Pusaran Udara Kehidupan

penulis: Agok Prasetyo*

Kicauan burung mengawali pagi ini dengan semilir angin sepoi yang menggugah semangat santri Al-halim Bandung dalam mencari ilmu. Satu per satu santri berbondong-bondong menjinjning berbagai kitab dan siap mengikuti pelajaran hari ini.

“kringgggg…..” tepat pukul 06.30 kelas IX A aliyah telah menduduki bangku masing-masing. Para guru jug atelah menapakkan kakinya di masing-masing kelas. Aku pun juga menduduki kursi yang tersedia.

Pelajaran dimulai. Kumenyimak untaian-untainan ilmu dari bibir Bu Indi. Usaha penyimakanku gagal karena seseorang yang membuat kepalaku menoleh ke arahnya. Dia begitu cantik bagai bidadari yang hadir di sandaran kehidupanku. Serasa hati ini berderu kencang. Ya, dirinyalah yang membuat diriku gagal fokus hingga bel pulang berbunyi. Aku terus berpikir bayangan dirinya. Aku pun penasaran tentangnya hingga mulutku terdorong untuk melantunkan salam. Tanda awal ingin berkenalan.

“Assalamualaikum” kumenyapanya.

“Waalaikumsalam, iya ada apa?” jawabnya dengan penuh kesopanan.

“Namanya siapa?”

“Saya Nadia Amira, dan kamu?”

“Alvaro Prasetyo, dari mana?”

“Saya dari Jember”

“Oh sama dong”

“……” dia hanya tersenyum manis, disertai wajah malu di hari itu rasa mulai timbul. Entah padanya.

###

Hari demi hari telah berlalu. Hingga tiba ujian Nasional yang akan ku jalani. Aku sangat senang karena ada seseatu yang aku tunggu-tunggu. Sebelumnya aku telah menjalin cinta dengan Amira. Cinta kami tidak berstatus pacaran.Tapi saling menimpan rasa dan saling menjaga hati.

(baca juga: Sajak kepada Guru)

Amira adalah anak ke dua dari tiga bersaudara, Rafi itu nama adiknya, dia cowok dan masih duduk di bangku SD. Kakaknya bernama Sadira, lumayan cantik tapi aku akui dia kalah dengan adiknya dari segi kecantikan.

###

Puncak kelulusan tiba. Masing-masing santri telah mendapatkan catatan kelulusannya.

“Amira”

“Apa?”

“Kamu mau lanjut di mana?”

“Rencananya aku mau lanjut di Malang soalnya di sana ada familiku, kamu sendiri di mana?”

“Aku lanjut di kotaku Jember. Aku gak mau jauh-jauh lagi sama ibu”

“Dasar anak mama”

Itu dialog terakhirku bersama Amira. Aku hilang kontak dengannya, dia menghilang, entah kemana dia tempatkan dirinya, tepat satu bulan seusai kelulusan, aku berusaha mencari nomer telponnya. Tapi taka da satu pun orang yang tahu, hasilnya nihil. Aku pasrah dan mulai mencoba untuk hidup tanpa dirinya.

“Bahwa Allah telah menciptakan hambanya berpasang-pasangan. Allah tidak akan menukar jodoh kalian.” Beberapa kata yang terucap dari lisan kiai. Ini semakin mendorongku untuk hidup mandiri

###

Empat tahun kujalani tanpa hadirnya, jelas ini merubah samua dalam diriku. Aku pun lebih condong kepada teman-temanku. Tidak memikirkannya bahkan bisa dibilang dia seakan tidak pernah kukenal sebelumnya nomornya hilang, fotonya di galeri telponku sudah kuhapus. Aku nyaman dengan hidupku yang sekarang.

Tanggal 1 Juli namaku resmi diganti menjadi Alvaro Prasetyo, S.E. di hadapan semua orang termasuk ayah dan ibuku hadir dalam acara tersebut. Aku menangis mengingat bahwa apa yang kucapai sekarang adalah sebuah hasil dari dorongan dan hubungan penuh ayah dan ibu. Tangis tambah menjadi-jadi setelah melihat mata ayah dan ibuku berkaca-kaca.

Seminggu setelah acara itu. Aku berlibur untuk me-refresh otak setelah empat tahun kujalani. Empat tahun yang kejam diserang tagar-tagar tiada henti.

Pasir putih. Tempat yang kutarget sebagai sarana berlibur. Kuinjak gas mobil menuju ke sana. Tepat 05.03 kumatikan mesin mobilku, kulangkahkan kaki ketumpukan pasir dingin. Angin mengembus begitu tenang. Mentari pun malu menampakan dirinya. Duduk di tepi pantai. Sesekali kakiku basah dihempas ombak tenang lautan.

###

Tiba-tiba telepon di celanaku bordering ”munkin ibu” pikirku. Lantasku berdiri untuk mengambil dan mengangkat telponku. Terlihat di layar telponku, nomor yang tak pernah kukenal.

(baca juga: Anyaman Kematian yang Melarung Nyawa)

“Assalamualaikum” tanyaku ditelepon.

“….” Tak ada satu kata pun yang kudengar dari teleponku ini semakin membuatku penasaran. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan wanita dari teleponku.

“Halo, ini siapa yaa?” alisku menyerngit, semakin lama tangisan itu seakan menjadi nyata.

“Bugh…” badanku terdorong maju entah apa yang menghantamku. Kuputar kepalaku, sejenak kutercengang.

“Sepertinya aku pernah mengenal wanita ini. Ya itu dia.. Amira. Wanita yang sekarang mengikat tangannya di badanku” batinku.

“Alvaro ini kah dirimu yang sekarang?” ucapnya sambil meneteskan airmata. Kulepas tangannya dari badanku, kupegang kedua pundaknya, kutatap kedua bola mata indah yang di bingkai oleh kaca mata hitamnya.

“Ya Amira, ini aku, Alvaro” disertai senyum manis yang kutembakkan ke wajahnya.

“Bugh” dia pun melakukan hal itu kembali, tangaisnya tak bisa dibendung sampai bajuku habis dibasahi oleh air matanya.

###

Tepat tanggal 23 September, hari di mana dia dilahirkan.

“Qobiltu…..” kata yang keluar dari bibirku hari itu. Itu artinya aku resmi menjadi seorang imam dan untuk pertama kali dalam hidupku. Kumencium keningnya tepat di hadapan penghulu.

“Biar penghulunya iri liat kita” bisikku di telinganya.

                                                                                        Jember, sebuah November

*Agok Prasetyo berkepribadian simple, tinggal di Silo Jember, lulusan MA Unggulan Nuris Jember.

Related Post