Menjawab Tantangan di Era Kecerdasan Buatan
Pesantren Nuris – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa banyak perubahan dalam kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan pesantren. Di satu sisi, AI menawarkan kemudahan dalam mencari dan mengolah informasi. Namun di sisi lain, teknologi tersebut menghadirkan pertanyaan penting: sejauh mana AI dapat digunakan dalam mempelajari khazanah keilmuan Islam, khususnya kitab kuning?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam seminar yang digelar pada 4 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Achmad Faisol, M.Pd.I. dan K.H. Moch. Sukri Rifa’i sebagai pemateri. Forum tersebut menjadi ruang untuk membedah gagasan sekaligus memperkaya perspektif sebelum Majalah Nuris memasuki tahap pencetakan.
Bukan sekadar seminar, kegiatan ini dirancang oleh Majalah Nuris sebagai forum kajian yang dapat menjadi sumber data primer bagi tim penyusun majalah. Melalui diskusi bersama para pemateri, peserta diajak memperdalam tema yang akan diangkat sehingga isi majalah tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga memiliki landasan pemikiran yang kuat. Kegiatan seminar ini mengusung tema yang menarik sekaligus penting bagi para santri, yaitu mengintegrasikan AI, kitab kuning, dan tradisi pesantren.
Pembahasan kemudian mengerucut pada hubungan antara AI dan tradisi pembelajaran kitab kuning. Salah satu gagasan penting yang mengemuka adalah bahwa AI tidak dapat berjalan beriringan dengan proses belajar kitab kuning dalam posisi menggantikan peran ustaz atau ustazah. Teknologi dapat membantu menyediakan informasi, tetapi proses memahami kandungan kitab tetap membutuhkan bimbingan guru.
(Baca juga: Perluas Wawasan Global, Pondok Pesantren Nuris Jember Gelar Technical Meeting Nuris Student Exchange Program (NSEP))
Antusiasme peserta terlihat sepanjang seminar. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga mendapatkan perspektif baru mengenai bagaimana teknologi seharusnya ditempatkan dalam kehidupan pesantren. Pertemuan antara kemajuan teknologi dan tradisi keilmuan pesantren justru membuka ruang berpikir yang lebih luas.
AI, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mencari informasi, mengembangkan ide, atau memperoleh gambaran awal mengenai suatu persoalan. Namun, kecanggihan teknologi tetap bergantung pada penggunanya. AI akan cerdas apabila orang yang menggunakannya juga cerdas dalam menentukan pertanyaan, memeriksa jawaban, serta memahami batas-batas penggunaannya.
Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. AI dinilai belum mampu memaknai kitab kuning secara utuh dan mendalam sebagaimana proses pembelajaran yang dilakukan secara langsung bersama guru. Dalam tradisi pesantren, pemahaman terhadap kitab tidak berhenti pada penerjemahan teks, tetapi juga mencakup penjelasan konteks, kedalaman makna, adab, serta kesinambungan sanad keilmuan.
Karena itu, metode seperti talaqqi, sorogan, dan bandongan tetap memiliki posisi penting. Ketiganya tidak sekadar menjadi metode belajar, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi keilmuan yang membutuhkan ketekunan dan istiqamah.
“Kami menyadari, kami tidak bisa menutup mata dari kemajuan teknologi. Menolak AI sama saja dengan menolak masa depan. Namun, menerima AI tanpa filter keilmuan juga sama berbahayanya. Kita bisa kehilangan sanad, kehilangan adab, dan kehilangan keberkahan,” ujar Ustazah Ivada.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan penting dari seminar. Teknologi tidak harus dijauhi, tetapi perlu digunakan secara bijaksana. Sementara itu, tradisi pesantren tidak cukup hanya dipertahankan sebagai warisan, melainkan perlu terus dipahami dan diamalkan di tengah perubahan zaman.
Melalui forum ini, Majalah Nuris diharapkan mampu menghadirkan pembahasan yang lebih tajam mengenai AI dan pesantren. Pada akhirnya, kemajuan teknologi dan tradisi keilmuan dapat ditempatkan secara proporsional: AI sebagai alat bantu, sedangkan guru tetap menjadi pembimbing utama dalam perjalanan mencari ilmu. (MFAF.Red)
