini menjadi tempat pertapaan para pemuka-pemuka hindu, yang kemudian hari menyebarkan agama hindu di Bali.

“ Sedang apa kamu?”. Bisik seseorang.

“ Sstt…” . sergah Anisa. Dia tak mau diganggu.

Setengah jam berlalu. Sang petuah menutup ritual. Anisa perlahan membuka mata. “Sial…”. ucap Anisa terbelalak. Tatapannya kosong. Menembus batas pemahaman. Hanya terdapat sisa sesaji dan dupa yang masih mengebulkan asap. Rambut-rambut halus di sekujur tubuh Anisa berdiri. Teman-temannya raib. Tubuhnya bergetar. Perasaannya berada diujung tanduk.

“Tenanglah kamu tidak sendirian”. Anisa membalikkan badan. Ia lega, masih ada dia. ia berpikir mungkin dia akan gila. “ Dimana yang lain?”. pria tersebut diam. Tangannya melambai mengajak kesuatu tempat. Tak mau sendirian, Anisa mengikutinya dari belakang.

***

Pria itu bernama Imam. Tubuhnya lebih tinggi daripada Anisa. Berparas menawan layaknya artis korea. Matanya sipit dengan kulit putih bening. Ia satu-satunya orang yang pertama kali mengajak Anisa bicara. Walaupun pertemuan mereka tidak disengaja. Namun membekas didalam hati Anisa. Bagi Anisa, ia seperti pahlawan. Jika tidak ia akan tetap terpaku dan mungkin akan jadi gila juga. Mereka tak terpisahkan. Waktu tiga hari dua malam dilewati dengan suka cita. Hingga suatu ketika, entah bagaimana caranya ia jatuh cinta pada Imam. Seorang kristiani yang menjadi muallaf saat pertama kali mendengar murattal Al-qur’an, membuat Anisa tiada henti memikirnya.

“Nama asliku dulu Devo Bramantyo. Kemudian, aku ubah nama itu menjadi Imam. Nama yang sama dengan tukang kebunku”. Jelasnya. Mereka sama-sama terkekeh.

Anisa melayang dengan perhatian Imam. Tak sekalipun ia jauh darinya.

“Biarkan aku saja”. Pinta Imam ketika memungut sampah. Tangannya meraih kantong penuh sampah yang dipegang Anisa.

“Tidak kamu sudah kelelahan”

“ Tidak apa-apa, aku seorang laki-laki lebih kuat darimu”.

Anisa tersipu malu. Diikuti Imam sepanjang jalan menuju truk yang digunakan membawa sampah. Tubuh Imam tegap berjalan. Otot-ototnya menegang. Keringatnya bercucuran membuat basah sekujur tubuhnya. “Pria idaman,”gumam Anisa. Angin berdesis lemah mengitari rambut Anisa yang tergerai. Imam melempar sampah itu kedalam truk. Kemudian berpaling hendak pulang. Langkahnya terhenti., tak disangka Anisa berada didepannya.

Mereka saling bertemu pandang. Jantung Anisa berderu kencang. Imam terkesiap, wajah memerah anisa terkesiap. “ Astaghfirullah” ucap Anisa seraya menundukkan wajah. Anisa berjalan mendekati Imam. Sedang Imam terpaku di tempat. Ia diam tak tahu mau apa. Kini mereka hanya berjarak sejengkal tangan saja. Sunyi, Anisa melempar senyum pada Imam. Sekali lagi Imam terkesiap. Iapun memejamkan mata. Kemudian, Anisa raih telapak tangan Imam. Imam menolak dengan lembut.

Anisa tak menyerah, sekali lagi ia coba. Belum sampai ia raih. Buk… sesuatu menghantam punggung Anisa. Ia mengeram kesakitan, namun tak dihiraukan. Imam yang mendengar teriakan Anisa mengintip dari celah matanya. “ aduh ketahuan” ucapnya gugup. Anisa memandangnya penuh cinta. Dilupakan kejadian tadi, digerakan kembali tangannya mengangkat dagu imam. Buk… sekali lagi sesuatu menghantam tubuh anisa. Lebih keras mengenai tulang belakangnya.

“ Siapa sih…?”. sontak anisa menoleh.

“Jangan menoleh ke belakang!!!” teriak Imam. Badannya berjingkat menghalangi gerakan kepala Anisa. Gerakan yang cepat,hingga Anisa tak berdaya dalam dekapan Imam. Anisa menjerijit. Ini dia yang diinginkannya sedari tadi. Dekapan pria yang dicintai. Dirasakan benar-benar oleh Anisa, detak jantung imam,desakan nafas yang naik turun dan hembusan angin yang keluar dari hidung Imam membelai wajahnya.

Matanya liar memandang, dilihatnya bahu Imam, leher Imam, “woy..!!!” teriaknya. Ia lepaskan dekapan Imam. Kakinya bergetar mundur menjauh beberapa langkah. Mata Imam kosong memandang. Diam mematung tanpa berkata.

“Aaaaaaaaaaaaaaa……..”. dilihatnya bekas luka melingkar dileher Imam. Luka yang basah bersimbah darah. Tanpa berpikir panjang Anisa berlari, terus berlari sejauh sosok Imam menghilang. Ia tersengal-sengal berlari mengumpulkan seluruh tenaga.

“Apa?” langkahnya terhenti. Ia berpijak pada tanah lumpur basah, berdampingan dengan batu besar, dirindangi pohon asam menjulang tinggi dekat rumahnya. “Sungai Bawah Jembatan?” ucapnya ragu. Didepan sungai mengalir deras berubah tenang. Nampak dari seberang timbul cahaya putih menyilaukan. Dari dalamnya seseorang keluar. Kemudian berjalan diatas air menghampirinya. Angin berhenti berderu saat sosok itu sampai dihadapan Anisa.

“Sekarang bolehkah saya bertanya?”

“Bayang?”

“ Masih maukah kamu berpetualang?”

“ Kenapa kamu datang?”

“ Kamu jawab pertanyaanku dengan pertanyaan. Baiklah, tak perlu waktu lama. kurasa kamu sudah mengerti. Saatnya bagimu untuk istirahat. Kembali pada ibumu. Suatu saat nanti kau akan kubutuhkan lagi. Jadikan dirimu berguna. Karena itu pergilah dari sini!”.

“ Apa maksudmu?” Anisa tak terima.

“ kubilang PERGI DARI SINI…!!!”

Angin cepat merambat mendorong tubuh Anisa hingga terpelanting jauh.

***

Kelopak mata Anisa terbuka. Dilihatnya suasana hangat sebuah rumah. Saini sudah berada disampingnya. Dengan raut wajah berseri terpancar.

“ Bagaimana Nak lebih baik?”Anisa mengangguk.

“Untung saja Nak, kamu sakit” Beranjak mengambil sebuah koran.

“Maksud bu’e” Anisa mulai memanas.

Saini tersenyum, “Iya nak, Alhamdulillah kamu nggak ke Alas Purwo itu. Tujuannya memang baik. tapi sayang memakan korban”.

Anisa tak mengerti maksud Saini. Lelah menerka-nerka. Ia raih koran ditangan Saini. Berikut judulnya:

Tragis, Baksos Berujung Maut. Satu Orang Tewas dan Sepuluh Orang Luka-luka.

Penasaran, dibacanya koran lebih mendalam. Tertera nama korban yang tewas: Imam (20 tahun).

(Baca juga: Resensi Novel Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990)

Anisa tak percaya.  “Mungkinkah…..???”.

 

Related Post