Di Tengah Padatnya Aktivitas, Siswi XII Agama 1 Ini Berhasil Khatam 16 Kitab
Pesantren Nuris — Keberhasilan menuntaskan pembelajaran kitab kuning bukanlah sebuah pencapaian yang dapat diraih dalam waktu singkat. Dibutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, ketekunan, dan semangat yang terus dijaga agar mampu melewati setiap tahapan pembelajaran. Hal tersebut dibuktikan oleh Hafidhotun Nawafilil Ghina, siswi kelas XII Agama 1 MA Unggulan Nuris Jember yang berhasil menyelesaikan khataman sebanyak 16 kitab selama menempuh pendidikan di madrasah sekaligus pesantren.
Siswi yang akrab disapa Ghina ini berasal dari Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Sejak kecil, ia memiliki kegemaran membaca. Hobi tersebut tidak hanya menjadi sarana mengisi waktu luang, tetapi juga membentuk kebiasaan untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap berbagai bidang ilmu. Kecintaannya terhadap dunia literasi pula yang kemudian mengantarkannya memiliki cita-cita menjadi seorang dosen.
Menurut Ghina, menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan kesempatan untuk terus belajar sekaligus berbagi ilmu kepada banyak orang. Ia ingin suatu saat dapat berkontribusi dalam dunia pendidikan dengan menjadi pendidik yang mampu menginspirasi mahasiswa, sebagaimana guru-guru yang selama ini telah membimbingnya.
Selama menjadi bagian dari keluarga besar MA Unggulan Nuris Jember, Ghina tidak hanya mengikuti pembelajaran formal di kelas, tetapi juga menjalani pendidikan kepesantrenan yang menjadi identitas utama Nuris. Salah satu program unggulan yang harus ditempuh para santri adalah khataman kitab kuning. Program ini bertujuan membekali santri dengan pemahaman dasar hingga lanjutan terhadap berbagai disiplin ilmu keislaman melalui kitab-kitab klasik yang menjadi rujukan para ulama.
(Baca juga : Hasna Nur Afiyah Sukses Khatam 16 Kitab di MA Unggulan Nuris Jember, Tunjukkan Konsistensi Belajar)
Melalui proses belajar yang panjang, Ghina akhirnya berhasil menuntaskan 16 kitab, yaitu Hidayatus Shibyan, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Aqidatul Awam, Hujjah NU, Jauharotut Tauhid, Taqrib, Fathul Qorib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah 1002 Bait, Amtsilah Tasrifiyah, Kailani, Maksud, dan Fiqih Tradisionalis. Masing-masing kitab memiliki karakteristik, metode pembelajaran, dan tingkat kesulitan yang berbeda sehingga membutuhkan konsistensi dalam mempelajarinya.
Meski berhasil mencapai target tersebut, perjalanan Ghina tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku tantangan terbesar yang dihadapinya bukan berasal dari materi kitab yang dipelajari, melainkan kemampuan mengatur waktu. Sebagai seorang siswi yang memiliki berbagai aktivitas, ia sering kali harus membagi waktu antara kegiatan akademik, pembelajaran pesantren, tugas sekolah, serta aktivitas lainnya.
Padatnya jadwal membuat proses menghafal dan memahami isi kitab terkadang tidak dapat dilakukan secara maksimal. Ada kalanya ia merasa waktu yang dimiliki begitu terbatas sehingga harus benar-benar pandai menentukan prioritas. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Justru dari tantangan itulah ia belajar mengenai pentingnya disiplin, konsistensi, dan tanggung jawab terhadap setiap amanah yang dijalani.
Di balik perjuangan tersebut, Ghina memiliki motivasi yang sangat sederhana namun begitu kuat, yaitu ingin membanggakan kedua orang tuanya. Baginya, setiap usaha yang dilakukan selama belajar merupakan bentuk ikhtiar untuk membalas pengorbanan dan doa yang selalu diberikan oleh keluarga.
Tidak hanya dukungan dari orang tua, semangat dari para guru pengajar juga menjadi kekuatan tersendiri baginya. Bimbingan yang penuh kesabaran, arahan yang terus diberikan, serta motivasi yang tidak pernah berhenti membuatnya semakin yakin untuk menyelesaikan seluruh tahapan pembelajaran kitab.
