Kadung Dadi Gandrung Wis

*Penulis: Ayu Novita Sari

*Penulis adalah salah satu siswa SMA Nuris kelas XI IPS 1. Dia pernah menjuarai lomba menulis cerpen tingkat Jawa Timur.

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno

Ojo tangi nggonmu guling

Awas  jo ngetoro

Aku lagi bang wingo – wingo

Jin setan kang tak utusi

Jin setan kang tak utusi

Dadyo sebarang

Wojo lelayu sebet

 

Menjelang malam, dirimu ( Bayanganmu ) mulai sirna

Jangan terbangun dari tidurmu

Awas, jangan terlihat ( memperlihatkan diri )

Aku sedang gelisah,

Jin setan ku perintahkan

Jadilah apapun juga,

Namun jangan membawa maut

 

Eloknya sore kala itu tak ubahnya hanyalah sebuah pandangan terhadap matahari sore. Matahari perlahan mulai menenggelamkan tubuhnya. Angin malam mulai menyapa di kegelapan. Akhirnya bisa merasakan suasana malam di kota Kalibaru.

Di tengah malam tiba – tiba aku terjaga dari tidurku, lalu ku seret pandanganku ke arah pintu kamarku pintuitu terbuka pelan – pelan. Suasana samar – samar karena lampu kamar, ku matikan sebelum tidur. Tiba – tiba terdengar suara aneh, seperti lagu – lagu jawa. Mungkin …! . Aku berfikir sejenak kemungkinan didekat hotel sini terdapat sanggar. Tapi anehnya tengah malam seperti ini kok masih ada yang latihan ?.

Sontak saja aku merasa ketakutan. Tubuhku terasa tidak bisa digerakkan seperti tertindih sesuatu aku terus memperhatikan pintu itu. Tiba – tiba–seperti ada seorang yang memperhatikanku. Ia memandangiku sosok itu semakin dekat, semakin dekat, dan sangat dekat. Akhirnya berada di samping kanan tubuhku. Ia berdiri menatapku dengan sinis. Aku masih dalam posisi terlentang tidur di atas kasur hotel. Sosok itu seperti mengajak berbicara, tetapi aku tidar menger karena ia bergumam menggunakan bahasa jawa.

Ia seperti mengatakan sesuatu. Tetapi aku tak mengerti. Tangannya, menyentuh kepalaku. Aku ingin berteriak tetapi tidak bisa. Suaraku seperti terbentengi tembok semen. Kokoh.

Aku berusaha menyadarkan diriku. Ini hanya halusinasi, ini hanya halusinasi. Tidak … . Aku berusaha bangkit, dari keterbaringanku.  Tetapi nihil, tidak bisa. Tubuhku  semakin menjajah dan akhirnya berhasi bangun. Aku langsung berlari, tak peduli apa yang berada didepanku. Langkahku tak sempurna sampai – sampai aku terjatuh.  Alhamdulillah, lampu berhasil aku hidupkan.

Ku pandangi seluruh sudut di seantero kamarku. NIHIL. Keringatku bercucuran deras, bercampur dengan rasa takut sehingga menjadi lengket di tubuhku. Nafasku tersenggal – senggal. Pergi kemana sosok itu?.

 

***

 

Hawa sejuk di desa Kalibaru, Banyuwangi membuatku bernafas bersih. Apa lagi menu sarapan pagi ini membuat perutku menjadi perut karet yang tidak ada kenyangnya. Walaupun sudah diberi makan sebanyak ini.

Mobil travel yang mengantarku ke Rogojampi sudah siap. Matahari pagi seperti memberi semangat untuk penjelajahanku kali ini. Matahari yang indah bagi seorang anak kota sepertiku.

“ Rina ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu. Tapi sepertinya kamu tidak akan percayabila ku ceritakan ke kamu. Hal ini akan menjawab semua kecurigaan kita terhadap hal – hal yang …“ Belum selesai ngomong , Rina langsung memotong penjelasanku.

”  Maksudmu?.” Tanyanya penasaran.

