Sajadah Cintaku

Penulis: Jinny Melita Mayangsari*

Metha adalah namaku, aku adalah anak tunggal karna anak tunggal aku selalu dimanja oleh kedua orang tuaku. Ayah adalah sosok yang paling memanjaku setiap hari aku selalu menghabiskan waktu dirumah. Lama kelamaan aku mulai bosan dirumah sebab kedua orang tuaku selalu debat tanpa alasan. Namun pada masa itu ada seorang yang mendekatiku karna kebosananku di rumah aku mulai luluh dengan perhatian yang dia berikan. Dia adalah kakak kelasku yang bernama Rosadi, dia adalah sosok yang sangat pintar. Tahun demi tahun pun kita lalui ketika Rosadi naik kelas 9 dia mulai berubah dia hanya fokus belajar, belajar dan belajar. Dan pada saat itulah aku mulai merasakan kesepianku. Pada malam hari aku memutuskan untuk shalat isthikarah sejak malam itu aku mulai berkeinginan untuk berhijrah.

Aku ingin dekat dengan zat yang menciptakanku mungkin karna aku jauh dari Allah. Allah memberi cobaan bagiku pada saat itu juga ayahku sakit parah. Orang yang biasa memanjaku kini lemah diatas kasur hari hariku semakin dilanda kesedihan. Namun jika semua terus aku selasi masalah ini tidak akan pernah selesai. Berhari-hari aku memikirkan tentang hal ini, tidak lama kemudian aku menemukan jalan keluar. Satu-satunya cara adalah harus hijrah. Hijrahku aku awali dengan memutuskan hubungaku dengan Rosadi bahwa lebih baik kita fokus meraih masa depan dulu toh jika kita berjodoh kita akan bersatu kembali. Rosadi pun menerima dengan keputusanku.

(Baca juga: penyesalan)

     Masa hijrahkupun mulai ku lalui, karna aku adalah anak yang individual aku malas untuk menceritakan semua hal ini pada orang lain. Setiap malam aku selalu jalan dengan ibadah entah mengapa dengan beribadah aku merasa lebih tenang. Sajadah adalah terbaikku aku selalu minta segala hal kepada Allah dengan perantaraan sajadah yang ku pergunakan untuk bersujud kepada sang pencipta.

     Bertahun tahun ku lalui hari hariku dengan bahagia. Singkat cerita ketika aku lulus SMP aku berkeiginan untuk meneruskan pendidikan di pondok pesantren. Dan keputusan itupun di restui orang tuaku. Dan akhirnya aku melalui hatri-hariku dengan santri. Ketika dipondok aku sangat merasakan ketenangan di pondok. Dengan di pondok aku tidak lagi mendengar suara berisik karna pertengkaran orang tuaku. Namun ada dimana sisi yang berbeda dulu aku bisa melihat kedua orang tuaku namun karna dipondok aku susah untuk bertemu mereka. Dan hari demi hari aku lalui entah kenapa aku tidak betah dipondok dengan berbagai jenis alasan.

     Namun bagaimana lagi ini adalah tirakatku menuju kesuksesan. Aku berusaha untuk betah dipondok meskipun rasanya sangat berat. 3tahun pun aku lalui di pondok dengan lancar. Pada saat itu ada seorang ustad yang ingin melamarku. Ustad itu bernama ustad Alfan, dia adalah sosok yang baik tidak lama kemudian datang kerumahku dan melamarku. Namun mamaku masih belum yakin bahwa ustad Alfan bisa membimbingku dan menafkahiku. Namun tak henti-hentinya ustad Alfan meyakinkan kedua orang tuaku. Tak selang berapa lama alhasil orang tuaku pun menyetujui, merestui dan menyuruhku segera menikah. Namun aku tidak mau karna beberapa alasan.

(Baca juga: nyai)

     Aku hanya ingin membahagiakan kedua orang tuaku dengan cara apapun itu. Semenjak saat itu aku memilih untuk mengabdikan diri di pondok. Karna di pondok aku memiliki banyak teman yang bisa aku ajak untuk berbagi ilmu. Namun dengan berbagai alasanpun aku menolaknya ustad tetap menantiku. Tapi aku tetap saja tidak bisa bersamanya. Bertahun tahun telah berlalu Rosadipun datang menemui orang tuaku. Aku kaget bukan main mendengar kabar itu dari orang tuaku. Senang bercampur sedih aku rasakan, sedihnya ayahku tidak merestui hubungaku dengan Rosadi. Sebab ayahku telah mengetahui bahwa Rosadi adalah mantanku. Karna kesal selalu memperdebatkan ini semua,aku takut karna hanya masalah duniawi aku meninggalkan ibadahku. Untuk menentualkan perdebatan orang tuaku aku memilih ke pondok salaf untuk memperkuat imanku. Dipondok salaf aku mempelajari banyak kitab kitab. Mungkin awalnya aku harus menyesuaikan karna banyak sekali perbedaaan dari pondok ku sebelumnya. Kitab yang ku pelajaripun kitab-kitab besar. Pada suatu hari aku mengalami musibah dipondok saat menjemur pakaian tiba tiba aku tepeleset dan jatuh dari lantai 3. Sejak saat kejadian itu aku koma selama 1 minggu, kedua orang tuaku pun sangat panik. Apalagi saat dokter mengatakan hatiku telah rusak akibat benturan yang sangat keras. Dan ginjalkupun mengalami gangguan yang sangat fatal. Mama pun bingung mencari bantuan yang ikhlas, mendonorkan ginjal dan hati untukku. Beberapa hari kemudian datanglah seorang bapak tua yang ingin mendonorkan hati dan ginjal dengan ikhlas namun bapak itu memiliki permintaan bahwa ketika aku sembuh total aku harus menikah dengan anaknya.

     Tanpa fikir panjang orang tuaku menyetujuinya. Setelah oprasi dilaksanakan tak lama kemudian akupun sadar, tak lama kemudian mama menceritakan semua yang terjadi. Satu tahunpun berlalu pada saat itu akan kedatangan tamu istimewa kata mama. Ternyata tamu itu adalah bapak yang telah mendonorkan jantung dan hatinya untuk aku. Bapak itu datang bersama anaknya yang ingin di jodohkan denganku. Ternyata benar firasatku anak itu adalah Rosadi aku sangat terkejut melihatnya. Ternyata dia benar-benar menungguku aku sangat senang ternyata orang yang selama ini aku curhatkan kepada Allah diatas sajadahku ternyata penantian dan usahaku juga tidak sia-sia. Benar ucap tuhan jika kita berhijrah ke jalan yang lebih baik apapun yang kita inginkan pasti tercapai asal kita yakin berdoa dan sabar.

“Jika memang jodoh dimanapun dia berada. Dia tetap akan kembali kepada tulang rusuknya”

Sumber gambar: manado.tribunnews.com

Penulis merupakan alumni SMA Nuris Jember

Related Post