Ustadzah Viva: “Zelig itu Semangat Belajarnya Sangat Luar Biasa!
Pesantren Nuris – Hujan kebanggaan yang membasahi bumi MI Unggulan Nuris Jember rupanya tidak hanya melulu soal membawa pulang piala Juara 1, 2, atau 3. Setelah euforia kita dipuaskan oleh hattrick gemilang Agam di bidang keagamaan pada ajang festival di alun-alun beberapa waktu lalu, kini ada satu kisah inspiratif lain yang sangat sayang untuk dilewatkan. Kisah ini bukan sekadar tentang persaingan mengalahkan lawan, melainkan tentang keberanian menaklukkan diri sendiri.
Tokoh utama dalam kisah inspiratif kali ini datang dari kelas 5-A. Namanya Zelig. Ya, Zelig Zyandru Z. Bagi warga MI Unggulan Nuris Jember, jejak rekam prestasi siswa yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi. Zelig sudah lama dikenal sebagai salah satu singa podium di madrasah ini. Kepiawaiannya dalam merangkai kata dan menyampaikannya lewat lomba pidato sudah sering membuat kita berdecak kagum dan mengantarkannya pada berbagai pencapaian manis.
Namun, ada yang berbeda dan sangat menarik pada penampilannya kali ini. Alih-alih kembali memegang mikrofon untuk berpidato dengan gaya orasinya yang khas dan tegas, Zelig justru mengambil langkah yang sangat berani. Ia memutuskan untuk banting setir dan menantang dirinya sendiri turun di arena panggung Storytelling pada tanggal 16 April 2026. Ia memulai latihannya untuk mempersiapkan diri menghadapi lomba-lomba yang akan datang.
(Baca juga : Misteri Piala Ketiga Terjawab, Siswa MI Unggulan Nuris Jember Sabet Juara MHQ Tingkat Kabupaten di JII)
Keputusan ini tentu mengejutkan sekaligus mengundang decak kagum. Mengubah haluan dari pidato ke story telling ibarat berpindah dari jalan lurus yang tegas ke jalan berkelok yang penuh nuansa dan rasa. Di atas kertas, jika ditilik dari segi kemampuan dasar, skill Zelig memang lebih matang di jalur pidato. Namun, dorongan rasa ingin tahu yang tinggi dan kecintaannya dalam mencoba hal-hal baru berhasil mematahkan keraguan tersebut. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tak ragu untuk keluar dari kebiasaan lamanya.
Langkah berani Zelig ini tidak akan terwujud tanpa adanya support system yang luar biasa di belakangnya. Mengetahui sang anak memiliki kemauan keras untuk mencoba hal baru, kedua orang tua Zelig langsung memberikan lampu hijau dan dukungan penuh. Sinergi yang indah antara keinginan kuat sang siswa dan dukungan total dari orang tua inilah yang menjadi bahan bakar utama Zelig untuk melangkah mantap ke panggung storytelling pertamanya.
Tentu saja, proses transisi gaya panggung ini tidak dibiarkan berjalan sendirian. Ada sosok Ustadzah Viva yang dengan telaten dan sabar mendampingi, serta memoles bakat Zelig. Sebagai pembimbing, Ustadzah Viva menyadari betul bahwa merubah kebiasaan orasi menjadi gaya bercerita yang teatrikal menjadi sebuah PR yang menantang.
Mengawal Zelig di pengalaman perdananya ini memberikan kesan yang sangat mendalam bagi Ustadzah Viva. Beliau mengakui bahwa perjalanan persiapan lomba ini penuh dengan dinamika dan proses belajar yang seru. “Bagi saya, pengalaman ini sangat berharga karena ini pertama kalinya Mas Zelig mencoba panggung storytelling, setelah sebelumnya ia lebih terbiasa dengan lomba pidato,” ungkap Ustadzah Viva.
Beliau menuturkan secara jujur bahwa proses adaptasi yang dilalui siswa kelas 5-A tersebut sama sekali tidak mudah. Berpidato menuntut ketegasan argumen, sementara storytelling menuntut kelenturan emosi. “Terlihat jelas adanya proses adaptasi yang tidak mudah. Mulai dari merubah cara penyampaian, memainkan ekspresi wajah, hingga bagaimana penghayatan untuk masuk ke dalam sebuah cerita,” jelas Ustadzah Viva ketika menjabarkan tantangannya.
Meskipun harus meraba-raba teknik baru, Ustadzah Viva mengaku sangat terkesan dan terharu dengan progres anak didiknya tersebut. Zelig sama sekali tidak rewel atau mudah menyerah meski harus berkali-kali memperbaiki intonasinya saat latihan. “Namun, semangat belajar dan keberaniannya untuk mencoba hal baru itulah yang menjadi nilai sangat membanggakan bagi kami. Perkembangan yang ditunjukkan Zelig semakin hari semakin terlihat nyata,” puji Ustadzah Viva dengan senyum bangga.
Sebagai bekal berharga untuk perjalanan Zelig ke depannya, Ustadzah Viva menitipkan pesan yang begitu memotivasi. Beliau berharap Zelig menjadikan momen ini sebagai batu loncatan yang berharga. “Pesan Ustadzah, teruslah berlatih dan jangan pernah ragu untuk keluar dari zona nyamanmu. Pengalaman pertama di storytelling ini adalah langkah awal yang sangat baik untuk berkembang lebih jauh lagi,” wejang beliau penuh harap.
Lebih lanjut, Ustadzah Viva juga memberikan sedikit catatan penyemangat agar penampilan Zelig kelak bisa lebih sempurna. “Ke depannya, perlu lebih banyak eksplorasi lagi dalam hal ekspresi, intonasi suara, dan penghayatan karakter agar storytelling-nya menjadi lebih hidup. Tetap percaya diri, nikmati setiap proses belajarnya, dan jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk meraih hasil yang lebih baik di kesempatan berikutnya,” tambahnya menutup sesi wawancara.
Keberanian Zelig menjajal panggung storytelling telah memberikan suntikan semangat baru bagi iklim kompetisi di MI Unggulan Nuris Jember. Ia mengajarkan kita bahwa menjadi juara bukanlah satu-satunya tujuan, melainkan keberanian untuk bertumbuh, belajar, dan menantang batasan diri, karena itu merupakan kemenangan yang sesungguhnya. Teruslah bereksplorasi, Zelig! Kami bangga padamu dan tak sabar menanti kejutan-kejutan hebatmu selanjutnya. Barakallah, Nak! [FE.Red]