“ Mungkin, aku kehabisan kata – kata untuk menceritakan  hal ini. Tadi malam aku mengalami hal yang aneh.”

“ Tadi malam aku terjaga dalam tidurku. Entah apa yang membuatku terbangun dan ada sosok seorang perempuan itu siapa. Sosok itu mengenakan pakaian Gandrung Banyuwangi dan bergumam dengan menggunakan bahasa jawa. Bahkan menyanyikan lagu – lagu jawa Banyuwangi.” Jelasku panjang kali lebar.

“ Dasar miss halu itu karena kamu sering baca cerita horor di wattpad, gadget mu itu. jadinya di otakmu itu hanya halusinasi isinya.” Ceramahnya.

“Ini nyata, Rin.”

“ Ah udahlah gak usah bahas kayak gituan.”

Menjelang tengah hari kami tiba di Kecamatan Rogojampi menuju Desa Blimbingsari. Patung penari gandrung yang berdiri kokoh terlihat di sepanjang perjalanan . Pengaruh Kerajaan Blambangan masih sangat … sangat … dilestarikan. Bahasa asli kota Bayuwangi ( Bahasa Using ) terdengar jelas di telinga di setiap tempat. Ini suatu hal yang unik bagiku. Apalagi ini kali pertamanya aku wisata daerah ke tempat yang terkenal akan tempat wisata surga dunianya dan terkenal julukan kota gandrungnya.

Pepohonan menunjukkan aura hijau, tubuhnya yang dapat menarik nafsu para pariwisata.

***

Malam ini angin malam yang dingin berhembus kencang menggoyangkan kain garden putih tulang di jendela villa milik Laksmi ( Saudara Rina ).Purnama menghiasi langit malam di Desa Blimbingsari. Rasa lesu yang menerpa selama perjalanan tiba – tiba hilang terbawa angin malam. Dalam keheningan terdengar suara kendang, rebana, dan gamelan gong jawa di belakang villa. Seiring dengan pancaran cahaya sang rembulan, aku mencoba mencari sumber alunan gamelan itu. Bulu kudukku berdiri.

Ku seret kakiku melangkah pelan – pelan menyisir lorong yang gelap, tetapi sedikit bercahaya akibat cahaya bulan purnama. Suara itu semakin jelas terdengar di telingaku. Ternyata suara itu bersumber di salah satu kamar di villa ini. Ku raih ganggang pintu kamar itu. Tetapi. Srett … , Laksmi?. Apa yang ia lakukan disini?.

“ Sedang apa kamu disini?” Introgasinya khas medok bahasa using.

“ Anu … apa itu … hmm. Aku nyarik kamar mandi tetapi gak ketemu – ketemu” Jawabku gugup gelagapan.

“ Bukannya di dekat kamarmu sudah ada kamar mandi”

“ Oh … maaf saya lupa”

Aku hampir tak percaya dengan semua ini. Aroma mistik menebar sempurna di pikiranku. Aku tertegun melihat pandangan ini. Ah, sudahlah aku kembali saja ke kamarku.

***

“ Rin, Bi Laksmi tinggal sendiri disini.” Tanyaku penasaran.

“ Ngak, dia punya anak cewek, Winda namanya.”

“Kok gak disini?.”

“ Ya, dia ada di rumahnya lah. Tapi kata Bi Laksmi dia juga mau tinggal disini, selama kita nginap.”

Aku hanya mengangguk mengiakan. Sebenarnya sih terbesit dalam pikiranku untuk menceritakan kejadian semalam , tapi pasti kalau aku cerita ke Rina , dia pasti mengataiku miss halu lagi. Udah lah biar ku simpan sendiri kejadian ini.

Terdengar suara Bi Laksmi memanggil aku dan Rina untuk sarapan pagi. Sontak saja aku segera bergegas. Ternyata kejadian semalam bukan cuma menguras pikiran tetapi juga tenaga.

Ternyata di meja makan sudah ada seorang wanita kira – kira umurnya sepertiku. Apa dia yang bernama Winda?.

