Belajar Menyenangkan di MA Unggulan Nuris, Raih Prestasi Bikin Semangat Belajar Berlapis-Lapis
Pesantren Nuris – Santri kekinian semakin menunjukkan eksistensi yang lebih global dari stigma klasik tempo lalu. Bagaimana tidak, bukan hanya menarget khatam kitab kuning, selama di pesantren mereka juga bersemangat belajar ilmu umum seperti ekonomi hingga berhasil meraih prestasi gemilang di kancah nasional.
Seperti yang dilakukan oleh Kamila Regina Putri, santri yang duduk di kelas X B MA Unggulan Nuris tersebut, tak hanya berhasil mengkhatamkan 10 kitab kuning seperti Jurumiyah, Imrithy, Tarbiyatus Shibyan, Hujjah NU dll., ia juga jago berorasi hingga berhasil meraih juara 3 pidato bahasa Indonesia tingkat internah Yayasan Nurul Islam Jember pada 2025 lalu.
Kali ini ia mempertajam kompetensi belajarnya hingga berhasil meraih medali perunggu olimpiade ekonomi ajang Olimpiade Sains dan Kesehatan Hari Pendidikan Nasional (OSPENAS) tahun 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh PUSKASNAS pada 03 Mei 2026 lalu. Putri dari bapak Abdul Rahim dan ibu Nonik Holifah ini menjadi salah satu dari 22 santri MA Unggulan Nuris yang sukses memborong medali ajang nasional bergengsi tersebut.
(baca juga: Medali Emas Olimpiade Nahwu Sharraf Santri Pedia 2026, Prestasi Nasional Kebanggaan Santri MA Unggulan Nuris)
“Alhamdulillah jujur saja ikut lomba itu bukan hanya ego pribadi, tetapi ingin mengharumkan almamater MA Unggulan Nuris dan tentunya kedua orang tua saya. Meski mata pelajara ekonomi bukan mata pelajaran yang banyak saya pelajari, saya coba-coba saja ternyata loh kok tetap bisa dapat medali. Semoga barokah dan menjadi penyemangat saya belajar ke depannya.” Tukas Kamila, sapaan akrabnya.
Prestasi nasional ini bukan kali pertama sebab santriwati cerdas asal Candijati, Arjasa, Jember ini pernah meraih medali emas olimpiade matematka OSSN, medali perak olimpiade IPA, dan medali perunggu olimpiade matematika OSN. Selagi masih kelas X, ia berupaya memperkaya diri dengan berbagai kompetisi untuk meningkatkan kompetensi akademik.
Kemampuan berprestasi yang diraih oleh remaja kelahiran Mei 2010 ini ternyata didukung oleh hobinya yang positif yakni, membaca. Di pesantren dengan banyak kegiatan dan terkadang merasa jenuh, baginya membaca menjadi salah satu cara mengusir jenuh dan kebodohan. Buku yang dibacanya juga beraga mulai topik umum, sastra, bahkan soal keagamaan.
Hingga detik ini, Kamila bercita-cita menjadi seorang dosen. Meski cita-cita cukup berat dengan persaingan seleksi yang tak mudah, tetapi baginya impian besar justru akan semakin memacu semangat belajar dan terus berupaya meningkatkan kualitas diri.[AF.Red]
