Kisah Sunan Kalijaga, Menjaga Tongkat, hingga Tiket Nonton Wayang

Penulis : Rosan Kelvino Andre*

Sunan Kalijaga adalah salah satu wali songo yang sangat terkenal di Indonesia karena pengaruh dakwahnya di tanah Jawa. Nama asli beliau adalah Raden Mas Said, putra dari Tumenggung Wilatika dan Dewi Nawangarum. Beliau lahir sekitar tahun 1450 Masehi di Tuban, Majapahit. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai 100 tahun. Dengan demikian ia merasakan masa kesudahan kekuasaan Majapahit yang berakhir pada tahun 1478 M.

Sebelum menjadi Wali Songo atau ketika masa mudanya, Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan. Hasil rampokan itu ia bagikan kepada orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden Said berada di hutan, ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu tidak lain ialah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihatnya seperti tongkat emas, ia kemudian merampas tongkat itu.

(Baca juga: zaid bin tsabit, sang pena kebanggaan rosulullah)

Ketika Raden Said merampas tongkat emas itu, Sunan Bonang terjatuh dan tanpa disengaja mencabut beberapa rumput liar. Seketika Sunan Bonang menangis tersedu-sedu. Ketika Raden Said hendak pergi, ia menjadi kasihan dan berniat akan mengembalikan tongkat emas milik Sunan Bonang itu.

Akan tetapi, Sunan Bonang memberikan jawaban yang sangat mengejutkan. Sunan Bonang mengatakan bahwa ia tidak menangis lantaran tongkat emasnya diambil, melainkan karena telah mencabut rumput yang tidak bersalah dengan sia-sia, bukan untuk kepentingan yang bermanfaat. Mendengar jawaban itu, Raden Said menjadi tertarik, kemudian mengutarakan maksudnya merampas tongkat emas milik Sunan Bonang itu.

Kata Raden Said, hasil ia merampok akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi, Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah SWT tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjuk pada pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Ketika Raden Said berhasil memanjat pohon aren itu lalu menurunkannya, ia terkejut karena buah aren tersebut kembali ke bentuk semula, tidak lagi berupa emas.

(Baca juga: ar-razi seorang ilmuwan islam sedunia)

Setelah itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang. Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke sungai. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan di tepi sungai. Sunan Bonang memerintahkannya untuk tidak beranjak dari tempat itu sebelum ia datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu, ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Saking lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya.

Tiga tahun kemudian, akhirnya Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga pun diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu memulai dakwahnya dan beliau pun mulai dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Dalam dakwahnya dia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika budaya mereka ditentang oleh Sunan Kalijaga. Maka ia pun mendekati masyarakat secara bertahap atau mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Sunan Kalijaga juga disebut suka menyamar, menampilkan diri sebagai orang biasa yang tidak menonjol. Sementara itu, dalam Babad Cirebon disebutkan bahwa Sunan Kalijaga menjadi dalang yang berkeliling ke berbagai tempat. Ia berkeliling dari wilayah Pajajaran hingga Majapahit.

Ajaran Sunan Kalijaga memang terkesan sinkretis (red. ajaran yang menyesuaikan dengan budaya lokal) dalam mengenalkan Islam. Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Beliau juga yang menggagas baju takwa, sekaten, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu. Guru Besar Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Gunung Djati, Sulasman mengatakan Sunan Kalijaga mengadakan pagelaran wayang di masjid. Orang yang hendak menonton diminta membaca syahadat sebagai tiket masuk. Kemudian, ketika gelaran wayang berlangsung disisipkan ajaran-ajaran Islam dengan penyampaian yang mengesankan.

Beliau wafat pada tahun 1513 Masehi di Kadilangu, Demak. Ketika wafat, ia dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang-orang dari seluruh Indonesia. (ros/jai)

Sumber gambar: kalam.sindonews.com

Penulis merupakan siswa kelas X Axioo SMK Nuris Jember yang aktif di ekstrakurikuler jurnalistik

Related Post