Penjara Suci

*Penulis: Alfi Masiatul

Penulis adalah salah siswa kelas XC SMA Nuris Jember

Pertama kali masuk Ponpes Nurul Islam, aku merasa bahwa hari ini teramat istimewa!

“Kaila harus baik-baik di sini!”

Ibu melepasku dengan berucap kata yang menusuk kalbu.

Perkataan itu pula membuat tubuh merasa takut, gematar, dan gugup menjadi satu.

“Dengan sangat kepada seluruh wali santri diharapkan meninggalkan asrama Dalbar!”

Sebuah pengumuman langsung keluar dari TOA. Sungguh hatiku berat hingga tak terasa air mata merembes dahsyat. Tinggal di pondok juga akan membuatku jauh dari orang tua.

“Tenang, Nak.”

Ibu seolah-olah mengerti perasaanku. Rasa tenang segera kudapat. Lalu kami berpisah di gerbang pondok. Aku yakin sekalipun jauh, Ibu akan terasa dekat sebab hati nurani kami selalu terhubung. Begitu pun dengan Ayah.

Itu adalah awal dari kehidupan di Pondok Nuris. Pondok yang terkenal dengan sebutan kampus hijau ini juga membuat jarak yang begitu jauh dengan orang tua. Bahkan, setiap hari Minggu aku selalu menahan rasa cemburu ketika melihat teman-teman dikirim oleh orang tuanya.

“Mengapa kamu nggak pernah dikirim.” Saidah bertanya kepadaku.

Aku menggeleng lemah, tak tahu harus menjawab apa. Padahal, sudah tiga bulan sejak masuk SMA aku tak pernah melihat orang tua. Padahal, rasa rindu selalu datang di setiap sujudku.

“Nanti biar orangtuaku yang mengunjungi orangtuamu ya!”

Aku tak percaya mendengar ucapan Saidah. Temanku yang satu ini memang mengerti benar kondisiku, bahkan ketika ia dikirim orang tuanya juga ikut memberikan rezeki dan perhatian padaku. Tak hanya Sayida, temanku yang lain bernama Aidah juga dekat. Sampai-sampai kami disebut sebagai Trio Santri karena seringnya melakukan aktivitas bersama.

“O ya, Minggu depan orang tuaku bakal ngirim lagi. Sekalian memberi tahu kabar orang tuamu!”

Mendengar itu aku sangat bahagia. Sebab memang selama ini tak ada kabar sedikit pun dari orang tua.

***

Maka hari berganti dengan cepatnya. Orang tua Saidah yang kuanggap seperti orang tua sendiri langsung mengirim kami tak jauh dari Masjid Nurul Islam. Mereka langsung menyilakan aku dan Saidah untuk makan, tentu aku langsung melahapnya hingga habis tak bersisa.

Sementara itu, orang tua Saidah hanya memandangiku dengan perasaan penuh simpati.

“Ada apa?”

Akhirnya aku bertanya itu, setelah menyelesaikan makanan di depan mata.

“Kami ingin mengajakmu pulang.”

Aku tak percaya demi mendengar itu.

“Saidah nggak boleh ikut ya!”

Saidah tampak cemberut, selepas itu ia kembali tersenyum.

Perjalanan menuju rumah segera dilaksanakan. Aku pun menghirup udara yang sekian lama kurindu, lalu sekitar satu jam kami sudah sampai rumah. Tetapi di sana tak ada jejak orang tua. Hanya ada nenek yang mengurusi taman rumah.

Perempuan berkeriput itu langsung memelukku.

“Nek, mana Ayah dan Ibu?”

Nenek tak menjawab pertanyaanku. Ia malah menangis.

“Loh, ada apa?”

Kemudian perempuan itu bercerita jika Ayah dan Ibu meninggal karena kecelakaan sewaktu mau mengunjungiku. Hanya saja nenek tak berani bercerita, ia hanya bisa mengirim uang setiap bulan. Sebab takut jika aku tak fokus dalam berkegiatan di pondok.

“Tetapi, aku berhak tahu kejadian yang sebenarnya, Nek.”

Hanya itu kalimat yang meluncur. Selepas itu cuma pelukan yang menjadi isyarat kesedihan. Sementara itu, Ibu dari Saidah juga menguatkanku.

Setelah mengunjungi makam Ayah-Ibu, aku kembali ke pondok. Hanya saja tangisan yang bisa menjadi bahasaku. Pun kejadian itu membuat Saidah dan Aida kebingungan. Mereka bertanya apa yang terjadi di rumah hingga aku menangis.

“Ayah dan Ibu wafat makanya tidak pernah mengirimku.”

Demi mengucap penjelasan itu, bibirku harus terbata-bata.

“Aku ingin pulang dan tak kuat melanjutkan hidup di pondok ini!”

“Cuma gara-gara itu kamu mau berhenti mondok?” tanya Aida.

(Baca juga: Hikayat Bunga Santri)

Aku melongo mendengar kata “Cuma” dari sahabatku itu

“Seharusnya kamu harus bersemangat, ingat masuk pondok ini adalah impian orangtuamu juga!”

Mengingat itu, aku tersenyum dan melihat gerbang pondok. Di sana aku seperti melihat wajah Ayah dan Ibu yang melambaikan tangan. Tetapi wajah mereka terhalang gerbang yang seakan-akan jeruji besi. Tetapi, jeruji besi ini bukan untuk penjara seperti biasa. Sebab aku tinggal di penjara suci. Dan aku akan menyucikan hati di sini. Seperti impian Ayah dan Ibu.

 

 

Related Post