Lebih Dekat dengan Bung Karno

*Penulis adalah tim resume MA Unggulan Nuris Jember. Mereka berhasil dapatkan juara harapan 2 dalam lomba implementasi budaya baca tingkat kabupaten Jember di perpustakaan daerah Jember.

Judul                                     : Bung Karno Sang Singa Podium

Penulis                                  : Rhien Soemohadiwidjojo

Editor                                    : Redaksi Second Hope

Cover                                    : Sukutangan

Layout                                  : Rustam Setting

Halaman                               : viii + 428 Halaman

Penerbit                                : Second Hope

Terbitan                                : cetakan pertama, 2017

Harga                                     : Rp78.000

KATA PENGANTAR

Bung Karno, Sang Proklamator, Presiden Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus penyambung lidah rakyat Indonesia. Tak ada yang meragukan kepiawaian beliau dalam berpidato. Pidato-pidato beliau disampaikan untuk membakar semangat rakyat bersatu untuk meraih kemerdekaan, menumbuhkan rasa nasionalisme, sekaligus memperjuangkan kesamaaan derajat bagi umat manusia. Beliau adalah sosok inspiratif yang dapat dijadikan suri tauladan dalam melawan kekejaman bangsa Belanda dan Jepang saat menjajah bangsa Indonesia. Berkat semangat yang selalu ada dalam dirinya, akhirnya ia mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka.

SIAPA TAK KENAL BUNG KARNO

Soekarno dilahirkan pada saat fajar menyingsing di Surabaya, 06 Juni 1901 dari pasangan yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam. Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno dilahirkan. Ketika kecil Soekarno dulunya bernama Kusno, kemudian berganti nama Soekarno di usia 5 tahun karena sakit tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

Bung Karno pertama kali mengeyam pendidikan di Jombang hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orang tuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukkan Soekarno ke Erste Inlandse School, sekolah tempat ayahnya bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannnya diterima di Hogere Burger School (HBS).

Pada tahun 1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS Surabaya, Jawa Timur. Ia dapat diterima di HBS atas bantuan kawan bapaknya yang bernama H.O.S Tjokrominoto. Tjokrominoto bahkan memberi tempat tinggal di kediamannya.

Saat beliau bersekolah di Surabaya, di sana Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarikat Islam, seperti Alimin, Muso, Dharsono, H.Agus Salim, Abdul Muis. Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai “tandingan” organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian diganti menjadi Jong java ( Pemuda jawa ) pada tahun 1919. Selain itu, Soekarno juga aktif menulis dalam harian ‘’Oetoesan Hindia‘’ yang dipimpin oleh Tjokrominoto sewaktu Soekarno menjadi mahasiswa HBS Surabaya.

Setelah Soekarno tamat di HBS Surabaya pada bulan Juli 1921, kemudian ia melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (Sekarang ITB). Di Bandung ia mengambil jurusan Arsitek pada tahun 1921. Setelah dua bulan ia meninggalkan kuliahnya karena membantu keluarga Tjokroaminoto pada tahun 1922 Soekarno mendaftar kembali dengan mengambil jurusan Teknik Sipil dan tamat pada tahun 1926. Soekarno dinyatakan lulus ujian Insiyur pada tanggal 25 Mei 1926. Saat  Dies Natalis ke-6 TH Bandung tanggal 03 Juli 1926, ia diwisuda bersama 18 Insinyur lainnya.

Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Serekat islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Dr.Douwes Dekker (dikenal dengan 3 serangkai) yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij (NIP). Organisasi tersebut yang menginspirasi Bung Karno memantapkan niatnya dalam politik praktis.

Sebagai arsitek, Bung Karno adalah presiden pertama Indonesia yang juga dikenal kreatif dan inovatif. Lulus dari Technische Hoogeschool te Bandung (sekarang ITB) di Bandung dengan jurusan teknik sipil, Ir.soekarno pada tahun 1926 mendirikan biro Insinyur bersama Ir. Rooseno. Mereka merupakan aktor yang merancang dan membangun beberapa arsitektur konstruktif di ibu kota seperti, Masjid Istiqlal, Monas (Monumen Nasional), dan Gedung MPR dengan ciri khas atap bersususn dua, Istana Tapaksiring, Tugu Pahlawan dll. Tak heran Soekarno khususnya juga dijuluki sebagai “Bapak Arsitek Bangsa”.

