Menilik Kembali Hubungan NU dan Muhammadiyah

penulis: M. Izzul Aroby*

Kamis 3 Juni 2021, media sosial ramai memberitakan kejadian protes yang dilakukan oleh warga NU Desa Sraten Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Dikutip dari berbagai sumber, penyebab protes warga NU adalah akan dibangunnya Masjid Muhammadiyyah di wilayah Sraten yang mayoritas NU, dan mengganggap bahwa di tempat tersebut tidak terdapat warga muhammadiyah.

Selayaknya adik dan kakak yang sama-sama berjuang menegakkan kalimat Allah di muka bumi, hubungan NU dan Muhammadiyah terkadang setenang air danau, kadang beriak seperti air di sungai yang menabrak bebatuan.

Era awal tahun 2000-an, ketika KH. Abdurrahman Wahid (Representatif NU) dan Prof. Amin Rais (Tokoh Muhammadiyah) bersilang pendapat dalam siyasah. Hal tersebut merembet ke masyarakat akar rumput hingga konon cinta bisa kandas bisa batal karena perbedaan afiliasi ormas.

Riak itu terjadi lagi ketika pembahasan Fullday School tahun 2017 silam, NU berpendapat sebaiknya Fullday School tidak diperlukan karena dapat mematikan pendidikan madrasah milik NU yang umumnya dilakukan sore hari. Lagi-lagi pendapat NU berbanding terbalik dengan pendapat Muhammadiyah.

(baca juga: Orang Berilmu yang Berbahaya, kok Bisa?)

Saat ini, hubungan elit NU dan Muhammadiyah sangat harmonis, tidak terhitung silaturahmi dan temu bersama telah dilakukan oleh pimpinan NU dan Muhammadiyah di pelbagai forum. Jalinan silaturahmi antar tokoh kedua ormas besar tersebut terjalin hangat ditandai dengan akrabnya KH Mustofa Bisri (Rois Aam PBNU 2015) dengan Buya Syafi’i Maarif (Tokoh dan Ketua Persyarikatan Muhammadiyah 1998-2005) saat momen ulang tahun Buya Syafi’i ke-85 pada tanggal 31 Mei yang lalu.

Kondisi akar rumput kedua ormas besar ini memang unik, tidak selalu mirip dengan kondisi jajaran elite. Tingkat fanatisme anggota NU dan Muhammadiyah di beberapa daerah terbilang tinggi hingga taraf enggan salat jamaah di masjid yang bukan afiliasi organisasinya. Hal tersebut tidak perlu disikapi secara berlebihan. Adanya konflik seperti di Sraten Banyuwangi menandakan perlunya silaturahmi dan komunikasi yang lebih erat antara pengurus NU dan Muhammadiyyah di pelbagai lapisan. Apabila komunikasi terjalin dengan baik, maka kemungkinan besar konflik dapat dihindari sehingga tenaga yang seharusnya tercurah untuk kegiatan yang positif tidak terbuang percuma hanya untuk mengurus konflik antar sesama anak bangsa.

Sebenarnya komunikasi dan silaturahmi antara warga NU dan Muhammadiyyah telah terjalin baik di media sosial. Beberapa kali akun @NUgarislucu dan @muhammadiyyinGL saling melempar candaan dan diramaikan guyonan oleh follower masing-masing. Keakraban akun ber-follower besar tersebut tercermin saat admin @NUgarislucu menyempatkan hadir dan memberikan barakah doa saat milad akun @muhammadiyyinGL.

Pakar media sosial, Ismail Fahmi menyebutkan dalam analisisnya (Drone Emprit) bahwa di media sosial tokoh NU dan Muhammadiyyah cenderung cair dan penuh humor dalam berinteraksi. Hal ini merupakan modal baik yang harus dipertahankan oleh semua anggota NU dan Muhammadiyyah bahwa jangan sampai hanya dikarenakan perbedaan afiliasi organisasi menjadikan jauh dan tidak saling bertegur sapa.[]

sumber foto kover: IBTimes.id

*penulis adalah alumni MA Unggulan Nuris tahun 2017

Related Post