“ Ayo sarapan dulu. Baeru selesai sarapan kalian akan di ajak Winda keliling desa.” Pinta Bi Laksmi .

Aku dan Rina hanya mengangguk. Disela – sela makan Bi Laksmi memperkenalkanku dan Rina kepada anaknya Winda, dan sebaliknya.

***

Merdunya nyayian burung mengubah suasana hatiku. Tenang, tentram, dan nyaman. Indahnya Kota Banyuwangi tidak dapat diragukan lagi. Aku pun kehabisan kata – kata untuk mengungkapkan perasaan ini. Embun sejuk seperti mengantarkan kita bertiga mengelilingi setiap sudut desa ini.

Di tengah perjalanan kita bertemu seorang laki – laki yang ternyata teman Winda. Lelaki itu sangat tampan. Bulu mata lentiknya, membuatku tidak ingin mengalihkan pandanganku. Senyumannya sangat manis. Inikah yang dikatakan  cinta pandngan pertama.

Tetapi, rasanya ia sangat dekat dengan Winda jangan! Jangan!.

“ Lelaki itu siapa Win.” Tanya Rina. Sepertinya Rina juga tertarik ke cowok itu. Aduh kalah cepat.

“ Oh niku, ehh … . Itu hmm. Itu namanya Kidung.”

“ Pacarmu?.’ Introgasiku mencoba memastikan.

Winda hanya menggelengkan kepala dan senyum – senyum gak jelas. Winda mengalihkan suasana sehingga aku dan Rina terhipnotis. Kita pun melanjutkan perjalanan. Winda menjelaskan segala sesuatuyang kami lihat. Ternyata banyak hal yang belum aku ketahui. Disini masih banyak yang memberlakukan ‘ SANTET’. Oh .. “ TIDAK”.

***

Menjelang malam matahari mulai sirna. Senyap, aku tidak bisa tidur. Aku tergoda bayangan lelaki itu ( Kidung ) di dalam hatiku. Pemulaannya hanya sekedar tatapan biasa. Kemudian, menderita sakit cinta ( jatuh cinta ). Aku harus mengeluh kepada siapa?. Aku sedang gelisah.

“ Sekar!.” Suara itu membuyarkan lamunanku. Seperti tidak asing didengar. Benar saja. Itu suara Rina. Ku lihat jam dinding bergambarkan penari gandrung. Waktu menunjukkan jam 8 malam. Ada keperluan apa sih malam – malam teriak – teriak. Gumamku dalam hati.

Tiba – tiba Rina mendobrak pintu kamarku. Sontak saja aku kaget dengan tingkah laku orang yang satu ini.

“ Ayok, siap – siap kita diajak ke pementasan gandrung malam ini.” Sergah Rina, sambil menarik tanganku. “ Kamu tahu siapa penarinya , salah satunya adalah Winda.” Lanjutnya.

“Ini udah malam, apa lagi badanku pegal – pegal semua.”

“ Benar gak mau ikut, awas nyesel loh.’ Bujuknya.

Aku berfikir sejenak. Kalau aku sendirian di villa ini serem juga sih. Kalau aku ikut kemungkinan besar aku bisa ketemu sama Kidung.

“Ya, udahlah . Ayok berangkat.”

***

Suasana pementasan, sudah meriah. Kulihat Winda duduk termenung di belakang pentas. Ada apa dengan anak itu?. ku tinggalkan Rina sendirian, asyik dengan pementaan itu.

“ Ada yang salah malam ini, Win?. Ka,u kayaknya gak begitu menikmati pementasan ini.” Ucapku.

“ Gak kok, biasa aja “

“ Kamu gak bisa bohong kalik, kelihatan dari air mukamu.”

“ Kamu gak usah sok tahu deh.”

“ Apa karena gak ada Kidung ya?” Ucapku mencoba  menggoda dan menghiburnya. Tetapi nihil dia malah pergi. Entah mungkin gilirannya mentas sekarang.

Aku merasa tidak enak dengan suasana di belakang panggung ini, seseorang sedari tadi memprhatikanku. Siapa dia?. yang pasti dia bukan Kidung.