Bung Karno dikenal sebagai pelajar yang tekun dan jarang mengikuti pesta sekolah serta tidak tertarik pada olahraga, namun gemar berburu pacar. Terutama noni-noni Belanda. Jadi, tidak heran apabila Soekarno memiliki 9 istri dengan 4 wanita yang diakui negara dan 5 yang tidak diakui oleh Negara. Di antara 5 yang tidak diakui Negara adalah Harjatie (1962-1966), Kartini Manoppo (1959-1968), Yurike Sanger (1964-1970), Heldi Jafar (1966-1969), Amalia Amentee (1964-1970). Sedangkan 4 wanita yang diakui oleh negara adalah Inggit Ganarsih (1923-1942), Fatmawati (1943-1954), Suhartini (1954), Ratna Sari (1962).

Yang menarik lagi adalah istilah dari nama ‘’Bung’’ pada diri Soekarno. Kata  ‘’Bung’’ sendiri sering dipakai oleh keluarga di Bengkulu sejak 1850 untuk memenggil seorang suami atau orang yang lebih dihormati, kemudian panggilan itu meluas sejak Fatmawati menikah dengan Soekarno dan memanggil Soekarno dengan panggilan ‘’Bung Karno’’.

BUNG KARNO SANG SINGA PODIUM

Bung Karno memiliki gaya pidato yang berbeda dari pemimpin lainnya, beliau terinspirasi dari dua tokoh besar, yaitu Leun Jaures, seorang pemimpin sosialis Perancis, dan H. Oemar Said Tjokroaminoto, pendiri Sarikat Islam sekaligus mertua Bung karno kala itu.

Salah satu gaya pidato Bung Karno adalah dengan menyelipkan pesan-pesan kebangsaan dan persatuan melalui metafora atau kiasan-kiasan yang tidak dimengerti oleh pihak Jepang, sekalipun mereka mengerti bahasa Indonesia, sehingga Jepang tidak menyadari bahwa Bung Karno tengah menyisipkan nialai-nilai kebangsaan pada rakyat Indonesia di sela-sela pidatonya.

Selain itu, Bung Karno juga memiliki rahasia dalam berpidato. Pertama Bung Karno menguasai betul sejarah Indonesia, kedua Bung Karno menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pendengarnya, ketiga Bung Karno pandai berimprovisasi. Karena kepiawaanya dalam berpidato, sampai-sampai dulu ada pesta pernikahan yang dibatalkan hanya karena tamu undangan lebih memilih mendengarkan pidato Bung Karno.

Pada beberapa kesempatan, Bung Karno juga menuliskan pidato-pidato yang bertema religius, beliau juga pernah mengisi pidato pada saat peringatan Nuzulul Qur’an. Namun, di balik kesuksesannya berpidato, itu semua tidak luput dari peranan ajudan dan penerjemah pidato beliau.

PIDATO BUNG KARNO PRA PROKLAMASI

Bung Karno mendapat julukan ‘’Sang Singa Podium’’ dikarenakan pidatonya pada masa praproklamasi  dapat membakar semangat rakyat. Beberapa pidato Bung Karno pada masa praproklamasi di antaranya berjudul ‘’Indonesia Menggugat’’ yang dibacakan sebagai pledoi (pidato pembelaan) saat diadili di Landrad (Gedung Pengadilan) yang merupakan entitas ke-Indonesiaan dari segi politik, budaya, dan sosial.

Bung Karno juga pernah berpidato dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia pada saat sidang BPUPKI tanggal 01 Juni 1945. Ketika itu, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasan tentang negara Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila. Pada pidato tersebut secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Zyunbi Cyoosakai disetujui sebagai dasar negara.

PIDATO BUNG KARNO MASA PROKLAMASI DAN PERANG KEMERDEKAAN (1945-1959)

Selain pidato Bung Karno pada masa praproklamasi ada juga pidato Bung Karno di masa proklamasi dan perang kemerdekaan (1945-1950). Di antara pidato fenomenal Bung Karno diudarakan pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang berisi pembacaan proklamasi yang dibacakan di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pemilihan tempat itu karena dianggap lebih aman. Bung Karno juga mengisi pidato pada saat rapat raksasa di lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) tanggal 19 September 1945 yang berisi penegasan bahwa Indonesia telah merdeka melalui proklamasi kemerdekaan pada  tanggal 17 Agustus 1945.

Bung Karno juga pernah memberikan amanat ketika peringatan ulang tahun kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1946 yang diselenggarakan di Istana Kepresidenan Yogyakarta atau sekarang lebih dikenal sebagai Gedung Agung. Kemudian  juga dalam Rapat Samudera di Bukit Tinggi pada tanggal 05 Juni 1948 yang bertepatan dengan peristiwa Isro’ Mikroj Nabi Muhammad SAW.

