Tuhan yang Maha Angka

Penulis: Iffah Nurul Hidayah*

Lihat si hitam beruban bawah kolong jembatan
Mengorek berbongkah-bongkah emas lembaran pinggir kali
Tetapkah telanjang sekujur telapak kakinya?
Memungut raut NICA yang bahkan terpenggal maut

(Baca juga: serak serpihan qarun)

Di atas jembatan perut-perut buncit sibuk mengutili batu kerikil
Mencurinya di sepanjang pinggiran jalan Soekarno-Hatta
Peduli apa dia yang bertuhan maha angka?
Ketika sekali saja mulut dijejal, perut turut terganjal

Bagaimana deretan sen itu menjadi berlipat-lipat nolnya sekarang?
Mungkin si- cenora [1]berhasil melekatkan semburat renjana yang terlewat sepakat
Dua dua tahun silam, sampai kini penggemarnya makin merunyam
Membidik bola mata yang akhirnya membuta

(Baca juga: serapah perjuangan silam)

Si hitam beruban masih bertamu rindu dengan NICA yang berpulang
Tak jengah menata lembar emas yang tak punyai angka
Yang berperut buncit malah tetap menabuh perutnya sendiri
Kemana tuhan maha angkanya yang konon tak terhingga?

Rekayasa udara di setiap penghirupan rupanya menyiksa tahta
Mencabik pelik dinasti tuhan maha angkanya
Tuhan dipenggal, dibunuh!
Si hitam beruban dan yang berperut buncit bercinta
Sekarang mereka tuhan yang berangka, katanya

Sumber gambar: tasikmalaya.pikiran.rakyat.com

Penulis merupakan siswa kelas XI MA Unggulan Nuris yang aktif di ekstrakurikuler penulisan kreatif sastra


[1] Cindy Cenora: penyanyi cilik di era 98 yang menyanyikan lagu “Aku Cinta Rupiah”

Related Post