***

 

“ Kamu tuh gak tahu kronologinya” Sentak Winda

“ Ya… kamu bisa cerita kan ke aku”

“ Banyak hal yang gak kamu tahu di dalam rumah ini’

“Maksud kamu?”

Belum selesai aku bertanya Winda langsung lari dan membanting ambang pintu. Aku tidak mengerti maksud anak itu. setelah pementasan malam itu ia langsung berubah 360 derajat.

Aku menceritakan perubahan suasana ini ke Rina. Seperti biasa dia tidak terlalu menanggapi hal-hal seperti ini. Aku putuskan menyimpan sendiri kegelisahan pikiranku ini.

Kebingungan, kegelisahan, apalagi ketakutan selalu hadir bahkan tidak pernah absen. Hal yang membuatku semakin bingung dengan suasana di villa ini. Aku tidak bisa membaca itu.

Kedatangan laki-laki, yang mungkin umurnya seumuran denganku, semakin membuatku bingung. Siapa dia?. sebentar. Sepertinya aku mengenalinya. Lelaki itukan yang berada di pementasan malam itu. Kenapa dekat banget ya sama Bi Laksmi. Terus, ada urusan apa dia kesini?. Sejuta pertanyaan bahkan beribu pertanyaanmengelilingi, kepalaku yang mulai pusing memikirkan semua ini.

Dengan mengintip melalui celah pintu, yang lebarnya kurang lebih 2 cm. Aku berfikir bisa mendengar dialig mereka. Tetapi. Nihil, tidak terdengar apa-apa. Kamarku terlalu jauh dari mereka. Tiba-tiba Winda menghampiri mereka, entah apa yang Winda katakan kepada Bi Laksmi dan lelaki itu. expresi Winda seperti marah didukung dengan gerakan tubuh dan ayunan tangannya.

 

 

Brakk… . Aduh, aku terjatuh. Mereka melihatku, aku tertangkap basah menguping dialog mereka. Sebenarnya sih tidak karena aku tidak mendengar apa-apa. Semoga saja, mereka tidak curiga.

Dengan glagapan aku lari, menuju laptopku. Ku pencet tuts laptop itu tidak jelas. Kenapa aku merasa kebingungan?. Seseorang mencoba membuka pintu kamarku. Pikiranku kacau apa itu Winda, Bi Laksmi, atau lelaki itu?. krekk…. .Ternyata eh ternyata, Rina. Ide dalam pikiranku untuk menceritakan semua kejadian ini, terbesit dalam otakku. Tapi, Rina tetap Rina dia gak akan percaya semua ini.

“Lo, kenapa Sekar?” Tanyanya

“Gak papa kok, Cuma agak pusing sedikit”

“Butuh obat?”

“Gak usah”

“Guemau ke pasar sama Bi Laksmi. Lo ikut”

“Kayaknya gak, aku mau istirahat aja di sini”

Rina tersenyum kecut, kayaknya dia kecewa aku tidak ikut dengannya.

***

Kulihat Bi Laksmi dan Rina sudah meninggalkan rumah. Terlihat jelas dari kaca jendela kamarku. Seseorang pun mencoba masuk ke dalam kamarku. Winda. Tubuhku terasa kaku, seperti dilaminating.

“ Kamu sudah tahu semuanya, Sekar” Suara Winda memecahkan ketegangan.

“ Maksudnya kamu apa?”

“ Kamu mendengar semua, percakapan kami tadi kan?”

“Percakapan apa?”

“Hallah, kamu ingin tahu semuanya?. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini”

“Percayalah, aku akan mendengarkan semua curhatanmu.”

Jlepp….

Aku mendengarkan pernyataan dari Winda. Lelaki itu, itu ternyata penaru gandrung yang bernama Marsan. Aku lebih kaget lagi setelah Winda, jujur kalau dirinya tidak suka seni tari. Pantas saja waktu pementasan malam itu, dia seperti tidak suka. Ia melakukan hal itu karena turun temurun dari leluhurnya. Tetapi ia tidak suka sama sekali yang namanya tari, apalagi menari tarian gandrung.

