Kedurhakaan Hati

Penulis: Hilyatul Azhar

Sifat kedurhakaan hati merupakan sifat tercela yang tengah menggoroti hati, sehingga mendorong manusia untuk melakukan perbuatan tercela dan sering berburuk sangka terhadap sesama. Hal tersebut dikarenakan dalam diri manusia terdapat empat sifat, di antaranya.

Sabu’iyah (binatang buas), yakni sifat kebabi-babian. Seseorang yang memilii sifat tersebut biasanya akan menuruti syahwatnya yang menimbulkan sifat seperti tidak tahu malu, jahat, boros, riya’ , dan tama’, dan lain-lain.

(baca juga: Keistimewaan Keturunan yang Shaleh)

Bahimiyah (binatang), yaitu sifat seperti halnya seekor anjing. Mereka yang memiliki sifat tersebut cenderung akan menuruti amarahnya, seperti suka berlaku keji, membanggakan diri, keinginan berbuat kezaliman, dan lain-lain. Syaitaniyah, seseorang yang memiliki sifat setan, maka ia akan menuruti syahwa dan amarahnya, sehingga menghasilkan sifat licik, penuh tipu daya, pengkhianatan, dan lain sebagainya. Rabbaniyah, yakni sifat yang tertanam dalam hatinya, yaitu ilmu, hikmah, keyakinan, pengetahuan akan segala sesuatu (sifat yang terpuji).

(baca juga: Wanita Shalehah Tercipta Hanya untuk Pria Shaleh)

Membersihakn hati dari ketiga sifat tersebut (sabu’iyah, bahimiyah, dan syaitaniyah) itu sangatlah sulit, dikarenakan manusia terlalu lalai akan dirinya dan disibukkan dengan gemerlapnya dunia. Manusia terlalu egois dan hanya memikirkan kesenangan atas segala sesuatu yang ia punya. Dan hal tersebut mengakibatkan tertanamnya sifat iri hati terhadap sesama, riya’ (pamer), dan sifat kesombongan yang tanpa mereka sadar sifat-sifat tersebut telah berada dalam hatinya. Dan sumber dari tiga penyakit hati itu, semata-mata karena ia terlalu cinta terhadap dunia. Oleh karenanya Rasulullah Saw, bersabda yang artinya. “Cinta dunia adalah induk segala kesaahan”. Niatkanlah segala perbuatan dan amal sholih hanya karena Allah Swt bukan karea ingin sanjungan dari banyak orang. Tinggikan sifat-sifat Rabbaniyah dalam hati, agar sifat kotor yang menjadi penyakit hati tidak terus menerus mendorong diri untuk melakukan perbuatan yang keji dan bisa menjadi pribadi islami yang lebih baik lagi.

Penulis merupakan siswa MA Unggulan Nuris, kelas XI PK A. Dia juga aktif sebagai anggota ekstrakurikuler Jurnalistik Website Pesantrennuris.net

 

Related Post