Persiapan Cuma Dua Hari! Ze Bawa Pulang Medali untuk MI Unggulan Nuris Jember!

Raih Nilai 96 di Olimpiade Bahasa Inggris, Kisah Percaya Dirinya Patut Ditiru

Pesantren Nuris – Hujan prestasi tampaknya masih sangat betah mengguyur halaman madrasah kita. Seakan tak mau kalah dengan semangat teman-teman sejawatnya yang telah lebih dulu menyumbang piala, kini giliran srikandi cilik lainnya yang berani unjuk gigi. Semangat pantang menyerah anak-anak MI Unggulan Nuris Jember dalam mengukir karya benar-benar menjadi candu yang membanggakan.

Kabar gembira kali ini dibawa pulang oleh seorang siswi berwajah manis yang senyumnya tak pernah lepas. Gadis kecil yang berhasil mencuri perhatian ini bernama lengkap Aisyah Azalea Shakila Hakim. Di tengah kesehariannya yang ceria saat belajar dan bermain bersama teman-teman, ia memiliki nama panggilan kesayangan yang unik dan akrab di telinga, yakni Ze.

Meski usianya masih sangat belia, nyali Ze sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada perhelatan bergengsi Bhayangkara Student Competition Tingkat Se-Tapal Kuda yang digelar pada tanggal 20 hingga 21 Juni 2026 lalu, ia dengan gagah berani maju menantang kemampuannya. Ajang yang digagas oleh Yayasan Mitra Prestasi Indonesia dengan rekomendasi langsung dari Kapolres Jember ini sukses menjadi saksi bisu atas kecerdasannya.

Di tengah ketatnya persaingan dengan peserta-peserta tangguh dari berbagai daerah, Ze mantap memilih turun gelanggang di cabang Lomba Olimpiade Bahasa Inggris Level 1. Hasil keberaniannya pun sama sekali tidak mengecewakan. Gadis tangguh ini sukses memboyong Medali Perunggu ke madrasah dengan torehan angka yang nyaris sempurna, yaitu 96!

(Baca juga : Raih Nilai Seratus! Aksa dari Kelas 2A Ini Berhasil Bawa Nama Baik MI Unggulan Nuris Jember Rajai Olimpiade Bahasa Inggris!)

Saat diajak bercerita mengenai perasaannya bisa berdiri di barisan para pemenang, mata Ze langsung berbinar-binar penuh dengan kebahagiaan. Tanpa basa-basi, ia mengaku perasaannya sangat campur aduk oleh rasa syukur. “Sangat senang sekali karena bisa membanggakan madrasah dan juga orang tua,” cerita Ze dengan polos namun terdengar sangat tulus dari lubuk hatinya.

Namun, siapa sangka, di balik medali perunggu dan nilai 96 yang ia genggam, terselip sebuah kisah perjuangan yang bikin geleng-geleng kepala. Ze mengaku bahwa niatnya untuk ikut berkompetisi baru membara sejak pertama kali ia melihat poster lomba tersebut. Yang paling mengejutkan, waktu efektif yang ia gunakan untuk benar-benar fokus berlatih sebelum hari perlombaan ternyata hanyalah dua hari saja.

Tentu saja, waktu dua hari yang sangat mepet itu dimanfaatkan Ze dengan sebaik mungkin. Agar tidak tertinggal pelajaran di kelas namun tetap siap tempur di medan olimpiade, ia memutar otak. Ze membagi waktunya dengan cara disiplin mengikuti jam tambahan belajar di madrasah. Tak hanya itu, saat berada di luar lingkungan madrasah pun, ia terus mengasah lidahnya dengan mempraktikkan langsung berbicara menggunakan bahasa Inggris.

Dalam perjalanan singkat namun sangat padat itu, Ze tentu tidak berjalan sendirian menanggung beban. Ada sosok malaikat tak bersayap yang selalu setia mendampingi dan memberikan suntikan semangat terbesarnya di rumah. Ketika ditanya siapa orang yang paling banyak membantu dan mendukungnya selama masa persiapan, bibir mungilnya langsung menyebut satu kata yang sarat akan makna cinta, “Mama.” Kasih sayang dan ketelatenan sang ibunda rupanya menjadi bahan bakar utama bagi Ze untuk melangkah maju.

Ujian sesungguhnya pun datang ketika Ze harus duduk manis di kursi perlombaan dan menghadapi lembaran soal-soal bahasa Inggris. Gadis kecil ini tak menampik bahwa ia juga sempat merasa kesulitan. Menurutnya, tantangan terbesar dari mengikuti olimpiade ini adalah keharusannya untuk belajar dan mengingat ulang materi dalam kepalanya. Bahkan, ia membocorkan sedikit rahasia bahwa ada satu soal yang lumayan bikin ia harus berpikir ekstra keras, yakni materi isian pada nomor dua.

Meski sempat dibuat pusing pada bagian isian nomor dua, Ze tidak lantas menyerah dan putus asa. Ia mengandalkan ketenangannya sebagai sebuah strategi. Ia mencoba rileks, mengingat kembali semua hal yang sudah dipelajarinya dalam dua hari terakhir, lalu menggunakan seluruh memori itu saat berlomba. Baginya, kunci utama untuk bisa menembus batas keraguan dan meraih keberhasilan di atas panggung olimpiade ini hanyalah satu, yaitu percaya diri.

Kemenangan ini ternyata tidak hanya memberinya sebuah medali yang cantik, tetapi juga manfaat akademik yang sangat berarti. Ze kini merasa dirinya jauh lebih paham dan akrab dengan kosakata bahasa Inggris. Pengalaman seru dan menegangkan ini pun rupanya sukses membuat mental juaranya ketagihan. Ke depannya, Ze tidak menutup kemungkinan untuk kembali terjun mengikuti kompetisi-kompetisi serupa demi mewujudkan satu harapan terbesarnya, yakni keluar menjadi juara satu.

Sebelum menutup kisah manisnya, siswi pemberani ini menitipkan sepenggal pesan yang sangat menginspirasi, khususnya untuk teman-teman di MI Unggulan Nuris Jember yang mungkin masih ragu untuk ikut berlomba. “Tetap berusaha dan percaya diri,” pesannya dengan suara yang mantap. Sebuah wejangan sederhana namun sangat pas untuk mengingatkan kita semua bahwa dengan keyakinan yang kuat, kemustahilan pun bisa disulap menjadi sebuah kebanggaan.

Sekali lagi, selamat untuk Ze atas prestasinya yang memukau! Teruslah kepakkan sayapmu, jangan pernah lelah untuk mencoba hal baru, asah terus keberanianmu, dan biarkan madrasah ini selalu menjadi saksi bisu untuk setiap karya hebatmu di masa depan. Barakallah fiik, Nak. [FE.Red]

 

Nama      : Aisyah Azalea Shakila Hakim 

Kelas       : 2D

Lembaga : MI Unggulan Nuris Jember

Prestasi  : Medali Emas Lomba Olimpiade Bahasa Inggris Level 1

Tingkat   : Se Tapal Kuda

Ajang      : Bhayangkara Student Competition

Tanggal  : 20 – 21 Juni 2026

Related Post