“ Yang kita bicarakan tadi itu, ya masalah ini”

Winda mencoba membangkang, kebudayaan leluhurnya. Sebenarnya Bi Laksmi tidak mengetahiu hal ini. Yang tahu hanyalah Marsan. Tetapi, sungguh tidak dapat dipercaya ia mengadukan hal ini ke Bi Laksmi.

Marsan ternyata lelaki yang menyukai Winda. Tetapi sayang Winda menyukai Kidung. Lelaki yang aku sukai. Winda menceritakan segala sesuatu yang ia alami selama menjadi penari gandrung. Karena setiap  menari ia selalu dirasuki oleh roh leluhurnya ( Semi).

Kebudayaan yang seperti itulah yang membuat Winda mencari tahu tentang kehidupan masa lalu leluhurnya yang kemugkinan besar, berpengaruh dalam kehidupannya sekarang. Dulu Winda dan Marsan sepasang sahabat yang saling melengkapi, saling mengerti satu sama lain, dan tempat untuk curhat suka maupun duka. Tetapi, semua itu hilang seketika ketika Winda tahu siapa Marsan yang sebenarnya.

Marsan ternyata bekerja sama dengan roh leluhur Winda yaitu Semi. Usut punya usut Semi menyuruh Marsan untuk memisahkan Winda dan Kidung. Hal itu dimanfaatkan  Marsan untuk meminta Semi untuk menyantet Winda agar memilih Marsan daripada Kidung. Tapi apa daya hal itu tidak dipenuhi oleh Semi, karena Marsan tidak pernah berhasil memisahkan mereka.

Winda tahu persis kenapa leluhurnya melakukan ini semua. Karena Semi ingin Winda meneruskan tradisi turun temurun ini. Sedangkan Kidung juga, membangkang tradisi turun temurun ini.

Kesalah pahaman pun terjadi. Semi menyangka kalau Kidung meracuni otak Winda sehingga Winda berfikir seperti Kidung. Menentang adad istiadat.

Bukan bermaksud menentang. Winda mempunyai pemikiran sendiri tentang masa depannya. Tanpa harus menjadi seorang penari gandrung.

Aku tertegun mendengar semua pernyataanya, aku gak menyangka kalau ada masalah sebesar ini di kehidupan Winda. Leluhur Semi hanya kamu kunci dari semua ini.

***

Malam sunyi aku memikirkan hal itu. pikiranku tak lepas dari Winda. Bagaimana akhir cerita ini?. Setiap malam Winda pergi ke kamarku. Dia merasa tidak tenang. Hari demi hari, bahkan setiap hari ia selalu didatangi leluhur Semi.

Malam ini hujan turun dengan derasnya diselimuti dengan kesunyian, hanya terdengar percikan air. Tetapi kesunyian terpecah ketika seseorang entah itu siapa berteriak, dan membuat villa terasa terguncang.

Sontak aku berlari keluar kamar, menuju asal suara itu. Di luar sana aku sudah melihat Rina kebingungan. Kontak mata pun terjadi. Rina dan aku pun langsung berlari. Tak diduga tak disangka ternyata suara itu berasal dari kamar Winda. Di sana di dalam kamar, Bi Laksmi terlihat kebingungan.

(Baca juga: Cerpen Ini Ada Karena Dihukum )

Winda meronta kesakitan. Ia kesurupan. Pikiranku langsung ke Luhur Semi. Mungkin Semi yang merasukinya. Rina dan aku terdiam gelagapan. Tidak bisa melakukan apa-apa. Selang beberapa waktu, kedatangan Marsan mengagetkanku. Siapa yang mengundangnya?. Ada urusan apa dia kesini?. Apa mungkin Bi Laksmi?. Soalnya aku melihatnya memencet tuts androidnya.

(Baca juga: Nyetan Ta’ Buta’an)

Marsan menatapku dengan kecut. Aku masih memerhatikan Winda yang meronta kesakitan. Marsan mendekatinya, apa yang inginia lakukan?. Drama apa lagi yang ia mainkan. Mungkin ini akal-akalannya untuk mendapatkan hati Bi Laksmi. Sebenarnya sih, dia tidak tahu apa-apa soal seperti ini.

