MA Unggulan Nuris: 12 Kitab Tuntas, Perjuangan Orang Tua Jadi Bahan Bakar Semangat Aliya

Capek Boleh, Menyerah Jangan! Kisah Aliya Khatam 12 Kitab di Nuris

Pesantren Nuris — “Kalau capek, jangan berhenti, tetapi istirahat tetap semangat.” Pesan sederhana ini menjadi pengingat bahwa perjalanan meraih tujuan tidak selalu harus ditempuh tanpa jeda. Bagi Anzili Rohma Alaiya, siswi kelas XII E MA Unggulan Nuris Jember yang akrab disapa Aliya, semangat untuk terus belajar tumbuh dari satu hal yang sangat berarti: perjuangan orang tua di rumah.

Berasal dari Lingkungan Krajan, Antirogo, Jember, Aliya telah menuntaskan pembelajaran 12 kitab selama menempuh pendidikan di Pesantren Nurul Islam Jember. Kitab-kitab tersebut meliputi Hidayatus Shibyan, Aqidatul Awam, Hujjah NU, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Taqrib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Amtsilah Tasrifiyah, Kailani, dan Fiqih Tradisionalis.

Menuntaskan belasan kitab bukanlah proses yang selalu mudah. Aliya mengakui bahwa menghafal dan melakukan murajaah atau mengulang kembali hafalan menjadi tantangan tersendiri. Keduanya membutuhkan usaha yang berkelanjutan agar materi yang telah dipelajari tetap melekat dalam ingatan.

Di tengah tantangan itu, Aliya memiliki alasan kuat untuk terus melangkah. Ia selalu berusaha mengingat orang tuanya yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga. Perjuangan mereka menjadi sumber motivasi yang membuatnya ingin memanfaatkan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya.

(Baca juga: Tekad, Disiplin, dan Semangat Juang Bikin Alumni MA Unggulan Nuris Sukses Jadi ASN Usai Tamat Kuliah)

Bagi Aliya, proses menuntut ilmu bukan hanya tentang menyelesaikan pelajaran atau menambah jumlah kitab yang dikuasai. Ada harapan yang ingin ia wujudkan melalui usaha tersebut, yakni menjadi pribadi yang lebih baik dan sukses di masa depan. Meski cita-citanya masih dirumuskan secara luas sebagai orang sukses, ia memiliki tekad untuk terus berusaha meraih kehidupan yang lebih baik.

Perjalanan Aliya di lingkungan pesantren juga diwarnai prestasi. Ia pernah meraih juara I fashal terbanyak pada kategori Ula Dal Tim dan juara II fashal terbanyak pada kategori yang sama. Pencapaian tersebut menjadi bagian dari pengalamannya selama mengikuti kegiatan pembelajaran di pesantren.

Di luar kegiatan belajar, Aliya memiliki hobi membaca dan menulis. Kedua kegiatan ini memberinya ruang untuk menikmati bacaan sekaligus menuangkan gagasan melalui tulisan. Kegemarannya tersebut menjadi sisi lain dari kesehariannya sebagai santri yang menjalani berbagai aktivitas pendidikan.

Aliya membawa pesan yang sederhana tetapi dekat dengan kehidupan banyak orang. Ketika merasa lelah, seseorang tidak harus langsung menyerah. Beristirahat boleh dilakukan, tetapi semangat untuk melanjutkan perjuangan tetap perlu dijaga.

Pesan itu sejalan dengan perjalanan belajarnya dalam menuntaskan 12 kitab. Ada tantangan menghafal, kebutuhan untuk terus murajaah, dan berbagai proses yang harus dijalani hingga mencapai tujuan. Baginya, berhenti sejenak untuk memulihkan tenaga bukan berarti mengakhiri perjuangan.

Aliya juga menyampaikan harapan agar Pesantren Nurul Islam Jember semakin sukses pada masa mendatang. Ia berharap lembaga yang menjadi tempatnya menuntut ilmu tersebut terus berkembang dan memberikan manfaat bagi para santri.

Dengan bekal pembelajaran 12 kitab, pengalaman meraih prestasi, serta dukungan dan perjuangan orang tua yang selalu diingatnya, Aliya melangkah menuju masa depan dengan harapan besar. Ia ingin terus memperbaiki diri, menjaga semangat belajar, dan membuktikan bahwa usaha yang dijalani hari ini dapat menjadi bekal untuk meraih kesuksesan kelak. [LA.Red]

Nama                  : Anzili Rohma Alaiya

Hobi                    : Membaca dan Menulis

Cita2                   : Orang sukses

Lembaga            : MA Unggulan Nuris Jember

Kelas Formal     : XII E

Prestasi               : Khatam 12 kitab (Hidayatus Shibyan, Aqidatul Awam, Hujjah NU, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Taqrib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Amtsilah Tasrifiyah, Kailani, dan Fiqih Tradisionalis)

Related Post