Achieve That

*Penulis: Anis Nabila

Penulis adalah salah satu siswa kelas XI PKB MA Unggulan Nuris Jember*

Achieve your dream

“Cpaak…”

Tapak kakiku menekan genangan air bekas hujan semalam. Tubuh kecil ini terbang melawan angin kencang yang sedari tadi berusaha menghempas sosok mungilku. Basah sudah, sepatu kumal yang tengah kupakai, karna terlalu banyak sepatuku minum air yang menggenang.

“Draak…”

Langkah terakhirku berhenti tepat di depan sekolah. Bukan sekolah sebenarnya, tepatnya gubug kecil yang sudah reot. Gubuk inilah yang digunakan sebagai ajang pembelajaran olehku dan rekan-rekanku. GUBUK BELAJAR, begitulah orang biasa menyebut gubuk kecil yang kami gunakan untuk mengais ilmu di desa kami yang terpencil ini. Gubuk yang hanya diisi oleh 9 awak pelajar dan 9 awak pengajar. Disinilah kami berusaha untuk menggapai keinginan kami, berusaha untuk menggenggam cita-cita kami di tengah kepapaan yang bertahan takkan melanda kehidupan kami.

“Assalamu’ailaikum…” Aku mengucap salam, Hening, tak ada jawab. Semua sosok yang berada dalam gubuk menunduk. Aku tak menangkap maksud dari hal ini. Ada apa? Mengapa mereka semua terdiam? Tak bersikap ceria dan hiperaktif seperti biasanya? Aku bingung menemukan jawaban dari semua pertanyaanku. Setelah aku menyadari sosok yang berpostur tinggi menjulang, berkulit gelap menatapku garang seperti serigala yang tengah menemukan mangsa di malam hari. Aku gemetar. Keringat dingin mulai merembes dari tubuhku.

“Traak…”

Rotan panjang itu melayang tinggi dan mendarat keras di atas meja kcil yang sudah mulai lapuk.

“Niar!!!” Suara itu menggelegar bak petir yang menyambar kala hujan deras.

“I…i…iya pak!” Jawabku terbata-bata.

“Terlambat lagi? Selalu saja terlambat. Ada dimana kedisiplinanmu? Ha?” Suaranya naik satu oktaf.

“A…a…anu pak..”

“Halah.. anu anu. Selalu saja banyak alasan. Dengar! Meskipun kalian tak berada di sekolah elit, tak berada di sekolah favorit, gunakan kedisiplinan kalian! Berapa kali bapak mengatakan jika kalian harus disiplin, tepat waktu. Berapa kali?”

Diam. Tak ada suara terdengar.

“Jawab!”

“Praak…” Rotan itu terayun lagi.

“Kalian harus giat belajar! Raih apa yang kalian inginkan. Meski banyak halangan. Dengan apa? Ya, dengan belajar, belajar dan belajar. Faham?!”

Sembilan tubuh ringkuh yang sejak tadi diam, hanya bisa menjawab dengan anggukan kecil yang menggantung dalam sepi.

“Niar!! Lari putari halam sebanyak tujuh kali!”

Kata-kata itu membuat efek hebat pada diriku. Kakiku lemas. Lari tujuh kali? Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah kakiku berlari keras sebanyak tujuh kali.

“Cepat!”

Tanpa babibu lagi, aku berbalik arah menghadap halaman, mengajak kedua kaki ini melakukan pelarian yang berat ini.

“Hosh hosh… sudah pak!”

“Sini kamu!”

Aku berjalan mendekati seseorang yang memiliki suara itu.

“Praak…”

Sampai sudah rotan itu di punggungku. Aku merasakan panas dan perih yang tak terhingga. Mataku berair. Aku tak bisa membendungnya. Berkali-kali rotan itu menghantam punggungku, meninggalkan bekas merah yang tak bisa kudefinisikan sakitnya.

“Dengar kata-kata bapak! Jangan pernah ada yang terlambat lagi!”

¨¨¨¨

Sepuluh tahun terlampaui..

Di Harion Grand Hall, Melbourne.

“Mr. Niar!” Seseorang menepuk pundakku.

Aku menoleh. Seorang bule bertubuh tinggi jenjang, berambut cokelat terang berdiri di belakangku.

“Oh, Mr. Maximilion”

“Now is your turn to go forward”

“Oh, Thanks”

Aku berjalan menengahi ribuan manusia yang tengah menatapku melangkah menuju podium. Kupandnag beribu pasang mata yang tengah menanti kata demi kata yang meluncur dari diriku.

Di sinilah aku sekarang. Harion Grand Hall, Melbourne, Australia. Aku berada dan duduk bersama orang-orang yang istimewa. Orang-orang yang penuh wawasan. Orang-orang yang penuh keberanian. Disini aku berdiri membuktikan adanya diriku di semesta alam yang luas nan lebar ini. Adanya seseorang yang mulanya penuh penderitaan, didera kemiskinan yang kemudian menjadi seseorang yang akhirnya dikenal. Seseorang yang diperbincangkan. Seseorang yang dibutuhkan. Ya, inilah aku.. ‘The Best Motivator’. Muhammad Niar yang tengah diliputi perasaan bahagia, karena telah berhasil merah cita-citanya untuk menaklukkan dunia.

(Baca juga: Rahasia Di Bilik Pesantren)

“I say, thank you so much to my beloved teacher. I can achieve, I can reach my dream high because of you. Without you, I will never see about this big world. Without your madness, I will never wanna study hard. Because of you, I wanna study and I wanna think to reach all of my dream. And I say sorry because I don’t give anything. I don’t give extraordinary something to you. But, I hope with my success. You will give your small smile to me in over there.”

Related Post