Benarkah?

*Penulis: Sayyidah

Penulis adalah siswa kelas XI SMA Nuris Jember*

Ratusan santri dengan baju serba putih yang memang direncanakan untuk sama mulai memenuhi ruangan masjid yang cukup megah itu. Ya, malam ini untuk yang pertama kalinya beberapa santri Nurul Islam siap diberangkatkan untuk memenuhi agenda Tuhan di negeri gajah putih Thailand, melintasi lautan dan menembus awan tebal, mereka mantapkan niat untuk satu tujuan yang sama. Nurul Islam.

Mataku menjelajah mencari seseorang yang amat aku kenali  ditengah ratusan santri  yang saat itu tengah asik berbincang dengan teman sebayanya, namun sayangnya wajah itu tak kunjung terekam oleh kedua kornea mataku ini. “ Kamu nyari’in siapa ra,?”Ttanya salah satu temanku yang kebetulan saat itu berada disampingku. Kurasa dia mulai risih dengan tingkahku yang dari tadi duduk tanpa rasa tenang.

“Nyari kak Rani.” Jawabku singkat, dengan kepala yang terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Entah kenapa malam itu aku sangat ingin bertemu dengannya.

Kak Rani adalah salah satu dari peserta yang akan ditugaskan ke luar negeri, aku sangat mengenalnya bahkan rumahnya saja dekat denganku. Orangnya pintar, cantik, dan aku menilai dia adalah wanita yang sempurna di mataku. Meskipun aku tahu tak ada manusia yang sempurna di bumi pertiwi ini, abaikan. Itu pemikiranku, siapa peduli? Rasa kagumku pada gadis berumur 17 belas itu tak akan hilang. Bahkan sempat sedikit terlintas dalam benakku untuk bisa hidup seperti dia, hidup dalam bualan pujian dengan segala prestasi, bagai seorang princess yang selalu menjadi sorot pandang publik, namun rasanya itu hanyalah hayalan hampa yang mungkin tak akan terwujud.

Setelah beberapa menit kemudian, 11 santri dengan jas hijau bepadu warna abu-abu mulai memasuki ruangan masjid diikuti oleh pengasuh pesantren yang malam itu terlihat sangat berwibawa dengan jas hitam yang rapi dan peci hitamnya. Kesebelas santri tersebut sengaja diletakkan di posisi terdepan, dengan kostum yang memang dibedakan. Mereka terlihat sangat sempurna dengan jilbab abu-abu yang selaras dengan jas yang mereka gunakan. Senyum merekah hampir tak absen dari paras cantik mereka. Kulihat kak rani berada di tengah-tengah mereka, dia berdiri diurutan ke dua dari barisan paling kanan. Nampak sekali raut kegembiraan yang terus terpancar dari rona wajahnya, malam ini mungkin bisa menjadi malam bersejarah yang akan terus melekat dalam setiap sajak memorinya. Aku memandangnya lekat, andai saja wajah yang kini kulihat adalah aku, sungguh kebahagaian yang tak terperi. Namun, sayangnya hal itu lagi-lagi hanyalah sebuah hayalan.

“Assalamualaikum.”  Suara pengasuh pesantren memecahkan kegaduhan para santri. “ malam ini saudara-saudara kita akan melaksanakan perjalanan yang insya allah akan di ridhoi oleh Allah SWT. Sungguh betapa bangganya pesantren ini memiliki santri yang tak hanya pintar akal namun juga memiliki akhlak yang budiman.” Lanjutnya, setelah beliau sudah merasa cukup mendapat perhatian dari seluruh santri.

“ Lihat, itu kak Rani, rumahnya dekat loh dengan rumahku,” ucapku bangga, karena telah mengenal setidaknya satu dari sebelas santri yang malam itu seakan menjadi bintang di pesantren ini.

“ Cuma gitu aja bangga, terus kapan kamu bisa bangga sama diri kamu sendiri,?” Jawab temanku ketus. Ucapannya sungguh melebihi sayatan belati. Aku diam. Membisu. Kalimatnya seakan memenuhi telingaku, setiap hurufnya seakan berteriak dan mengatakan hal yang sama. Ya, pandanganku beku menatap kak rani yang kini tengah dipenuhi dengan sejuta syukur pada sang khalid. Hayalan untuk bisa hidup sepertinya muncul kembali, namun kali ini bukan hanya sekedar hayalan. Sejak malam itu aku sadar hayalan hampa itu akan dapat aku isi dengan usaha yang sungguh.

Setelah pelepasan selesai, seperti biasa seluruh santri berebut untuk mengucapkan  salam perpisahan terakhir dengan sang bintang. Aku masih terdiam di tengah kerumunan santri yang waktu itu tengah berlarian untuk bisa berjabat tangan dengan mereka. Namun, tidak denganku tubuhku masih terasa kaku dengan segala fikiran yang sedari tadi terus menghantui ku. Bahkan hampir aku tak bisa merasakan apapun. Aneh, tak pernah kurasakan hal semacam ini sebelumnya. Hingga seseorang dari belakang menghantam keras tubuhku dan membuat tubuh mungil ini terbentur keras pada tiang besar. seketika aku benar-benar tak ingat apapun. Gelap, tak ada cahaya secercahpun.

***

“Nara, bangun kita sudah sampai.” Suaranya terdengar renyah ditelingaku. Perlahan dapat kurasakan bilah-bilah cahaya yang mulai menyentuh lembut kedua bola mataku.

Aku terbangun dengan tangan yang terus mengucek mata untuk memperjelas penglihatanku yang masih terasa remang-remang.

“Bangun, kita sudah sampai.” Ucapnya lagi.

Kali ini aku benar-benar terbangun. Kulihat di depan sebuat ucapan selamat datang pada sebuah banner besar terpasang. “ WELCOME TO SONGKHLA, THAILAND.”

Aku bergumam. Dengan senyum mengembang.

 

Related Post