PIDATO BUNG KARNO DI MASA 1950-1958

Salah satu pidato Bung Karno di masa ini berjudul “Dari Sabang Sampai Merauke” yang disampaikan pada amanat presiden pada ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-V (1950) yang membahas pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh kerajaan Belanda dengan membentuk persekutuan Belanda-Indonesia dan Belanda sebagai kepala Negara.

Di samping itu, Bung Karno juga pernah berpidato dalam acara Pembukaan Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tanggal 18 April 1955 dengan judul Tet A New Asia and New Africa Be Born (lahirkanlah Asia baru dan Afrika baru) yang dibawakannya dalam bahasa Inggris di hadapan para pemimpin dari 29 negara Asia-Afrika. Dalam pidato ini, Bung Karno lebih mengutamakan pembebasan tentang nasib bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dengan tuntutan agar kemerdekaan tidak hanya diisi secara material tetapi juga secara etika dan moral. Ini lah salah satu peran Soekarno dalam politik internasional dengan menggagas KAA di Bandung sebagai tuan rumah pertama kali yang menghasilkan Dasasila Bandung. Pengaruh besar Soekarno yang besar di dunia internasional ini didukung oleh U Nu (Birma), Jawaharlal Nehru (India), Muhammad Ali (Pakistan), Abdel Gamel Nasir (Mesir), dan John Kotelawala (Sri Lanka) yang akhirnya membentuk Gerakan Non-Blok.

Pada 29 Juli 1956 di Semarang, Bung Karno kembali berpidato di hadapan warga bawah kaki Bukit Candi. Salah satu pidato terbaik Bung Karno ini menekankan terhadap cara agar Indonesia menjadi bangsa yang mempunyai mimpi dan fantasi besar, bersaing dengan negara-negara besar seperti Amerika.

PIDATO BUNG KARNO DI MASA DEMOKRASI TERPIMPIN (1959-1960)

Bung Karno sendiri pernah berpidato pada konferensi besar GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) di Kaliurang, Yogyakarta pada 17 Februari 1959 yang dilaksanakan setelah keberhasilan Indonesia dalam menyelenggarakan kongres sebanyak 3 kali. Selain itu,Bung Karno juga pernah menyampaikan amanat presiden pada ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1959 dengan judul “Manipol (Manifesto Politik Republik Indonesia)” yang berisi kembalinya Konstitusi Indonesia kepada Undang-Undang Dasar 1945 setelah selama kurang lebih 9 tahun menggunakan Undang-Undang Dasar Sementara 1950.

Pada 30 Oktober 1960, Bung Karno juga mengisi pidato di hadapan Sidang Umum PBB (Perserikatanb Bangsa-bangsa) ke-XV yang disampaikan menggunakan bahasa Inggris dengan judul “To Build The World A New” atau dalam bahasa Indonesia “Membangun Indonesia Kembali” dan diterjemahkan oleh Tom Atkinson. Bung Karno juga kembali berpidato dalam sidang pertama MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) di Gedung Merdeka Bandung pada tanggal 10 November 1960  mengenai tugas MPRS untuk menentukan garis-garis besar arah pembangunan semesta sebagai bagian dari revolusi yang ia awali dengan memberikan wejangan mengenai makna pahlawan.

Dalam pidato presiden saat awal pembangunan Jembatan Ampera di Palembang, Bung Karno berpidato di hadapan rakyat Palembang bahwa pembangunan Jembatan Ampera akan segera dimulai. Sebab rencana awal perancangan tiang jembatan pertama pada tahun 1960 ditunda sehingga tahap perancangan dan pembangunan Ampera baru terkonstruksi tahun 1962. Selain itu, Bung Karno juga menyampaikan revolusi perjuangan disertai nilai-nilai untuk terus bertekad membebaskan Irian Barat dari Belanda.

Di sisi lain, Bung Karno juga berpidato mengenai Ganyang Malaysia pada 27 Juli 1963 yang disebabkan ulah Malaysia sendiri yang ingin menyatukan beberapa wilayah menjadi Federasi Malaysia di antaranya, Brunei Darussalam, Sabah, dan Serawak. Oleh karena itu, Bung Karno mengecam bahkan menyatakan bermusuhan terhadap Malaysia.