Selain keluarga dan guru, teman-teman seperjuangan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Ghina. Kebersamaan selama belajar, saling mengingatkan ketika mulai kehilangan semangat, hingga saling membantu memahami materi kitab menjadi kenangan yang tidak akan mudah dilupakan. Lingkungan yang saling mendukung tersebut membuat proses belajar terasa lebih ringan meskipun tantangan yang dihadapi tidak sedikit.
Tidak hanya aktif dalam program kepesantrenan, Ghina juga menunjukkan prestasi di bidang akademik. Selama belajar di MA Unggulan Nuris Jember, ia berhasil meraih Juara II Olimpiade Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh MA Unggulan Nuris. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran agama yang intensif tidak menghalangi santri untuk berprestasi dalam bidang akademik.
Kemampuannya di bidang Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa budaya literasi yang ia bangun melalui hobi membaca memberikan dampak positif terhadap kemampuan berpikir, memahami teks, serta mengolah bahasa dengan baik. Prestasi tersebut semakin melengkapi perjalanan belajarnya selama menjadi santri di MA Unggulan Nuris.
Bagi Ghina, momen khatam kitab merupakan salah satu pencapaian yang paling berkesan selama menempuh pendidikan. Rasa syukur yang mendalam ia rasakan ketika akhirnya mampu menyelesaikan seluruh tahapan pembelajaran yang selama ini dijalani dengan penuh kesabaran.
Ia menyadari bahwa khatam kitab bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu. Sebaliknya, keberhasilan tersebut justru menjadi awal untuk terus memperdalam pemahaman terhadap ilmu-ilmu yang telah dipelajari dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pesan dan kesannya, Ghina mengungkapkan rasa syukur karena telah diberikan kesempatan belajar di MA Unggulan Nuris Jember. Menurutnya, madrasah dan pesantren ini telah memberikan begitu banyak ilmu, baik ilmu akademik maupun ilmu agama, yang menjadi bekal berharga untuk menghadapi masa depan.
Ia juga mengaku memiliki banyak kenangan indah bersama teman-teman selama menjalani kehidupan sebagai santri. Kebersamaan yang terjalin selama bertahun-tahun menjadi salah satu pengalaman paling berharga yang akan selalu dikenang.
Ghina berharap MA Unggulan Nuris Jember dapat terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang semakin maju, baik dalam bidang pendidikan formal maupun kepesantrenan. Ia ingin semakin banyak generasi muda yang memperoleh kesempatan belajar di lingkungan yang mampu membentuk karakter, memperkuat akhlak, sekaligus meningkatkan kualitas akademik seperti yang telah ia rasakan.
Untuk masa depannya sendiri, Ghina memiliki harapan yang begitu mulia. Ia ingin menjadi pribadi yang sukses, tidak hanya dalam urusan dunia, tetapi juga akhirat. Ia berharap dapat membanggakan kedua orang tuanya, menjadi pribadi yang memberikan manfaat bagi sesama, serta mampu menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama belajar di pesantren.
Baginya, keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari prestasi yang diraih, tetapi juga dari kemampuan seseorang dalam menjaga ilmu agar tetap hidup melalui pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang ia pelajari dari kitab-kitab klasik diharapkan menjadi pedoman dalam setiap langkah yang akan ditempuh di masa depan.
Hafidhotun Nawafilil Ghina menjadi bukti bahwa setiap pencapaian besar selalu lahir dari proses panjang yang penuh perjuangan. Kesulitan mengatur waktu, padatnya aktivitas, hingga tuntutan untuk tetap berprestasi tidak menghalangi langkahnya untuk terus belajar dan berkembang.
Semangat membanggakan orang tua, dukungan dari guru dan sahabat, serta tekad untuk terus menuntut ilmu menjadi kekuatan yang mengantarkannya berhasil menuntaskan 16 kitab di MA Unggulan Nuris Jember. Perjalanan Ghina diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi santri lainnya bahwa tidak ada usaha yang sia-sia ketika dijalani dengan niat yang baik, kerja keras, dan doa yang terus menyertai setiap langkah. [LA.Red]
Nama : Hafidhotun Nawafilil Ghina
Hobi : Membaca
Cita2 : Dosen
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember
Kelas Formal : XII Agama 1
Prestasi : Khatam 16 kitab (Hidayatus Shibyan, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Aqidatul Awam, Hujjah NU, Jauharotut Tauhid, Taqrib, Fathul Qorib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah 1002 Bait, Amtsilah Tasrifiyah, Kailani, Maksud, dan Fiqih Tradisionalis)