Suasana mencengkam Rina menggenggam tanganku dengan eratnya. Tanganku sampai basah. Ya, Tuhan aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Perlahan-lahan sesosok makhluk berpakaian penari gandrung lengkap dengan omproknya keluar dari tubuh Winda. Rambut panjangnya berhias bunga aneka warna yang menebarkan aroma mistik. Aku dibuat terpengarah entah dengan Rina. Aroma pandan asap dupa tercium jelas. Dia menari dengan cepatnya.

Ia mendekatiku dan tiba-tiba menyanyikan tembang lingsir wengi, lagu menderita sakit cinta (jatuh cinta). Akun merasa kalau diriku berhalusinasi. Ku coba cubit tanganku, terasa sakit. Ini nyata.

“Hentikan Leluhur Semi, apa maksudmu dengan melakukan ini.” Teriakku

“Kamu rupanya bisa melihatku, wahai anak.” Teriaknya dengan suara melengking.

Dia berbalik badan, mendekati Winda. “Kadhung sira wis dadi gandrung yo wis ( sudah terlanjur jadi gandrung, ya sudah).” Ucapnya. Semua orang ketakutan, termasuk aku. Tetapi aku mencoba memberanikan diri.

“Apa sebenarnya yang Leluhur Semi inginkan?. Ini sudah jaman modern, terserah Winda memilih alur hidupnya sendiri. Tanpa harus terikat dengan adat dari leluhurnya.” Sambarku sembari mencoba mendekati Leluhur Semi yang berada di dekat Winda yang setengah sadar. Ku lihat di sana Bi Laksmi terdiam kaku, kebingungan.

“Bi Laksmi dengarkan aku baik-baik. Marsan adalah lelaki yang tak sebaik yang bibi kira. Dia bekerja sama dengan Leluhur Semi hanya, karena ingin mendapatkan cintanya Winda. Bukan karena keikhlasan untuk membantu Bi Laksmi.” Seketika tangan kiri Marsan memegang tanganku dan tangan kanannya menodongkan senjata keris. Tetapi, dengan cepat secepat kilat, seseorang menyambar tanganku dan Marsan terdorong jauh dari tubuhku. Kidung. Dia seperti superman yang langsung ada ketika dibutuhkan. Tahu darimana dia tentang kejadian ini ?.

Winda sadarkan diri. Tetapi Leluhur Semi langsung mencegahnya untuk mendekati ku ataupun Rina dan Bi Laksmi yang terjatuh pingsan.

Marsan menantang Kidung untuk berantem, saling mengalahkan. Winda berteriak histeris. Aku mencoba menenangkannya, tetapi aku tidak bisa meraihnya. Leluhur Semi mendorongku berkali-kali menggunakan selendangnya.

Kidung terluka. Aku menghadang Marsan supaya tidak menyakiti Kidung lagi. Ketika Marsan mencoba menusukkan keris ke arahku. Kidung dengan gesit mendorongku. Akhirnya Kidunglah yang tertusuk. Darah.

Dengan penuh kemarahan. Ku lempar vas bunga ke arahnya. Sehingga ia terjatuh. Ku dekati Marsan dan mencoba menusuknya seperti ia menusuk Kidung. Tetapi aku kalah cepat, ia bangkit dari jatuhnya dan menepis keris ditanganku. Tak disangka keris itu menancap pas di dada Winda. Aku berlari menujunya. Terlambat. Ia sudah meninggalkanku sendiri dengan keadaan ini.

Leluhur Semi tidak terima keturunan gandrungnya mati. Ia melemparkan tusuk konde dari rambutnya kearah pas menancap di mata Marsan. Dan.

Aku berdiri kaku seperti dilaminating. Pandanganku kabur. Semuanya berwarna putih. Aku pun berteriak sekuat sisa tenagaku.

“Kadhung dadi gandrung yo wis”

Related Post