Sedangkan pidato Bung Karno pada peringatan HUT Kemerdekaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1964 dengan judul “Tahun Vivire Pericoloso” atau Tahun Hidup secara Berbudaya. Dalam pidato ini, Bung Karno mengingatkan adanya ranjau revolusi dan menekankan keberanian melawan krisis. Bung Karno juga tidak mengharamkan adanya partai politik namun ia juga tidak menyukai praktik-praktik yang menggunakan politik untuk memperkaya diri. Selain itu, Bung Karno juga berpesan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa berdikari (berdiri pada kaki sendiri). Isi pidato inilah yang menjadi inspirasi Christopher Koch, penulis asal Australia dala menyusun novel “The Year Of Living Dangerously”.

Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G 30 S), Bung Karno menyelesaikan pidato pertamanya yang disiarkan oleh RRI pada 3 Oktober 1965 pukul 01.33 WIB. Pidato ini menyatakan bahwa Bung Karno tetap menjadi pemimpin negara. Bung Karno juga mengangkat mayor Jenderal Pianoto Reksosamudro sebagai pemimpin Angkatan Darat untuk memulihkan keamanan kembali dikarenakan pimpinan AD mengalami kekosongan pasca peristiwa G 30S/PKI. Peristiwa ini menjadi titik balik yang melemahkan pemerintahan Soekarno. Gagasan Soekarno mengenai NASAKOM (Nasional, Agama, dan Komunis) dan keengganannya membubarkan PKI dianggap rakyat membahayakan keutuhan NKRI membuatnya tidak dipercaya oleh rakyat. Hingga PKI dapat diatasi oleh Letnan Jenderal Soeharto, pada tahun 1967 Seokarno melepas jabatannya menjadi presiden tepat 20 Februari.

PIDATO BUNG KARNO SETELAH 1965

Pada 22 Juni 1966, Bung Karno kembali menyuarakan pidatonya sebagai pertanggung jawabannya atas peristiwa G 30S/PKI di depan sidang umum ke-IV MPRS yang dikenal dengan sebutan “Nawaksara”, yang berasal dari kata “Nawa” (Sembilan) dan “Aksara” (Huruf). Istilah ini muncul dikarenakan pidato Bung Karno yang terdiri dari 9 bagian meliputi, retrospeksi, landasan kerja melanjutkan pembangunan, hubungan politik dan ekonomi, detail ke DPR, tetap demokrasi terpimpin, merintis jalan ke arah pemurnian pelaksanaan UUD 1945, wewenang MPR dan MPRS, kedudukan presiden dan wakil presiden, dan penutup.

Akhir dari pidato Bung Karno ialah pada saat peringatan HUT RI pada 17 Agustus 1966, saat itu merupakan pidato kenegaraan terakhir oleh Bung Karno dengan judul “Karno Mempertahankan Garis Politiknya yang Berlaku Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (JASMERAH). Isi pidato tersebut menyiratkan sikap Bung Karno yang menolak seluruh tuduhan kepadanya dan agar bangsa Indonesia tidak melupakan sejarah mereka. Dalam pidatonya, Bung Karno tidak hanya mengutuk peristiwa G 30S/PKI, di sisi lain Bung Karno juga mengutuk pembunuhan, teror, dan penangkapan yang menimpa para pengikut PKI.

KUTIPAN-KUTIPAN BUNG KARNO

Dalam setiap pidato, Bung Karno selalu tampil dalam keadaan semangat sehingga timbul seruan agar bangsa Indonesia selalu bersatu, serta semangat revolusi untuk membangun bangsa dan negara, seperti ungkapan pidato pada saat HUT Proklamasi, 1949 yang berbunyi “ Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali”.

Selain itu, Bung karno ternyata juga menggunakan kata bijak dalam bentuk tulisan untuk menyemangati rakyat agar merdeka. Di antara tulisannya yang membuat rakyat semangat untuk mewujudkan kemerdekaan ialah seperti tulisan beliau yang berbunyi “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan aku cabut Semeru dari akarnya,  berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kugoncangkan dunia”.

(Baca juga: Mengenang Jenderal Soedirman, Tunas Kekuatan TNI Sejak 72 Tahun Lalu)

Akhirnya, ibarat pepatah “Tak ada gading yang tak retak”, sesempurna apa pun yang telah diperjuangkan sosok pahlawan. Pasti lah terdapat cela dan kekhilafan selaku manusia biasa. Namun, kita tetap turut meneladani Soekarno sebagai sosok revolusioner dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kemampuannya memikat hati rakyat melalui orasinya sangat mengesankan. Jas Merah “Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah”. Semoga kita mampu menapaktilas perjuangan Sang Proklamir Kemerdekaan Indonesia

 

Related Post