Tak hanya Khatam 10 Kitab, Santri MA Unggulan Nuris Sukses Raih Medali Perak Olimpiade Matematika

Raih Prestasi sebagai Penyemangat Belajar, Fokus Padukan Penguasaan Ilmu Agama dan Umum

Pesantren Nuris – Aditya Eko Budiono bukan sekadar santri biasa yang telah khatam 10 kitab kuning. Ia juga dikenal sebagai pelajar yang bersemangat menempa diri di berbagai bidang bahkan yang terkini berhasil meraih medali perak olimpiade matematika tingkat nasional ajang Kompetisi Sains Nasional (KSN) tahun 2026 yang diselenggarakan oleh PUSKASNAS.

Perlombaan akademik secara daring ini diketahui diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai sekolah se-Indonesia. Santri yang duduk di kelas X A ini turut berpartisi bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sekaligus tampil membanggakan dengan torehan medali peraknya. Meski berada di kelas unggulan kitab kuning, ia berhasil menaklukkan soal-soal rumit matematika dengan maksimal.

“Masih kelas X kan pelajarannya banyak sekali dan saya memang suka belajar apa pun mata pelajarannya. Sebelumnya saya juga pernah meraih medali perak mata pelajaran ekonomi, sekarang alhamdulillah matematika. Dengan prestasi ini, saya ingin terus memacu semangat belajar dan mengembangkan potensi diri.” Ungkap Adit, sapaan akrabnya di Pesantren Nuris Jember.

Putra dari bapak Muh. Isnaini dan ibu Siti Nur Aini ini sedari bangku MTs Unggulan Nuris dikenal aktif dalam kegiatan Pramuka. Beberapa prestasi gemilang juga pernah diraihnya seperti, juara 3 hasta karya, juara 2 ODSA Game, dan juara 1 regu tergiat. Tak hanya itu, ia juga pernah meraih juara harapan 1 olimpiade matematika tingkat Kabupaten Jember.

(baca juga: Medali Emas Olimpiade Nahwu Sharraf Santri Pedia 2026, Prestasi Nasional Kebanggaan Santri MA Unggulan Nuris)

Di Pesantren Nuris Jember, Adit juga telah berhasil mengkhatamkan 10 kitab kuning yakni, Taqrib, Hujjah NU, Imrithy, Jurumiyah, Aqidatul Awam, Tarbisyatus Shibyan, Jauharitud Tauhid, Hidayatus Shibyan, Ta’limul Muta’alim, dan Safinatun Najah.

Bagi santri asal Ambulu, Jember ini semangat belajar bukan sekadar paksaan, tetapi pemahaman bahwa tidak ada seorang pun yang terlahir dalam keadaan pintar. Ini yang menjadi prinsipnya untuk belajar banyak hal baik ilmu agama maupun dunia sains dan sosial humaniora.

Dengan torehan prestasi ini, santri kelahiran Februari 2010 ini menatap jelang momentum kenaikan kelas XI yang tersisa sebulan ke depan dengan optimis. Ia ingin terus mengintrospeksi diri dan tak cepat puas dengan apa yang telah dicapainya. Tahun ajaran depan harus meningkakan kualitas belajar dan prestasi yang lebih membanggakan.[AF.Red]

 

 

Related Post